Simulasi Bencana di Kepatihan Tingkatkan Kesiapsiagaan Penyelamatan
Pemda DIY gelar simulasi bencana gempa di Kompleks Kepatihan untuk tingkatkan kesiapsiagaan. ASN dilatih penyelamatan diri dan penanganan darurat di Yogyakarta.
Transporter, Jumilah, dan perangkat Kelurahan Gowongan mengecek biopori jumbo beberapa waktu lalu. - Istimewa/Kelurahan Gowongan
Harianjogja.com, JOGJA—Warga di Kelurahan Gowongan, Kemantren Jetis, Kota Jogja ternyata belum sepenuhnya memahami cara menggunakan biopori jumbo dengan benar.
Temuan di lapangan menunjukkan masih banyak sampah anorganik, plastik, bungkus makanan, dan material non-organik lainnya, yang dimasukkan ke dalam lubang resapan yang seharusnya hanya menerima sampah organik itu.
Kondisi ini ditemukan saat kelurahan melakukan pemantauan berkala terhadap biopori jumbo yang telah terpasang di wilayahnya. Pemantauan dilakukan tidak hanya untuk mengecek kondisi fisik alat, tetapi juga mengevaluasi sejauh mana warga memahami fungsinya.
Lurah Gowongan, Tika Adriatiavita, menjelaskan bahwa biopori jumbo dirancang khusus untuk mengolah sampah organik rumah tangga seperti sisa makanan, daun kering, dan limbah organik lainnya yang bisa terurai secara alami.
"Masuknya sampah anorganik ke dalam Biopori Jumbo dapat menghambat proses penguraian, menurunkan fungsi resapan air, serta mengurangi manfaat lingkungan yang diharapkan," ujarnya, belum lama ini.
Untuk mengatasi temuan tersebut, Juru Pemilah Sampah (Jumilah) langsung turun tangan mengeluarkan sampah anorganik yang salah masuk, sekaligus memberikan edukasi kepada warga di lokasi mengenai jenis sampah yang boleh dan tidak boleh dimasukkan ke dalam biopori jumbo.
Kelurahan berharap pemantauan dan edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan dapat meningkatkan kesadaran warga dalam memilah sampah. Pemanfaatan biopori jumbo yang tepat diyakini mendukung pengurangan volume sampah, meningkatkan daya resap tanah, serta menciptakan lingkungan yang lebih bersih.
Biopori jumbo bukan satu-satunya jalur pengelolaan sampah organik di Kelurahan Gowongan. Sampah organik juga ditangani melalui kegiatan peternakan dan komunitas Papa Mama Maggot Gowongan (Papamagow), yaitu warga yang membudidayakan maggot untuk mengolah sampah organik.
Selain itu, kelurahan menjalin kerja sama dengan off taker Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja. "Transporter setiap hari membantu warga untuk mengirimkan sampah organik matang dan mentah di kantor kelurahan sebagai titik kumpul," kata Tika.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemda DIY gelar simulasi bencana gempa di Kompleks Kepatihan untuk tingkatkan kesiapsiagaan. ASN dilatih penyelamatan diri dan penanganan darurat di Yogyakarta.
Pemkot Semarang menginstruksikan OPD dan warga siaga penuh menghadapi kemarau ekstrem 2026 untuk mencegah kebakaran dan gangguan kesehatan.
Distribusi Minyakita melalui BUMN mencapai 50,16%, namun harga rata-rata nasional masih berada di atas HET Rp15.700 per liter.
PDIP Kota Yogyakarta menanam 300 pohon, menggelar simulasi bencana, dan pelayanan kesehatan lansia saat pelantikan pengurus.
Samsung Galaxy Watch Ultra2 hadir dengan fitur kesehatan berbasis AI untuk trail running, diving, dan pemantauan kebugaran harian.
Fenomena upwelling di Waduk Kedung Ombo Boyolali menyebabkan 10 ton ikan mati dan kerugian petani KJA mencapai Rp247 juta.