Kulonprogo Perketat Pengawasan Hewan Kurban Jelang Iduladha
Dispertapang Kulonprogo memperketat pengawasan hewan kurban menjelang Iduladha 2026 untuk mencegah PMK dan penyakit menular.
Ilustrasi gotong royong.dok Harian Jogja
Harianjogja.com, KULONPROGO — Pelaksanaan Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) Kabupaten Kulonprogo 2026 resmi berakhir setelah menjangkau 12 kapanewon. Program yang dimulai dari Kapanewon Galur sejak awal Mei itu ditutup di Kapanewon Samigaluh dengan capaian signifikan, terutama dalam hal partisipasi masyarakat.
Bupati Kulonprogo, Agung Setyawan, menegaskan bahwa pelaksanaan BBGRM tahun ini membawa pendekatan baru dalam penganggaran pembangunan. Pemerintah daerah menerapkan skema distribusi anggaran yang lebih merata, dengan alokasi rata-rata sekitar Rp1,3 miliar untuk setiap kapanewon.
Menurut Agung, kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga pemerataan pembangunan di tengah keterbatasan fiskal daerah. Ia menyebutkan, seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) memiliki komitmen yang sama untuk tetap memprioritaskan pembangunan infrastruktur.
“Dengan komitmen dan anggaran terbatas, semua OPD tetap memprioritaskan pembangunan infrastruktur. Bahkan di periode ini, alokasi anggaran justru mengalami peningkatan,” ujarnya, Rabu (20/5/2026).
Di sisi lain, Pemkab Kulonprogo juga memastikan program padat karya tetap berjalan. Seluruh kalurahan akan mendapatkan alokasi secara bergiliran sebagai bentuk pemerataan manfaat pembangunan bagi masyarakat.
Meski demikian, Agung mengakui adanya tantangan besar yang dihadapi daerah. Penurunan transfer keuangan dari pemerintah pusat yang mencapai Rp117 miliar hingga Rp154 miliar menjadi tekanan tersendiri dalam pengelolaan anggaran.
Namun, kondisi tersebut tidak mengurangi fokus pemerintah dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, terutama di sektor infrastruktur yang dinilai masih menjadi prioritas utama.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kulonprogo, Jazil Ambar Was’an, menyebutkan bahwa keberhasilan BBGRM juga tercermin dari tingginya swadaya masyarakat.
Sepanjang pelaksanaan 5–19 Mei 2026, total swadaya masyarakat yang berhasil dihimpun mencapai Rp16.619.482.422. Angka tersebut menunjukkan kuatnya semangat gotong royong warga dalam mendukung pembangunan daerah.
“Nilai swadaya ini menjadi indikator bahwa partisipasi dan kebersamaan masyarakat Kulonprogo masih sangat tinggi,” jelasnya.
Tak hanya fokus pada pembangunan fisik seperti corblok jalan, talud, dan poskamling, BBGRM 2026 juga menyasar sektor sosial dan ekonomi. Program ini turut menghadirkan bantuan rumah tidak layak huni (RTLH), kegiatan padat karya, hingga bazar UMKM.
Selain itu, aspek pemberdayaan masyarakat juga diperkuat melalui kegiatan peternakan, budidaya ikan, serta pengelolaan sampah. Pelestarian budaya lokal pun menjadi bagian penting, ditandai dengan penampilan kesenian tradisional seperti ketoprak, angklung, dan tari daerah.
Dengan berakhirnya BBGRM 2026, Pemkab Kulonprogo berharap semangat gotong royong yang telah terbangun dapat terus berlanjut dan menjadi fondasi utama dalam percepatan pembangunan berbasis masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dispertapang Kulonprogo memperketat pengawasan hewan kurban menjelang Iduladha 2026 untuk mencegah PMK dan penyakit menular.
Jadwal KRL Jogja–Solo terbaru 2026 lengkap dari Tugu ke Palur. Tarif Rp8.000, perjalanan cepat, praktis, dan hemat.
DPRD Bantul dukung penataan guru honorer jadi PPPK. Pemkab setop rekrutmen honorer baru hingga 2026.
Jadwal KRL Solo–Jogja terbaru 2026 lengkap dari Palur ke Tugu. Tarif Rp8.000, perjalanan cepat dan efisien.
3 pelaku pembacokan pelajar di SMAN 3 Jogja ditangkap di Cilacap. Polisi masih memburu 3 pelaku lain terkait konflik geng.
Dua kakak beradik tewas dalam kecelakaan melibatkan dua truk di Ngawi. Polisi masih selidiki identitas kendaraan.