Kisah Nurul, Penumpang Disabilitas yang Rutin Naik Kereta

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Kamis, 24 September 2026 16:17 WIB
Kisah Nurul, Penumpang Disabilitas yang Rutin Naik Kereta

Nurul rutin naik kereta dengan satu tongkat. Ia mengandalkan asistensi petugas KAI saat berjalan jauh hingga naik dan turun kereta.

Harianjogja.com, JOGJA—Bagi Nurul Saadah Andriani, perjalanan naik kereta bukan sekadar soal tiba di stasiun lalu masuk ke gerbong. Ada jarak yang harus diperhitungkan, keseimbangan yang perlu dijaga, hingga kebutuhan meminta bantuan petugas ketika kondisi fisiknya tidak memungkinkan berjalan terlalu jauh.

Di tengah kesibukan Stasiun Yogyakarta, Nurul tetap beraktivitas dengan satu tongkat di tangannya. Kaki kirinya terkena polio sejak berusia dua tahun sehingga berjalan dalam jarak jauh dapat membuat kakinya terasa berat dan keseimbangannya berkurang.

Kondisi tersebut sempat semakin menyulitkan ketika kakinya mengalami cedera. Beberapa waktu lalu, setelah tiba di Stasiun Yogyakarta, Nurul harus berhenti karena perjalanan menuju kereta masih harus ditempuh.

Saat itu, dia khawatir kehilangan keseimbangan jika memaksakan diri berjalan. Nurul kemudian meminta bantuan seorang porter.

Porter tersebut langsung mencari petugas. Tak lama kemudian, sebuah kursi roda datang dan Nurul didorong menuju kereta, sedangkan porter membantu membawa barang bawaannya.

“Porternya langsung ke sana menyampaikan ke petugas dan kembali sudah dengan kursi roda,” tuturnya, Rabu (23/9/2026).

Meminta Bantuan Bukan Berarti Kehilangan Kemandirian

Bagi Nurul, bantuan tersebut memang terlihat sederhana. Namun, kehadiran kursi roda dan petugas membuatnya dapat melewati bagian perjalanan yang sulit tanpa harus mempertaruhkan kondisi fisiknya.

Cedera yang dialaminya kini telah berlalu. Meski demikian, pengalaman tersebut membuat Nurul semakin terbiasa menyampaikan kebutuhannya kepada petugas ketika hendak bepergian.

Nurul bukan tidak mampu berjalan. Dalam kondisi normal, dia masih dapat berjalan secara mandiri menggunakan satu tongkat.

Hanya saja, kemampuan fisiknya memiliki batas. Setelah berjalan sekitar 100 meter, kakinya mulai terasa berat.

Karena itu, ketika hendak menuju kereta, Nurul tidak lagi ragu meminta bantuan. Petugas biasanya mengantarnya hingga pintu kereta.

Sesampainya di stasiun tujuan, dia juga meminta asistensi agar dapat turun dari kereta dengan lebih aman.

“Saya minta dijemput petugas dari sana pakai kursi roda juga. Jadi kebutuhan saya untuk mendapatkan asistensi dalam proses naik dan turun kereta sudah selesai,” katanya.

Menurut Nurul, bantuan tersebut tidak berarti petugas mengambil alih kemandiriannya. Justru dengan bantuan pada bagian perjalanan yang sulit, dia tetap dapat menentukan sendiri kapan dan bagaimana ingin bepergian.

Sejak 2010 Rutin Menggunakan Kereta

Kereta api telah menjadi bagian dari keseharian Nurul. Sejak sekitar 2010, dia rutin menggunakan kereta untuk menunjang aktivitas pekerjaannya.

Frekuensi perjalanannya pun cukup tinggi. Dalam sebulan, Nurul dapat melakukan perjalanan pulang-pergi hingga empat kali dengan rute Jogja-Jakarta, Jogja-Bandung, hingga Jogja-Surabaya.

“Saya aktif banget menggunakan kereta,” ujarnya.

