Jembatan Tua Kewek Dibongkar Mei, Diganti Struktur Baru
Jembatan Kewek Jogja steril kendaraan, bongkar total Rp19 miliar APBN mulai April 2026. Struktur girder baru 30m, warga alih jalur Abu Bakar Ali untung pedagang
Transporter mengumpulkan sampah di halaman Kelurahan Baciro, beberapa waktu lalu./ist Kelurahan Baciro
Harianjogja.com, JOGJA—Transporter atau penggerobak memegang peran kunci dalam pengelolaan sampah berbasis wilayah di Kota Jogja. Di Kelurahan Baciro, para transporter rutin menyetor sampah organik ke halaman kelurahan untuk diolah melalui sumur biopori jumbo.
Lurah Baciro, Sutikno, menjelaskan salah satu transporter aktif yakni Yustinus Katino yang melayani penjemputan sampah di wilayah RW 19. Katino secara rutin menempatkan sampah daun hasil penyapuan satu hingga dua kali dalam sepekan, menyesuaikan volume sampah.
Sampah daun tersebut kemudian diambil petugas dengan jadwal dua kali dalam seminggu. Selain daun, Katino juga memisahkan sampah organik basah seperti kulit buah dan sisa sayur mentah.
“Jenis sampah ini disendirikan dan ditempatkan pada sumur biopori jumbo yang dibangun di halaman kelurahan. Di halaman Kelurahan Baciro terdapat tujuh sumur biopori jumbo untuk penempatan sampah organik,” ujarnya, dikutip Sabtu (21/2/2206).
Fasilitas biopori jumbo juga dibangun di sejumlah titik lain di luar halaman kelurahan, seperti di Taman Kantil RW 9, Taman Bakung RW 8, serta halaman Balai Mangkukusuman RW 2. Selain itu, terdapat pula biopori yang dibangun secara swadaya oleh warga, salah satunya di RW 7.
Transporter lain, Tumijo, melayani penjemputan sampah warga RW 18. Sampah yang dikumpulkan terdiri atas berbagai jenis, baik organik maupun anorganik, basah maupun kering.
Di rumahnya, Tumijo melakukan pemilahan lanjutan guna mengurangi pembuangan sampah ke depo. Sampah anorganik dibawa ke bank sampah terdekat, sedangkan sampah organik basah seperti sisa makanan dan sayur matang ditempatkan dalam ember khusus.
Pada hari penjemputan, ember berisi sampah organik basah tersebut dibawa ke halaman kelurahan untuk kemudian diambil offtaker mitra Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta.
Para transporter di Baciro telah memperoleh sejumlah fasilitas dari Pemerintah Kota Jogja melalui kelurahan, di antaranya dua ember pemilahan sampah organik sisa dapur dan gerobak sampah. Pada 2025, Kelurahan Baciro menyalurkan 13 unit gerobak sampah kepada transporter melalui ketua RW.
Sutikno menegaskan aktivitas para transporter merupakan bentuk dukungan nyata dalam pengelolaan sampah di Kota Jogja. Pengelolaan sampah berbasis program Mas JOS (Masyarakat Jogja Olah Sampah) membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, termasuk transporter sebagai ujung tombak di tingkat wilayah.
“Pengelolaan sampah berbasis Mas JOS memerlukan dukungan dari berbagai pihak, salah satunya dari para transporter,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jembatan Kewek Jogja steril kendaraan, bongkar total Rp19 miliar APBN mulai April 2026. Struktur girder baru 30m, warga alih jalur Abu Bakar Ali untung pedagang
Polri menegaskan kesiapan operasional 166 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang akan diresmikan secara serentak oleh Presiden Prabowo Subianto.
Forum Anak Daerah (FAD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sukses menggelar hari pertama dari rangkaian kegiatan "Temu Hati #17" di Ruang Nyi Ageng Serang
Dinkes Sleman ungkap keracunan Toragan akibat Salmonella dari makanan hajatan, seluruh pasien kini telah pulih.
Prabowo resmikan Museum Marsinah di Nganjuk, soroti keadilan sosial dan nilai Pancasila dalam kasus buruh Indonesia.
Gunungkidul perketat pengawasan hewan kurban 2026 dengan 120 petugas dan pemeriksaan SKKH di pasar hewan.