KONI DIY Bangun Simpalawa, Data Atlet Kini Serba Digital
KONI DIY mengembangkan aplikasi Simpalawa untuk pengelolaan data atlet, pelatih, dan wasit berbasis digital di DIY.
Lalu lintas di Jalan Parangtritis. - Antara
Harianjogja.com, BANTUL—Maraknya kendaraan wisatawan yang lolos tanpa membayar retribusi di Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) Parangtritis mendorong Koordinator TPR Parangtritis, Rokhmad Ridwanto, mengusulkan pembangunan lajur khusus di titik TPR yang baru. Kondisi itu terutama banyak terjadi pada hari-hari sepi kunjungan.
Menurut Rokhmad, ketiadaan jalur khusus membuat pengendara mudah melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi, sehingga petugas kesulitan melakukan penghentian tanpa risiko kecelakaan.
“Kalau yang lolos-lolos itu memang masih ada apalagi saat tidak ramai atau selain akhir pekan. Pengendara yang kencang itu sulit dihentikan dan berisiko kalau tertabrak,” ujarnya, Selasa (25/11/2025).
Ia membandingkan situasi tersebut dengan TPR lama yang memiliki pemisahan jalur bus, mobil, dan motor. Pola itu dinilai lebih efektif untuk pengawasan serta mengurangi peluang pengendara menerobos tanpa membayar retribusi.
“Minimal ada jalur bus, mobil, dan motor sendiri-sendiri sehingga lebih terkondisi dan usulan ini sudah kami sampaikan ke Dinas Pariwisata,” katanya.
Rokhmad mengakui maraknya kendaraan lolos berdampak pada kurang optimalnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor pariwisata. Meski begitu, ia tetap berharap lonjakan wisatawan pada akhir tahun bisa mendongkrak capaian pendapatan yang dipatok Rp49 miliar.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Bantul, Saryadi, membenarkan bahwa seluruh TPR di Bantul saat ini belum berada dalam kondisi ideal. Keterbatasan lahan dan status jalan yang merupakan Jalan Nasional menjadi kendala utama penataan TPR agar lebih aman dan representatif.
“Memang kami terkendala dengan lahan dan itu statusnya Jalan Nasional. Kami tidak bisa bangun TPR yang melintang seperti di utara atau yang lama,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat petugas harus menghadang kendaraan langsung di jalan, situasi yang dinilai rawan bagi keselamatan. Sebagai solusi jangka panjang, Dinas Pariwisata tengah menjajaki opsi pengadaan lahan baru sekaligus mendorong penurunan status jalan di titik perempatan JJLS agar dapat dijadikan jalur khusus pemungutan retribusi.
“Ke depan kami coba cari tanah yang memadai serta status jalan diturunkan jadi jalan kabupaten minimal, sehingga bisa dibuat lajur agar lebih optimal,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
KONI DIY mengembangkan aplikasi Simpalawa untuk pengelolaan data atlet, pelatih, dan wasit berbasis digital di DIY.
Prabowo kunjungi Museum Marsinah Nganjuk, soroti sejarah buruh Indonesia dan perjuangan hak pekerja serta penghormatan pahlawan nasional.
BNNP DIY perkuat pencegahan narkoba dengan kearifan lokal dan sinergi masyarakat untuk wujudkan Yogyakarta bersih narkoba.
Kompetisi 76 Indonesian Downhill 2026 hadir lebih ekstrem di Bantul. Trek baru lebih curam, cepat, dan menantang rider elite.
Wisata Gunungkidul ramai 41.969 pengunjung saat libur panjang. PAD tembus Rp516 juta, pantai masih jadi favorit wisatawan.
Pemkab Bantul memantau harga pangan usai rupiah melemah. Sejumlah komoditas lokal masih aman, warga diminta tidak panic buying.