Ada kebiasaan lain yang selalu diperhatikan Nurul ketika memesan tiket. Dia memilih tempat duduk yang relatif dekat dengan toilet.

Pilihan tersebut berkaitan dengan kondisi fisiknya. Berjalan menggunakan tongkat di dalam gerbong yang sedang bergerak membutuhkan kehati-hatian ekstra karena getaran kereta membuat setiap langkah harus diperhitungkan.

“Kalau jauh banget itu agak mikir, karena kereta kan goyang. Jadi saya merasa aman kalau tempat duduknya lebih dekat dengan toilet,” katanya.

Setelah berada di dalam kereta, Nurul biasanya kembali menjalani perjalanan secara mandiri. Tongkat diletakkan di dekat kursi agar mudah dijangkau dan dia tidak selalu membutuhkan bantuan petugas selama perjalanan.

Aksesibilitas Tak Hanya Soal Fasilitas

Pengalaman selama menggunakan kereta membuat Nurul melihat aksesibilitas tidak hanya berkaitan dengan keberadaan kursi roda atau fasilitas khusus. Menurut dia, respons manusia di balik layanan juga menentukan apakah fasilitas tersebut benar-benar dapat digunakan dengan nyaman.

Kebutuhan penyandang disabilitas pun menurut Nurul sangat beragam. Pengguna kursi roda penuh, misalnya, dapat menghadapi tantangan yang berbeda saat berpindah dari stasiun menuju kereta, memasuki gerbong, hingga menggunakan toilet.

“Kalau saya sendiri merasa sangat nyaman. Tapi dengan disabilitas yang berbeda, terutama yang betul-betul harus menggunakan kursi roda, mungkin masih ada yang mengalami kesulitan,” tuturnya.

Dari sisi layanan, Manajer Humas KAI Daop 6 Yogyakarta Feni Novida Saragih mengatakan sejumlah stasiun di wilayah Daop 6 telah dilengkapi fasilitas ramah disabilitas.

Stasiun tersebut meliputi Stasiun Yogyakarta, Solo Balapan, Lempuyangan, Purwosari, Solo Jebres, Sragen, Kadipiro, Kedundang, BIAS, Kemiri, Masaran, dan Kebonromo.

Fasilitas yang tersedia mencakup lima loket difabel, sembilan ruang laktasi, 12 guiding block, dan 22 toilet umum difabel. KAI juga memberikan pelatihan pelayanan inklusif kepada petugas frontliner agar dapat memberikan bantuan yang tepat kepada pelanggan dengan kebutuhan khusus.

“Kami percaya bahwa layanan transportasi publik harus dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat tanpa terkecuali. KAI berkomitmen untuk terus memperluas dan menyempurnakan fasilitas inklusif di seluruh stasiun,” kata Feni.

Pelanggan Disabilitas Naik 200,41 Persen

Data PT KAI menunjukkan penggunaan layanan kereta oleh pelanggan disabilitas juga tercatat dalam jumlah ribuan. Sepanjang Januari-Juni 2026, sebanyak 2.953 pelanggan disabilitas menggunakan tarif reduksi.

Jumlah tersebut meningkat 200,41% dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Bagi Nurul, angka tersebut pada akhirnya berbicara tentang manusia yang ingin tetap bergerak, bekerja, bertemu orang lain, serta melakukan perjalanan pulang-pergi tanpa harus merasa terbatas oleh kondisi fisiknya.

Di tengah kesibukan stasiun, sebuah kursi roda mungkin tampak sebagai fasilitas biasa. Namun, ketika seseorang sedang mengalami kesulitan berjalan, kursi roda yang datang tepat waktu dapat menjadi bagian penting dari perjalanan.

Begitu pula petugas yang bersedia mengantar hingga pintu kereta. Bantuan tersebut tidak membuat Nurul kehilangan kemandiriannya.

Justru karena ada tangan yang membantu ketika dibutuhkan, Nurul dapat kembali melanjutkan perjalanan dengan langkahnya sendiri.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online