Pengadaan Seragam Dinas Senilai Rp3,7 Miliar di Gunungkidul Dibatalkan
Pemkab Gunungkidul batalkan pengadaan seragam Rp3,7 miliar karena efisiensi dan dialihkan ke program prioritas daerah.
Aktivitas kapal nelayan di Pantai Baron di Kalurahan Kemadang, Tanjungsari. /Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Lingkungan Hidup menilai semua kawasan pantai di Gunungkidul rawan terjadi abrasi. Sosialisasi terhadap program Pantai Lestari akan terus digalakan untuk upaya pencegahan.
Kepala Bidang Konservasi dan Kerusakan Lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup Gunungkidul, Hana Kadaton Adinoto mengatakan, hasil kajian yang dilakukan sepanjang garis pantai yang membentang dari Kapanewon Girisubo, Tepus, Tanjungsari, Saptosari, Panggang hingga Purwosari rawan abrasi.
Namun, dari jumlah tersebut yang paling sering terjadi abrasi di Pantai Baron, Sepanjang, Drini hingga Krakal di Kapanewon Tanjungsari. “Misalnya di Pantai Baron, sering terjadi abrasi tidak hanya dari terjangan gelombang, tapi juga berasal dari aliran sungai bawah tanah di sana [Baron],” kata Adinoto, Senin (3/11/2025).
Ia menyebutkan, potensi abrasi hampir terjadi setiap tahun. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi cuaca yang berdampak terjadinya gelombang tinggi.
“Faktor manusia juga ada andil. Salah satunya mendirikan bangunan di kawasan sempadan. Jadi, abrasi di sekitar pantai harus dicegah agar tidak semakin parah,” ungkapnya.
Upaya penanganan abrasi bukan hanya tugas dari dinas lingkungan hidup. Pasalnya, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lainnya juga bisa ikut berperan untuk optimalisasi dalam rangka pencegahan maupun penaggulangan.
“OPD seperti dinas pariwisata, DPUPRKP, BPBD, Dinas Kelautan dan Perikanan. Langkahnya, bisa dilaksanakan dengan penanaman pohon untuk mencegah abrasi,” katanya.
Meski demikian, untuk pelaksanaan di Dinas Lingkungan Hidup, upaya yang dilakukan masih sebatas sosialisasi. Keterbatasan anggaran menjadi kendala pelaksanaan program penanganan abrasi di sepanjang Pantai Gunungkidul.
Menurut dia, upaya yang dilakukan dengan menggalakkan program Pantai Lestari. Sosialisasik menekankan kepada pelaku wisata maupun kelompok sadar wisata hingga unsur masyarakat di kawasan pesisir agar lebih menjaga kawasan sempadan pantai.
Di sisi lain, juga mendorong gerakan penghijauan untuk mencegah terjadinya abrasi yang semakin parah. “Memang anggaran kita [Dinas Lingkungan Hidup Gunungkidul] masih terbatas sehingga program yang dijalankan sebatas pembinaan maupun sosialisasi pentingnya menjaga kelestarian, termasuk didalamnya di kawasan pantai,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Gunungkidul batalkan pengadaan seragam Rp3,7 miliar karena efisiensi dan dialihkan ke program prioritas daerah.
Eks pekerja RSU Griya Mahardhika Jogja menuntut pembayaran gaji empat bulan dalam aksi damai di Bantul. Mediasi ketiga dijadwalkan 1 Juli 2026.
Pajak nol persen impor suku cadang pesawat memasuki tahap harmonisasi. Kemenhub berharap kebijakan segera berlaku untuk menekan biaya maskapai.
Pasutri asal Candimulyo meraih dua penghargaan pada Bupati Award 2026 Kabupaten Magelang berkat inovasi gula semut dan pertanian modern.
PT Importa Jaya Abadi (Importa) meraih penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas pencapaian penjualan 1 juta unit lemari pakaian besi
Kasus Ebola di Kongo meningkat. Dosen UMY mengingatkan Indonesia memperkuat kewaspadaan, deteksi dini, dan sistem kesehatan menghadapi ancaman penyakit menular.