Sidang Little Aresha, Jaksa Ungkap Anak Ditenggelamkan di Bak Mandi
Sidang perdana Little Aresha mengungkap dugaan kekerasan terhadap anak, termasuk kepala anak yang disebut ditenggelamkan ke bak mandi.
Foto ilustrasi pemilahan sampah, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.
Harianjogja.com, JOGJA—Kelurahan Giwangan, Kemantren Umbulharjo, Kota Jogja, mulai mengandalkan metode biopori jumbo untuk mendorong warga mengelola sampah organik secara mandiri. Cara ini dinilai lebih praktis, ramah lingkungan, sekaligus mampu mengurangi volume sampah rumah tangga.
Pelatihan pengolahan sampah menggunakan biopori jumbo digelar selama dua hari pada Kamis-Jumat (21-22/5/2026) di Pendopo Kelurahan Giwangan. Kegiatan tersebut difokuskan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan sampah organik agar dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat.
Lurah Giwangan, Dyah Murniwarini, mengatakan pengelolaan sampah sebaiknya dimulai dari sumber utama, yakni rumah tangga. Menurutnya, langkah tersebut akan mempermudah proses pengolahan sampah di tingkat berikutnya.
“Melalui pelatihan ini kami berharap masyarakat bisa memahami cara pengelolaan sampah organik yang mudah diterapkan dan berdampak langsung pada lingkungan,” ujar Dyah.
Dukung Program Mas Jos Kota Jogja
Dyah menjelaskan pengelolaan sampah mandiri juga menjadi bagian dari dukungan terhadap gerakan Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas Jos) yang diinisiasi Pemerintah Kota Jogja bersama Wali Kota Hasto Wardoyo.
Program tersebut menekankan lima langkah utama pengelolaan sampah, mulai dari memilah sampah, mengolah sampah organik, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mengurangi sisa makanan, hingga menggunakan wadah secara berulang.
“Langkah sederhana seperti memilah sampah, mengolah sampah organik, hingga mengurangi sisa makanan harus menjadi kebiasaan sehari-hari,” katanya.
Warga Belajar Membuat hingga Memanen Kompos
Pada hari pertama pelatihan, peserta mendapatkan materi dasar mengenai pengelolaan sampah organik serta pengenalan metode biopori jumbo yang sudah diterapkan di wilayah Giwangan. Materi tersebut menjadi bekal sebelum warga mengikuti praktik langsung.
Selanjutnya, pada hari kedua peserta diajak mempraktikkan pembuatan lubang biopori jumbo, proses perawatan, hingga teknik memanen kompos. Warga juga langsung mencoba membuat biopori agar dapat diterapkan di lingkungan masing-masing.
Metode biopori jumbo dinilai efektif mengurangi volume sampah organik rumah tangga sekaligus menghasilkan kompos yang bisa dimanfaatkan kembali untuk tanaman. Selain itu, lubang biopori membantu meningkatkan daya resap air ke dalam tanah sehingga berpotensi mengurangi genangan saat hujan.
“Dengan cara ini, sampah tidak hanya berkurang, tetapi juga bisa dimanfaatkan kembali dan mendukung lingkungan yang lebih hijau,” ujarnya.
Pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya Kelurahan Giwangan membangun kesadaran warga mengenai pentingnya pengelolaan sampah berkelanjutan. Langkah ini diharapkan mendukung terciptanya lingkungan Kota Jogja yang lebih bersih, sehat, dan ramah lingkungan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sidang perdana Little Aresha mengungkap dugaan kekerasan terhadap anak, termasuk kepala anak yang disebut ditenggelamkan ke bak mandi.
APBD Perubahan Kulonprogo 2026 mengalokasikan Rp8 miliar untuk Bank BPD DIY dan Bank Kulonprogo, tetapi dasar hukumnya disorot DPRD.
Bhutan dinobatkan sebagai negara paling tenang di dunia versi Noise-Free Nations Index 2026 dengan skor 89,44. Simak 10 negara paling tenang dan alasannya
Desta resmi keluar dari Vindes Corp setelah 5 tahun. Presenter itu minta publik tak berspekulasi. Hubungan dengan keluarga VINDES tetap baik
APBD Perubahan Bantul 2026 menaikkan pendapatan Rp28 miliar dan belanja Rp50 miliar, membuat defisit bertambah menjadi Rp154 miliar.
"Menunggu pesan ini" di WhatsApp muncul karena proses enkripsi belum selesai. Cek penyebab dan cara mengatasinya dengan update aplikasi dan koneksi stabil