Pansus DPRD DIY: Hama hingga Irigasi Jadi PR Besar Petani
Pansus DPRD DIY menilai perlindungan petani belum optimal. Masalah hama, irigasi, hingga alih fungsi lahan jadi sorotan utama.
Ilustrasi uang. /Bisnis- Dwi Prasetya
Harianjogja.com, JOGJA— Pemotongan dana desa berdampak pada sejumlah program prioritas di tingkat kalurahan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kebijakan tersebut membuat berbagai kegiatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat terpaksa disesuaikan, mulai dari bantuan langsung tunai hingga pembangunan di tingkat pedukuhan.
Wakil Ketua DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta, Umaruddin Masdar, mengatakan keluhan terkait pengurangan dana desa banyak disampaikan para lurah saat dirinya melakukan kunjungan ke sejumlah wilayah.
“Hampir semua lurah meminta dukungan agar disampaikan kepada pemerintah pusat kalau bisa dana desa dikembalikan. Karena memang ada banyak program kegiatan yang prioritas di bawah terpaksa harus disesuaikan dengan anggaran yang ada,” ujar Umar kepada Harianjogja.com, Selasa (10/3/2026).
Menurutnya, pemangkasan dana desa membuat beberapa program harus dikurangi volumenya. Salah satu yang paling terasa adalah bantuan langsung tunai (BLT) yang bersumber dari dana desa serta kegiatan pembangunan di tingkat pedukuhan.
“Bantuan langsung tunai dari dana desa misalnya berkurang volumenya, berkurang nilainya. Program lain di tingkat pedukuhan juga terpaksa dipangkas,” jelasnya.
Umaruddin menilai dana desa selama ini menjadi instrumen penting untuk mendorong pembangunan dari tingkat paling bawah karena desa dinilai paling memahami kebutuhan serta prioritas pembangunan masyarakat setempat.
“Dengan adanya pemotongan ini menurut saya semangat membangun dari bawah itu menjadi sedikit terkoreksi atau terdegradasi. Ibarat mobil yang larinya kencang bisa 100 kilometer per jam, mungkin sekarang tinggal 40 kilometer per jam maksimal,” katanya.
Ia menambahkan dampak kebijakan tersebut dirasakan hampir merata di berbagai wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta. Beberapa kalurahan yang sebelumnya menerima dana desa dalam jumlah besar kini harus melakukan penyesuaian anggaran secara signifikan.
“Ada kalurahan yang kemarin mendapat dana desa lebih dari Rp2 miliar, sekarang jadi sekitar Rp300 juta. Itu kan luar biasa, harus menyesuaikan betul-betul,” ungkap Umar.
Saat ini DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta masih menghimpun berbagai masukan dari pemerintah desa mengenai dampak kebijakan tersebut. Aspirasi tersebut rencananya akan disampaikan kepada pemerintah pusat agar program prioritas di desa tetap dapat berjalan.
“Kami masih mengumpulkan beberapa masukan. Tentu akan kami teruskan ke pemerintah pusat, koordinasi dengan desa-desa agar program-program penting tetap menjadi prioritas utama,” ujarnya.
Namun demikian, Umar mengaku belum menerima laporan rinci mengenai dampak pemotongan dana desa di wilayah Kota Yogyakarta. Sejauh ini temuan yang ia peroleh masih berasal dari sejumlah kabupaten di wilayah DIY.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pansus DPRD DIY menilai perlindungan petani belum optimal. Masalah hama, irigasi, hingga alih fungsi lahan jadi sorotan utama.
Simak cara cetak STNK setelah bayar pajak online lewat SIGNAL. Praktis, tanpa antre, dan resmi berlaku 2026.
Nadiem Makarim tampil dengan gelang detektor saat sidang kasus korupsi Chromebook Rp2,18 triliun. Kini berstatus tahanan rumah.
Pemkab Magelang perkuat data kependudukan untuk tekan kemiskinan. Inovasi pelayanan cepat hingga 1 jam terus dikembangkan.
Pemda DIY buka peluang bantuan lampu Stadion Mandala Krida, namun masih menunggu persetujuan KPK sebelum realisasi.
Googlebook resmi diperkenalkan sebagai laptop AI Gemini generasi baru. Simak fitur, keunggulan, dan jadwal rilis 2026.