Sultan Ingin Eks Parkir ABA Disulap Jadi Taman Bunga Cantik
Sultan HB X ingin RTH eks Parkir ABA Jogja jadi taman bunga nyaman, bukan hutan kota. Penataan dimulai dengan anggaran 2026.
Penyaluran sapi kurban Presiden, Gubernur, dan Wakil Gubernur DIY secara simbolis di Pendopo Wiyoto Projo Komplek Kepatihan, Selasa (26/5/2026). Anisatul Umah-Harian Jogja.
Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah Daerah (Pemda) DIY menyalurkan 17 ekor sapi kurban terdiri dari 8 sapi bantuan Presiden dan 9 sapi dari Gubernur dan Wakil Gubernur DIY. Penyerahan hewan kurban secara simbolis dilakukan di Pendopo Wiyoto Projo Komplek Kepatihan, Selasa (26/5/2026).
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY, Eko Aris Nugroho menyampaikan dari 9 sapi bantuan Pemda sudah disalurkan ke Kulonprogo 2 ekor, 7 lainnya diserahkan secara simbolis untuk Puro Pakualaman, Kasultanan, serta 5 kabupaten/kota DIY.
Dia menjelaskan dari 8 sapi bantuan Presiden, 1 ekor merupakan jatah provinsi yang disalurkan ke Sleman dengan bobot paling besar dan masing-masing kabupaten/kota mendapatkan 1 ekor, dan 2 ekor lainnya disalurkan ke istana.
"Bantuannya Gubernur dan Wakil Gubernur ada 9. Kemudian dari Presiden ada 8, total 17 ekor," ujarnya.
Menurutnya bobot menjadi kriteria utama dalam menentukan sapi bantuan Presiden sesuai dengan kriteria pusat, mencari yang terberat di masing-masing kabupaten/kota. Namun dari Kota Jogja tidak ada dan diambilkan dari Bantul. Dari yang terbesar ini, kata Aris, diusulkan ke DPKP DIY kemudian diseleksi berdasarkan bobot.
Ia mengatakan, peternak kerap menyebut bobot sapinya mencapai 1 ton, namun ketika ditimbang kadang-kadang tidak sampai 1 ton. Selain bobot, kesehatan juga menjadi bagian dari kriteria sebelum dibagikan.
"Kalau sedapat mungkin malah seberat-beratnya. Tapi kenyataannya yang terberat kemarin memang dari Kabupaten Gunungkidul 1,1 ton. Kalau yang di Sleman, tadi di bawah 900 tapi informasinya yang terakhir ini lebih dari 900. Tapi pada waktu kemarin diukur, itu kurang dari 900," paparnya.
Pemilik sapi bantuan Presiden, Mustofa, menceritakan sapinya terpilih setelah rombongan kesehatan hewan datang ke kelompok peternak untuk melakukan pengecekan. Saat itu, petugas melihat ukuran sapi miliknya cukup besar dan menyarankan agar didaftarkan sebagai kandidat sapi kurban Presiden.
Dia mengaku menerima saran tersebut dan mendaftarkan sapinya sebagai kandidat sapi kurban Presiden. Berdasarkan pertimbangan bobot dan kesehatan sapi miliknya yang bernama 'Johny Anggoro' masuk.
Setelah terpilih, menurutnya ada perawatan khusus yang dilakukan yakni dengan memberikan makan dengan persentase makan hijauan 40% dan dan comboran 60%. Berat sapinya berdasarkan penimbangan bulan lalu mencapai 8,91 kwintal atau mendekati angka 1 ton.
"Mungkin kalau hari ini bisa lebih dari angka penimbangan yang sebulan yang lalu. Saya pelihara dari pedet, umurnya 3,5 tahun," ungkap peternak dari Bakalan, Sinduadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman.
Menurutnya, pemberian nama Johny karena sapi tersebut merupakan ras dari Swiss, dan Anggoro merupakan nama-nama dari Jawa. Ia mengaku baru pertama kali sapi ternaknya terpilih menjadi sapi kurban Presiden dan dibeli dengan harga Rp85 juta.
"Ini perdana, saya terima kasih sekali dengan Presiden kita ya, Bapak Prabowo yang telah memilih [sapi] saya," ucanya.
Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, mengatakan hewan kurban yang disalurkan bukan hanya membawa nilai ritual, tetapi juga menghadirkan kebahagiaan bagi saudara-saudara kita yang menerimanya.
Menurutnya, dalam konteks kehidupan bermasyarakat, semangat kurban perlu kita perluas menjadi etika kepedulian bahwa keberkahan tidak hanya dirasakan ketika sesuatu berada dalam genggaman kita, tetapi justru ketika mengalir menjadi manfaat bagi orang lain.
"Kurban mengajarkan bahwa rezeki yang dibagi tidak akan mengurangi kemuliaan, melainkan memperluas keberkahan. Atas nama Pemda DIY, kami menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini," ujarnya.
Made berharap hewan kurban ini dapat diterima dengan baik, dikelola secara amanah, dan disalurkan secara tepat kepada masyarakat yang berhak menerimanya.
"Akhirnya, marilah kita jadikan momentum Iduladha sebagai pengingat untuk terus menumbuhkan ketaqwaan, memperkuat ulas asik, dan membangun kehidupan sosial yang lebih rukun, saling menopang, serta penuh keberkahan." (**)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sultan HB X ingin RTH eks Parkir ABA Jogja jadi taman bunga nyaman, bukan hutan kota. Penataan dimulai dengan anggaran 2026.
Mahasiswa di Sleman jadi korban pengeroyokan OTK dini hari. Dua gigi patah, polisi masih selidiki pelaku dan motif kejadian.
Penderita hipertensi tetap boleh makan daging kurban saat Iduladha. Simak batas aman konsumsi, cara memasak, dan tips sehat dari dokter.
Harga bahan pokok di Sleman jelang Iduladha 2026 relatif stabil. Cabai merah keriting naik 19,58%, sementara telur dan ayam justru turun.
Pemprov Jateng raih banyak penghargaan pendidikan 2026, termasuk wajib belajar 13 tahun dan inovasi digital siswa.
Pemda DIY salurkan 17 sapi kurban Iduladha 2026, termasuk sapi Presiden hampir 1 ton dari Sleman.