Tiket Ludes 15 Menit, MJM 2026 Siap Dongkrak Wisata Jogja
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
Ilustrasi protes tambang Sungai Progo./Harian Jogja
Harianjogja.com, JOGJA— Ratusan penambang pasir Sungai Progo dari Bantul dan Kulonprogo mengaku tidak bisa bekerja selama sembilan bulan lantaran izin penambang rakyat (IPR) belum dapat diterbitkan Pemda DIY.
Hambatan utama berasal dari regulasi yang tidak memperbolehkan penggunaan pompa mekanik, sementara sebagian besar penambangan berada di kawasan palung sungai.
Ketua Perkumpulan Penambang Progo Sejahtera (P3S), Agung Mulyono, mengatakan izin IPR terakhir kali diterbitkan pada 2019 dan berakhir pada 2024. “Izin enggak bisa diperpanjang,” ujarnya, Jumat (14/11/2025).
Sejak izin berakhir, sekitar 840 penambang tidak bisa kembali bekerja. “Jika dikalikan dengan jumlah keluarga, itu bisa ribuan orang yang hidupnya bergantung pada tambang ini,” katanya.
Agung menjelaskan pengajuan izin baru terkendala Rekomendasi Teknis (Rekomtek) dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu-Opak yang melarang penggunaan pompa mekanik dalam IPR. Padahal, penambang di palung sungai tidak memungkinkan bekerja secara manual. “Kedalaman dua meter saja butuh pompa mekanik. Kalau pakai cangkul dan cengkrong enggak bisa,” ungkapnya.
Ia menegaskan penambang rakyat tidak menggunakan alat berat dan hanya mengandalkan pompa mekanik. Pekerjaan ini juga telah dilakukan secara turun-temurun oleh warga di sekitar sungai sejak 1987. “Kami memang enggak punya pilihan kerja lain. Dari dulu ya kerja di tambang itu,” paparnya.
Menanggapi persoalan tersebut, Sekda DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti menjelaskan masalah penambangan rakyat di Sungai Progo bukan hanya soal alat, tetapi juga berkaitan dengan zonasi. “Tata ruang sudah menentukan zona merah yang tidak boleh ditambang. Yang memungkinkan itu hanya di palung,” katanya.
Namun, penambangan di palung justru membutuhkan pompa mekanik. Karena itu, Pemda DIY meminta BBWS Serayu-Opak melakukan kajian ulang terkait aturan penggunaan alat. “Analisis diperjelas sampai kemungkinan teknisnya seperti apa. Misalnya apa yang bisa dilakukan di pinggir sungai dan apa yang memungkinkan di palung,” ujarnya.
Ia menekankan kajian harus memuat kaidah pertambangan yang baik, terutama soal pengelolaan lingkungan dan keselamatan. “Harus ada batasan, berapa yang boleh diambil, dan bagaimana pengawasannya. Itu penting,” jelasnya.
Selain itu, aturan perlu disinkronkan dengan tata ruang sehingga bisa dibuat pengecualian bila diperlukan. “Kalau tata ruang sudah mengatur wilayah mana yang boleh ditambang, ya itu yang dipakai. Lalu BBWS menyesuaikan secara teknis,” paparnya.
Kajian tersebut akan melibatkan akademisi dari UGM dan UMY, serta para penambang. “Agar hasilnya komprehensif, akademisnya ada, teknisnya ada, dan pelaku lapangannya juga dilibatkan,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
Wacana pembatasan BBM subsidi untuk desil 9-10 berpotensi berdampak pada 51 juta warga kelas menengah dan calon kelas menengah.
Kejagung memastikan kasus transfer pricing PT Toba Pulp Lestari berbeda dari laporan Purbaya Yudhi Sadewa dan rugikan negara Rp2 triliun.
DPRD DIY mengingatkan warga tidak mudah percaya isu kerusuhan Agustus dan meminta masyarakat lebih cermat memilah informasi.
Prabowo meresmikan 3.395 jembatan TNI-Polri dan 3.000 sumber air bersih TNI AD di seluruh Indonesia pada 13 Agustus 2026.
Gempa Kolombia menewaskan 265 orang dan merusak 53.526 rumah. Presiden Abelardo de la Espriella menetapkan status darurat ekonomi.