Komisi A DPRD Jogja Dorong Seni Jalanan Dikurasi dan Punya Lokasi Khusus
Komisi A DPRD Jogja mendorong seni jalanan dikurasi dan diarahkan ke lokasi khusus agar aktivitas budaya tidak disamakan dengan mengemis.
Kraton Jogja./Harian Jogja
Harianjogja.com, JOGJA—Isu perubahan iklim kembali menjadi sorotan di Kota Jogja menyusul terjadinya cuaca ekstrem berupa angin kencang yang menumbangkan puluhan pohon hingga menelan korban jiwa. Merespons kondisi tersebut, Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada (Pustral UGM) mendorong penguatan kawasan Jeron Beteng sebagai zona rendah emisi guna menekan dampak perubahan iklim di kawasan perkotaan.
Peneliti Pustral UGM, Ikaputra, menyebut rangkaian kejadian angin kencang disertai hujan berintensitas tinggi yang melanda Daerah Istimewa Yogyakarta dalam beberapa waktu terakhir sebagai manifestasi nyata dari perubahan iklim global yang dampaknya kian terasa di tingkat lokal.
“Kita punya badai topan [angin kencang] di Jogja. Walaupun datanya tercatat puluhan pohon tumbang, faktanya ada korban jiwa dan kebetulan terjadi di sekitar UGM. Ini bukti bahwa isu perubahan iklim itu nyata,” katanya saat ditemui di Pasar Ngasem, Minggu (1/2/2026).
Ikaputra menjelaskan, perubahan iklim global tidak terlepas dari akumulasi emisi karbon yang terus dihasilkan aktivitas manusia, dengan sektor transportasi menjadi salah satu penyumbang terbesar pencemaran udara di kawasan perkotaan.
“Penyebabnya sederhana, emisi karbon dari knalpot kendaraan, transportasi, industri, bahkan aktivitas rumah tangga. Kalau kendaraan itu dinyalakan bersamaan, itu racun. Satu-satunya jalan agar bencana anomali tidak terus terjadi adalah mengurangi emisi,” ujarnya.
Atas dasar itu, ia menilai diperlukan langkah nyata dan berkelanjutan untuk menekan emisi karbon, salah satunya melalui pembatasan penggunaan kendaraan pribadi, terutama untuk mobilitas jarak pendek di kawasan budaya dan destinasi wisata.
Lebih lanjut, Ikaputra mendorong kawasan Jeron Beteng dikembangkan sebagai kawasan rendah emisi karena praktik hidup selaras dengan alam yang menekan emisi sejatinya telah lama diterapkan di wilayah tersebut.
“Masuk ke kompleks Kraton tidak ada kendaraan bermotor, semua jalan kaki, tidak bising, bisa mendengar kicauan burung. Ini sudah dipraktikkan sejak zaman Mangkubumi I,” katanya.
Ia menambahkan, filosofi Hamemayu Hayuning Bawana yang mengajarkan upaya memperindah serta menjaga keseimbangan bumi tercermin dalam tata ruang dan perilaku masyarakat di sekitar Kraton Jogja, termasuk kampung-kampung di kawasan Taman Sari yang sejak dulu membatasi kendaraan bermotor memasuki gang permukiman.
Dorongan Pustral UGM tersebut, menurut Ikaputra, sejalan dengan kebijakan Pemerintah Daerah DIY dalam penerapan Malioboro sebagai kawasan penuh pejalan kaki yang ditujukan untuk menurunkan tingkat emisi di pusat kota.
Kepala Dinas Perhubungan DIY, Chrestina Erni Widyastuti, menyatakan dukungan terhadap pengembangan Jeron Beteng sebagai kawasan rendah emisi. Menurutnya, pengurangan emisi bukan sekadar kebijakan transportasi, melainkan investasi jangka panjang bagi kesehatan masyarakat dan kelestarian lingkungan Kota Jogja.
“Kami sangat mendukung. Apa yang dimulai di Malioboro harus mengalir ke Jeron Benteng. Tanpa komitmen bersama, hal ini tidak akan terwujud,” katanya.
Sementara itu, Kepala Balai Pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofi, Aryanto Hendro Suprantoro, menyampaikan bahwa upaya mewujudkan kawasan nol emisi sejalan dengan nilai-nilai Sumbu Filosofi Jogja yang telah diwariskan selama ratusan tahun dan tetap relevan dalam menjawab tantangan lingkungan masa kini.
“Sumbu Filosofi selalu menginspirasi. Hari ini kita melihat bentuk inspirasi nyata untuk menciptakan lingkungan nol emisi. Semoga nilai-nilai ini terus menjaga peradaban Kota Jogja,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Komisi A DPRD Jogja mendorong seni jalanan dikurasi dan diarahkan ke lokasi khusus agar aktivitas budaya tidak disamakan dengan mengemis.
Italia menang 4-1 atas Turki di UEFA Nations League. Pio Esposito mencetak gol sekaligus mengukir catatan sejarah bersama Azzurri.
29 September 2026 diperingati sebagai Hari Sarjana Nasional, Hari Jantung Sedunia, hingga Save the Koala Day. Simak enam momen pentingnya.
Prakiraan cuaca DIY Selasa, 29 September 2026: mayoritas cerah berawan, suhu 22–34°C, kelembapan 44–98 persen. Cek rincian per kecamatan.
Pemkab Kulonprogo merotasi sejumlah pejabat dan mengisi jabatan kosong dengan mengoptimalkan manajemen talent pool ASN.
Maarten Paes menyebut suporter menjadi pemain ke-11 Timnas Indonesia saat bermain 10 orang melawan Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026.