Tiket Ludes 15 Menit, MJM 2026 Siap Dongkrak Wisata Jogja
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
Pembukaan Simposium Internasional Budaya Jawa 2026, di Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Sabtu (11/4/2026)./ist Humas Pemda DIY
Harianjogja.com, JOGJA—Gagasan tentang tata ruang berbasis nilai budaya kembali mengemuka dalam Simposium Internasional Budaya Jawa 2026 yang digelar di Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Sabtu (11/4/2026).
Forum ini menyoroti bagaimana arsitektur dan penataan ruang di Jogja tidak sekadar fisik, tetapi menjadi bagian dari sistem nilai yang menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Simposium yang memasuki tahun kedelapan ini mengusung tema “Architecture, Spatial Planning, and Territory of the Sultanate of Yogyakarta” dan menjadi bagian dari peringatan Tingalan Jumenengan Dalem ke-37 Sri Sultan HB X dan GKR Hemas.
Penghageng Kawedanan Tandha Yekti sekaligus Ketua Panitia, GKR Hayu, menjelaskan tema tersebut diangkat karena relevansinya dengan tantangan pembangunan kota saat ini.
Menurutnya, pengakuan Sumbu Filosofi Jogja sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO menjadi penegas bahwa tata ruang kota dibangun di atas nilai keseimbangan yang telah diwariskan sejak Sri Sultan HB I.
“Fondasi ini telah diletakkan sejak Sri Sultan HB I dan hingga kini tetap menjadi ruh dalam menjaga identitas Jogja di tengah dinamika perkembangan kota,” ujarnya.
Sebanyak 132 abstrak dari berbagai negara diseleksi dan diperdalam melalui proses pendampingan selama berbulan-bulan. Para peneliti lintas generasi kemudian berdiskusi membahas berbagai aspek, mulai dari sejarah hingga perencanaan ruang.
Simposium ini juga menghadirkan pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat. Bersama pemerintah daerah, dibuka layanan informasi melalui leaflet perizinan dan klinik konsultasi pertanahan agar isu tata ruang lebih mudah dipahami publik.
Kehadiran akademisi internasional turut memperkaya diskusi, di antaranya Koji Miyazaki, Verena Meyer, Hélène Njoto Feillard, dan Bakti Setiawan. Perspektif global dipadukan dengan kearifan lokal untuk membaca arah masa depan Jogja.
Selama dua hari, pembahasan dibagi dalam empat subtema, yakni sejarah dan politik; seni, sastra, dan pertunjukan; arsitektur; serta tata ruang dan lanskap. Para pembicara kunci juga berperan sebagai mentor dalam proses seleksi makalah sejak 2025.
Penghageng KHP Nitya Budaya, GKR Bendara, menilai simposium ini terus berkembang dengan kedalaman kajian yang semakin kuat.
“Kolaborasi lintas generasi menjadi kekuatan utama yang memperkaya perspektif sekaligus memperkuat kontribusi akademis,” ujarnya.
Melalui forum ini, Jogja kembali menegaskan posisinya sebagai kota budaya yang terus bergerak. Di tengah laju urbanisasi, nilai-nilai Kasultanan tetap menjadi penuntun dalam menjaga keseimbangan pembangunan dan kehidupan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
LPEM FEB UI mengungkap lima jurusan kuliah yang paling banyak menyumbang pengangguran lulusan S1 di Indonesia. Manajemen berada di posisi teratas, disusul Hukum
Hujan meteor Perseid masih dapat disaksikan dari Indonesia pada 13-14 Agustus 2026. Simak waktu terbaik, cara mengamati, dan lokasi ideal untuk melihat meteor.
Menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, Kimaya Sudirman Yogyakarta menghadirkan dua program spesial sepanjang Agustus 2026
Media Jepang menyoroti fenomena ratusan WNI yang menggunakan nama karakter anime seperti Naruto, Uzumaki, Nobita, hingga Sasuke berdasarkan data Dukcapil Semest
Korban tewas gempa magnitudo 7,4 di Kolombia bertambah menjadi 265 orang. Sebanyak 3.494 warga terluka dan 496 lainnya masih dinyatakan hilang.