Kasus Baru HIV di Kota Jogja Turun, Ada Temuan 41 Kasus hingga Juni 2026
Dinkes Kota Jogja mencatat 41 kasus baru HIV hingga triwulan II 2026, turun dibandingkan 118 kasus pada 2024 dan 98 kasus pada 2025.
Sejumlah alat berat dikerahkan untuk membersihkan timbunan sampah di depo yang ada di wilayah Kota Jogja belum lama ini. - Harian Jogja/Yosef Leon
Harianjogja.com, JOGJA—Pemkot Jogja mengambil langkah percepatan pengolahan sampah organik melihat kondisi Depo Mandalakrida dan Depo Gembira Loka yang kerap penuh. Salah satu strategi yang kini ditempuh yaitu pembangunan puluhan biopori jumbo di sekitar dua depo tersebut sebagai upaya mengurai sampah dari tingkat wilayah.
Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo, menjelaskan Pemkot menargetkan pembangunan 60 biopori jumbo yang akan ditempatkan di area sekitar depo dan titik-titik yang berdekatan dengan wilayah transporter.
“Biopori jumbo ini akan ditempatkan dekat dengan [wilayah] transporter sehingga dapat meringankan beban kerja transporter,” ujarnya, Minggu (16/11/2025).
Menurut Hasto, biopori jumbo diharapkan mampu memangkas volume sampah organik yang selama ini dibawa transporter ke depo. Ia menjelaskan bahwa pemilahan sampah organik dan anorganik sebenarnya sudah dilakukan oleh transporter di masing-masing kelurahan.
Hanya saja, kapasitas depo yang sering penuh memunculkan kebutuhan percepatan pengolahan sampah langsung dari sumbernya. Dengan adanya biopori jumbo, lanjutnya, transporter dapat langsung menyalurkan sampah organik hasil pemilahan ke fasilitas tersebut sebelum menuju depo.
“Seluruh transporter harus memperkuat upaya pengurangan sampah sebelum masuk depo,” tegasnya.
Hasto berharap sampah yang masuk ke depo nantinya hanya berupa residu, sementara sampah organik maupun anorganik dapat ditangani tuntas di tingkat wilayah.
Pemkot juga telah mengundang transporter dari dua depo itu untuk mengikuti sosialisasi terkait mekanisme penggunaan biopori jumbo. Tujuannya agar proses pengolahan sampah dapat berjalan maksimal dan terstandar di seluruh wilayah.
“[Sampah] yang masuk ke depo hanya residu, [sampah] organik dan anorganik harus selesai di wilayah,” imbuhnya.
Hasto mengatakan percepatan pengolahan sampah di sumbernya menjadi sangat penting menjelang penerapan kebijakan penutupan penuh TPST Piyungan. Kota Jogja perlu memastikan setiap wilayah mampu mengelola sampah secara mandiri agar beban depo tidak semakin tinggi.
Ia juga mendorong perangkat kemantren dan kalurahan memastikan pemilahan sampah berjalan baik, serta mengajak masyarakat memperkuat kesadaran dalam mengurangi sampah yang harus ditangani Pemkot.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dinkes Kota Jogja mencatat 41 kasus baru HIV hingga triwulan II 2026, turun dibandingkan 118 kasus pada 2024 dan 98 kasus pada 2025.
KPK mengecek aset glamping 1,5 hektare di Ciater, Subang, yang diduga milik polisi Yayat Sudrajat dan terkait kasus suap Pemkab Bekasi.
Komisi C DPRD DIY mengecek talud bronjong 74 meter di Kali Kuning Sleman sebagai antisipasi erosi dan longsor saat musim hujan.
Krisna Septiana lolos final kayak tunggal putra Asian Games Aichi-Nagoya 2026 meski finis peringkat 15 pada semifinal.
Polisi memperluas pemeriksaan kasus dugaan pungli food truck di Alkid Jogja. Hingga 30 September 2026, 14 orang telah dimintai keterangan.
Kemarau di Sleman diprediksi lebih panjang hingga Desember. DP3 meminta petani mengatur pola tanam dan mengantisipasi keterbatasan air.