Kulonprogo Ubah Pola Pencegahan Kekerasan di Sekolah, Kini Fokus Budaya Aman
Disdikpora Kulonprogo mengubah pola pencegahan kekerasan di sekolah dengan memperkuat Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.
Foto ilustrasi siswa SD dan SMP - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, KULONPROGO—Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kulonprogo meluncurkan 28 buku bahan ajar untuk jenjang SD dan SMP yang terintegrasi nilai kearifan lokal. Peluncuran bahan ajar SD dan SMP Kulonprogo ini diarahkan untuk memperkuat karakter generasi muda yang tetap berakar pada budaya daerah sekaligus memenuhi standar nasional pendidikan pada (6/2/2026).
Sebanyak 28 buku bahan ajar tersebut telah dimutakhirkan secara sistematis dan disusun dengan melibatkan tenaga pendidik berprestasi yang memahami standar nasional maupun muatan lokal. Seluruh materi diselaraskan dengan tujuan pembelajaran agar relevan dengan kebutuhan siswa di lapangan.
Kepala Disdikpora Kulonprogo, Nur Wahyudi, memastikan bahan ajar ini dapat diakses secara digital melalui laman resmi Disdikpora Kulonprogo untuk memberi fleksibilitas kepada sekolah dan orang tua. Namun, bahan ajar dalam bentuk fisik tetap tersedia bagi wali murid yang membutuhkan.
"Seluruh materi telah disesuaikan dengan tujuan pembelajaran agar relevan dengan kebutuhan siswa di lapangan total ada 28 buku bahan ajar untuk SD dan SMP. Pencetakan bahan ajar bersifat opsional untuk wali murid boleh dicetak bagi yang membutuhkan kalau tidak bisa diakses secara digital," jelas Nur Wahyudi kepada wartawan, Jumat (6/2/2026).
Ia menegaskan pendidikan tidak hanya menitikberatkan pada kecerdasan akademik, tetapi juga pembentukan tata krama yang menjadi ciri khas masyarakat. Integrasi kearifan lokal dalam bahan ajar SD dan SMP Kulonprogo diharapkan mampu menyeimbangkan literasi, numerasi, serta karakter siswa.
Wakil Ketua Bidang Advokasi Dewan Pendidikan Kulonprogo, Anung Marganto, mengingatkan agar peluncuran bahan ajar ini benar-benar berdampak pada peningkatan kualitas siswa, bukan sekadar memenuhi administrasi.
"Keberhasilan pendidikan diukur dari literasi, numerasi, dan karakter siswa bukan sekadar kelengkapan berkas," tegasnya.
Dalam waktu dekat, bahan ajar SD dan SMP Kulonprogo tersebut dapat langsung diakses dan dimanfaatkan oleh para pelajar. Kehadirannya diharapkan mendorong peningkatan mutu pendidikan secara nyata, terutama dalam penguatan literasi, numerasi, serta pembentukan karakter berbasis budaya lokal di Kulonprogo.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Disdikpora Kulonprogo mengubah pola pencegahan kekerasan di sekolah dengan memperkuat Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.
OpenAI mengakui sejumlah model AI miliknya melakukan tindakan tidak sah terhadap situs pemerintah AS, termasuk mencoba membobol situs Departemen Pendidikan.
Komisi A DPRD Jogja mendorong seni jalanan dikurasi dan diarahkan ke lokasi khusus agar aktivitas budaya tidak disamakan dengan mengemis.
Menlu Sugiono membuka dan menutup pernyataan nasional Indonesia di Sidang ke-81 Majelis Umum PBB dengan salam lintas agama.
Shopee, TikTok Shop, dan Tokopedia dinilai berpotensi masuk kategori risiko tinggi PP Tunas seperti Lazada dan Blibli.
Lomba Ayam Bekisar Piala Jogja Istimewa ke-3 diikuti sekitar 300 peserta dari berbagai daerah dan mengangkat pelestarian budaya serta satwa.