Puncak Kemarau Agustus, Warga Gunungkidul Diminta Hemat Air
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
Kepala Sub Bagian Umum, BPS Gunungkidul, Retno Widiyanti saat memaparkan laju pertumbuhan inflasi di Kabupaten Gunungkidul di Kantor BPS di Kalurahan Baleharjo, Wonosari. Senin (3/11/2025). /Harian Jogja-David Kurniawan.
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—BPS Gunungkidul mencatat inflasi di Bumi Handayani hingga akhir Oktober sebesar 1,86%. Angka ini dinilai masih aman karena ada batas toleransi di 2025 hingga mencapai 3,5%.
Statistik Ahli Pertama, BPS Gunungkidul Ardiyas Munsyianta mengatakan, inflasi masih terjadi di Kabupaten Gunungkidul. Hal ini terlihat dari kajian yang dilakukan karena sejak awal tahun hingga akhir Oktober tercatat inflasi mencapai 1,86%.
Menurut dia, kondisi tersebut bukan menjadi masalah karena ada batas toleransi laju inflasi hingga 3,5%. “Untuk inflasi years on years Oktober juga bukan masalah karena ada di angka 2,61% atau masih di bawah batas toleransi yang ditetapkan,” kata Diyas, Senin (3/11/2025).
Dia menjelaskan, komoditas yang menyumbang inflasi Y-on-Y Oktober 2025 di antaranya emas perhiasan, beras, kelapa, cabai merah, rokok, bahan bakar rumah tangga, telur ayam ras. Adapun penyumbang deflasi dalam periode yang sama di antaranya bawang putih, kangkung, Nangka muda, cabai rawit hingga kentang.
“Kalau dilihat dari pengeluaran, maka angka terbesar inflasi disumbang kelompok makanan minuman dan tembakau sebesar 1,40%,” katanya.
Menurut Diyas, perhitungan inflasi terus dilakukan setiap bulan, yang bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi di Masyarakat. “Pasti tiap bulannya ada perhitungan inflasi mengacu pada indikator yang telah ditentukan dari pusat,” katanya.
Dia optimistis, laju inflasi di Kabupaten Gunungkidul masih akan terkendali. Di dua bulan terakhir di 2025 masih akan terjadi inflasi, namun pertumbuhannya masih seperti bulan-bulan sebelumnya karena kencenderungan harga yang masih fluktuatif.
“Dua bulan terakhir diprediksi masih akan terjadi inflasi, tapi secara akumulasi tidak akan sampai di 3,5%. Jadi, masih dalam batas aman,” katanya.
Kepala Sub Bagian Umum, BPS Gunungkidul, Retno Widiyanti menambahkan, inflasi tidak hanya terjadi pada Month to Month (M-to-M) Oktober sebesar 0,28% dibandingkan yang terjadi pada September. Menurut dia, kelompok makanan minuman dan tembakau menjadi penymumbang terbesar terjadinya inflasi dengan andil 0.18%.
“Komoditas penyumbang utama inflasi pada kelompok ini adalah cabai merah, telur ayam ras dan beras,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
Lionel Messi kembali ke Inter Miami usai sang ayah wafat, namun The Herons kalah dramatis 2-3 dari Leon di Leagues Cup 2026 dan tersingkir.
Saham Roblox anjlok 70% setahun, nilai pasar lenyap Rp1,2 triliun. CFO sebut kurang game viral dan perubahan algoritma jadi biang kerok. Simak selengkapnya.
Striker anyar PSIM Jogja Adrian Dalmau mengungkap perbedaan sepak bola Indonesia dan Spanyol. Jebolan akademi Real Madrid itu juga berbicara soal adaptasi cuaca
Romelu Lukaku resmi bergabung dengan Fenerbahce dari Napoli dengan nilai transfer 6 juta euro. Striker Belgia itu kembali ke Turki setelah 30 tahun
KLH/BPLH menerbitkan Surat Edaran Nomor 16 Tahun 2026 yang melarang pembukaan lahan dengan cara membakar. Kebijakan ini diterapkan untuk mencegah karhutla di te