Maggot Masayu di Bantul Ubah Sisa Dapur Jadi Kas Warga
Warga Kembangputihan, Bantul, mengolah sisa dapur menjadi pakan maggot. Hasil penjualan maggot dimasukkan ke kas untuk kegiatan warga.
Gedung DPRD Bantul./JIBI
Harianjogja.com, BANTUL—Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bantul menanggapi keluhan wisatawan terkait dugaan praktik “nuthuk” atau penetapan harga tidak wajar di kawasan wisata Pantai Depok dan Pantai Parangtritis.
Ketua Komisi B DPRD Bantul, Arif Haryanto, menegaskan pihaknya sejak lama telah mengingatkan pelaku usaha pariwisata agar tidak memanfaatkan momen libur untuk meraup keuntungan berlebihan.
"Pelaku pegiat pariwisata dan UMKM di Bantul sudah kami imbau untuk jangan memanfaatkan momen seperti ini demi mendapatkan keuntungan yang lebih atau nuthuk gitu ya," katanya, Jumat (27/3).
Ia menekankan, praktik semacam ini berpotensi merusak kepercayaan wisatawan dan berdampak jangka panjang terhadap sektor pariwisata Bantul.
Menurutnya, komunitas pelaku usaha memiliki peran penting dalam menjaga etika berjualan dengan saling mengingatkan agar tetap menetapkan harga yang wajar kepada pengunjung.
Perlu Pembinaan dan Pengawasan
Arif berharap adanya pembinaan berkelanjutan dari Dinas Pariwisata Bantul untuk mencegah kejadian serupa terulang.
"Mudah-mudahan nanti ada juga proses pembinaan yang dilakukan oleh teman-teman dari Dinas Pariwisata Bantul. Semoga teman-teman dinas sering memberikan motivasi ke pelaku wisata agar mereka tidak membuat kekecewaan terhadap pengunjung," jelasnya.
Ia menilai momentum libur panjang seperti Lebaran seharusnya dimanfaatkan sebagai ajang promosi positif bagi pariwisata Bantul, bukan justru menimbulkan keluhan dari wisatawan.
Pelayanan yang baik dan harga yang transparan diyakini dapat mendorong wisatawan untuk kembali berkunjung, sekaligus meningkatkan daya saing destinasi wisata di Bantul.
"Tentu yang kasus nuthuk ini harus diselesaikan. Karena itu bagian dari yang membuat citra Bantul jadi kurang baik. Ya tentu pihak terkait sering memberikan ruang kepada para pedagang, sering bertemu. Ya sering diingatkan saja dan diberikan motivasi," urainya.
Dengan pengawasan dan pembinaan yang konsisten, praktik “nuthuk” diharapkan dapat ditekan sehingga citra wisata Bantul tetap terjaga di mata pengunjung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Warga Kembangputihan, Bantul, mengolah sisa dapur menjadi pakan maggot. Hasil penjualan maggot dimasukkan ke kas untuk kegiatan warga.
Kata oke ternyata punya sejarah sejak 1839. Istilah OK pertama kali tercatat di Boston Morning Post sebagai singkatan jenaka.
AI mengubah pendidikan tinggi Tiongkok. Ribuan jurusan ditutup atau ditunda, sementara kampus membuka program chip, robotika, dan AI.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magelang secara resmi meluncurkan perluasan gerakan “Blonjo Warung Tonggo”.
Kapan waktu terbaik membeli tiket pesawat? Simak jarak ideal pemesanan domestik dan internasional serta hari yang bisa dicoba.
Lomba Baris-Berbaris DIY 2026 di Mandala Krida menguji ketahanan pelajar. Simak peserta yang sempat drop hingga daftar juara LBB.