Patangpuluhan Perkuat Gizi Keluarga demi Pertahankan Nol Stunting
Kelurahan Patangpuluhan Jogja memperkuat literasi gizi keluarga lewat pelatihan B2SA untuk mempertahankan nol kasus stunting.
Foto ilustrasi pemilahan sampah botol plastik - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Sebanyak 1.700 kepala keluarga (KK) di Kelurahan Warungboto, Umbulharjo, Kota Jogja, telah menjalankan program Mas Jos atau Masyarakat Jogja Olah Sampah. Jumlah tersebut setara sekitar 70 persen dari total 2.500 KK domisili yang tercatat aktif menghasilkan sampah di wilayah itu pada Kamis (5/2/2026).
Capaian ini diperoleh melalui pendataan Dasawisma yang memverifikasi warga benar-benar tinggal dan beraktivitas di Warungboto. Data tersebut menjadi dasar pemantauan berkelanjutan sekaligus evaluasi pelaksanaan program pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Program Mas Jos yang digagas Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menitikberatkan lima langkah utama, yakni memilah sampah, menyetorkan ke bank sampah, mengolah sampah organik, menghabiskan makanan, serta menggunakan wadah berulang.
“Yang sudah melakukan langkah (Mas Jos) satu, dua, tiga itu 1.700 KK dari total sekitar 2.500 KK domisili. Jadi ini benar-benar warga yang tinggal di Warungboto, bukan hanya alamat saja,” ujar Lurah Warungboto, Ety Purnawati, Kamis (5/2/2026).
Ety menjelaskan warga yang telah menerapkan Mas Jos terus dipantau untuk memastikan konsistensi. Pendekatan juga difokuskan kepada kelompok yang belum menerapkan, guna mengetahui kendala dan mencari solusi di lapangan.
“Yang belum itu justru kita sasar. Kenapa belum, kesulitannya apa, itu yang kita dalami,” katanya.
Menurut Ety, tantangan terbesar berada pada kelompok remaja dan usia produktif yang lebih banyak beraktivitas di luar rumah sehingga minim keterlibatan dalam kegiatan wilayah.
“Kebanyakan ibunya sudah paham, sudah memilah, tapi anak-anaknya ini yang belum. Mereka tidak ikut kegiatan wilayah, pagi sampai malam di luar, pulang sudah capek, sampah masih dibuang jadi satu,” ucapnya.
“Ada juga sekitar 10 sampai 15 persen yang mindset-nya ‘saya sudah bayar’. Mereka menganggap urusan sampah sepenuhnya tugas petugas atau transporter,” katanya.
Selain rumah tangga, edukasi juga menyasar pedagang dan pemilik warung. Kelurahan mewajibkan pedagang nonwarga membawa pulang sampahnya sendiri, serta mendorong pengolahan sampah organik seperti buah menjadi pakan maggot sebagai solusi berkelanjutan.
Keberadaan mahasiswa dan anak kos di sekitar kawasan kampus Warungboto juga menjadi perhatian khusus. Pemerintah kelurahan bersama Dinas Lingkungan Hidup, Babinsa, RT, RW, dan PKK melakukan sosialisasi langsung ke rumah indekos.
“Anak kost itu kami kumpulkan bersama induk semangnya. Peran induk semang penting untuk pemantauan. Dari laporan transporter, volumenya tidak banyak, tapi memang belum dipilah. Sekarang sudah mulai ada perbaikan, bungkus-bungkus COD itu sudah terpisah,” ujar Ety.
Upaya peningkatan kesadaran pilah sampah melalui program Mas Jos di Warungboto ini terus diperluas, terutama untuk menjangkau kelompok remaja dan penghuni indekos, sehingga pengelolaan sampah berbasis masyarakat dapat berjalan konsisten dan mendukung target pengurangan sampah Kota Jogja secara berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kelurahan Patangpuluhan Jogja memperkuat literasi gizi keluarga lewat pelatihan B2SA untuk mempertahankan nol kasus stunting.
Renovasi Mandala Krida dikaji UGM selama 5 bulan. Tribun timur yang bergoyang jadi sorotan, Pemda DIY diminta hati-hati.
Sapi jumbo 977 kg asal Klaten terpilih jadi kurban Presiden 2026. Dipelihara peternak muda, lolos uji kesehatan dan siap disembelih.
Jelang peringatan Hari Jadi Ke-110, Kabupaten Sleman dinobatkan sebagai peringkat kedua Kabupaten Paling Maju di Indonesia
Persebaya pesta gol 7-0 atas Semen Padang. Simak jalannya pertandingan, daftar pencetak gol, dan susunan pemain lengkap.
Jelang Iduladha, jasa salon sapi di Boyolali jadi strategi pedagang tingkatkan harga jual. Kisah Darmo bertahan sejak 1980-an.