11 Juta Turis Datang, Industri Pariwisata Jogja Kelola Sampah Mandiri
Dinpar Kota Jogja mendorong hotel, restoran dan usaha wisata mengelola sampah mandiri melalui PARAMITA demi pariwisata berkelanjutan.
Pasar Sentul Jogja - dok/Harian Jogja
Harianjogja.com, JOGJA—Sejumlah pedagang Pasar Sentul mengeluhkan sepinya pembeli dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi ini membuat omzet pedagang menurun drastis hingga kesulitan membayar biaya retribusi pasar.
Salah satu pedagang rujak es krim, Sri Rahayu, mengatakan penjualannya kini jauh menurun dibandingkan saat masih berjualan di Alun-Alun Sewandanan. Saat itu, ia mampu menjual hingga 100 porsi per hari, sedangkan kini di Pasar Sentul hanya sekitar lima porsi per hari.
“Sekarang paling cuma lima porsi per hari,” ujarnya saat ditemui di Pasar Sentul, Selasa (4/11/2025).
Dengan kondisi tersebut, omzet yang diperoleh per hari maksimal sekitar Rp100.000. Jumlah itu menurutnya jauh dari sebelumnya yang bisa mencapai jutaan rupiah.
Sri mengaku hal ini cukup memberatkan, terutama karena pedagang masih diwajibkan membayar retribusi sebesar Rp700.000 setiap empat bulan.
Menurutnya, pembeli yang datang ke area kuliner Pasar Sentul sebagian besar merupakan petugas dan pedagang di pasar itu sendiri, bukan pengunjung umum. “Yang beli orang pasar sendiri, petugas keamanan dan ketertiban (Kamtib), bakul di bawah,” katanya.
Ia menilai lokasi kios kuliner yang berada di bagian dalam pasar membuatnya sulit terlihat dari luar sehingga tidak menarik banyak pengunjung.
“Harapan kami pasar bisa kembali ramai, soalnya sekarang sehari kadang enggak ada yang beli,” ujarnya.
Sri menambahkan jumlah pedagang yang masih aktif berjualan di area kuliner Pasar Sentul juga semakin sedikit. Dari sekitar 30 kios yang tersedia, kini hanya 10 kios yang masih beroperasi.
“Yang aktif cuma sepuluh, pagi tujuh, malam tiga [kios yang beroperasi]. Ada yang jual gado-gado, jus, buka dari jam 09.00–16.00 WIB,” katanya.
Ia berharap pemerintah dapat memberikan keringanan seperti pembebasan retribusi sebagai bentuk dukungan bagi pedagang kecil agar tetap bisa bertahan.
Sementara itu, pedagang kupat tahu dan ketoprak, Supriyatin, menyayangkan meski kondisi Pasar Sentul kini sudah bersih dan tertata, jumlah pembeli justru terus menurun.
“Pengunjung malah terus menurun. Tempatnya bersih dan bagus, tapi ya tetap sepi [pembeli]. Banyak makanan [stok penjualan] yang terbuang,” ujarnya.
Para pedagang berharap ada perhatian dari Pemkot Jogja agar Pasar Sentul kembali ramai dan dapat menjadi salah satu pusat kuliner yang diminati masyarakat seperti sebelumnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dinpar Kota Jogja mendorong hotel, restoran dan usaha wisata mengelola sampah mandiri melalui PARAMITA demi pariwisata berkelanjutan.
DPRD Gunungkidul mendorong tambahan Rp400 juta untuk dropping air karena alokasi 3.000 tangki diperkirakan habis sebelum kekeringan berakhir.
Pemerintah menyiapkan tanda kehormatan HUT ke-81 RI. Sejumlah menteri masuk daftar calon penerima, termasuk individu berprestasi di bidang teknologi.
PLN UID Yogyakarta menargetkan penambahan 26 SPKLU di DIY hingga akhir 2026. Saat ini sudah ada 33 unit yang terbangun.
Kubu Febrie Adriansyah buka suara soal kematian Sutrimo. Keluarga menyebut almarhum telah lama mengidap diabetes.
Lakon Tatu membawa kisah cinta, kesetiaan, dan luka pasca-Perjanjian Giyanti hingga mengantar Sleman meraih Penyaji Terbaik I.