3 Proyek Strategis Gunungkidul Masuk Tahap Teken Kontrak
Tiga proyek strategis Pemkab Gunungkidul memasuki tahap penandatanganan kontrak, termasuk pembangunan Kantor Dinas Kesehatan dan Aviary Dome.
Aktivitas di garasi Bus Maju Lancar di Kalurahan Logandeng, Playen, Senin (13/4). Harian Jogja/David Kurniawan.
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— Layanan bus antarkota antarprovinsi (AKAP) milik PO Maju Lancar di Gunungkidul mendadak berhenti selama dua hari sebagai bagian dari evaluasi internal perusahaan. Penghentian ini dilakukan serentak pada sejumlah rute untuk memperbaiki kualitas layanan di tengah persaingan transportasi yang kian ketat.
Penghentian operasional untuk keberangkatan dimulai Selasa (14/4/2026) hingga Rabu (15/4/2026), sedangkan layanan kepulangan dihentikan mulai Rabu hingga Kamis (16/4/2026). Keputusan ini berdampak langsung pada aktivitas penumpang yang biasa menggunakan layanan AKAP dari dan menuju Gunungkidul.
Bagian Umum PO Maju Lancar, Wahyu Danarko, menjelaskan penghentian sementara ini merupakan langkah evaluasi menyeluruh yang melibatkan kru angkutan. “Jadi untuk sementara operasional bus antar kota antar provinsi [AKAP] berhenti selama dua hari,” kata Wahyu, Senin (13/4/2026).
Ia menambahkan evaluasi dilakukan sebagai bentuk pembenahan layanan agar tetap kompetitif. “Persaingan semakin ketat, makanya evaluasi ini penting untuk berbagai pembenahan yang lebih baik,” ujarnya.
Menurut Wahyu, pemberitahuan telah disampaikan kepada agen dan calon penumpang sekitar sepekan sebelum penghentian dilakukan. Hal ini untuk meminimalkan kebingungan di lapangan. “Sudah dibuat pengumuman sejak jauh-jauh hari agar tidak ada yang kebingungan karena sudah mengetahui adanya pengehentian layanan sementara,” katanya.
Dari sisi bisnis, ia mengakui sektor AKAP masih memiliki peluang, meski jumlah penumpang cenderung fluktuatif mengikuti kondisi masyarakat. Pada periode tertentu seperti awal tahun ajaran sekolah, jumlah penumpang biasanya menurun, sementara saat Hari Raya meningkat signifikan.
Dalam operasionalnya, satu armada PO Maju Lancar memiliki kapasitas 30 kursi. Tingkat keterisian saat keberangkatan berkisar 15 hingga 25 penumpang, sedangkan perjalanan kembali ke Gunungkidul rata-rata membawa sekitar 15 penumpang.
Wahyu juga mengungkapkan biaya operasional untuk satu perjalanan pulang pergi mencapai sekitar Rp4,7 juta, mencakup gaji kru, tarif tol, hingga kebutuhan bahan bakar selama perjalanan.
Ia menegaskan evaluasi semacam ini bukan kali pertama dilakukan. Pada 2017, perusahaan juga pernah melakukan evaluasi, meski tanpa menghentikan operasional. “Ini hanya sementara karena evaluasi dilakukan untuk perbaikan layanan yang lebih baik di tengah persaingan armada angkutan yang semakin ketat,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Perhubungan Gunungkidul, Bayu Susilo Aji, mengatakan pihaknya tidak menerima pemberitahuan resmi terkait penghentian layanan tersebut. Meski begitu, hasil koordinasi dengan pengelola terminal menunjukkan bahwa keputusan itu merupakan kewenangan masing-masing perusahaan otobus.
“Tidak ada pemberitahuan, tapi kebijakan itu mutlak jadi kewenangan di masing-masing PO,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tiga proyek strategis Pemkab Gunungkidul memasuki tahap penandatanganan kontrak, termasuk pembangunan Kantor Dinas Kesehatan dan Aviary Dome.
Jaksa Agung memutasi Dirdik Jampidsus dan delapan kajati. Rotasi jabatan dilakukan untuk promosi dan penyegaran organisasi.
Menjaga integritas bukan hanya soal menjalankan aturan, tetapi juga tentang bagaimana setiap insan imigrasi mampu bekerja dengan penuh tanggung jawab
KPK membagi kasus dugaan korupsi dana hibah Jawa Timur ke dalam tiga klaster suap yang melibatkan 21 tersangka.
Sudaryono langsung bekerja menyukseskan Program Makan Bergizi Gratis usai dilantik sebagai Kepala Badan Gizi Nasional.
Disperindag Sleman mengawasi depot air minum isi ulang di Prambanan untuk menjamin keamanan produk menjelang musim kemarau.