Balita Korban Penyekapan di Pleret Kini Diasuh Keluarga Besar

Kiki Luqman
Kiki Luqman Jum'at, 05 Juni 2026 13:07 WIB
Balita Korban Penyekapan di Pleret Kini Diasuh Keluarga Besar

Foto Ilustrasi. /Ist-Freepik


Harianjogja.com, BANTUL—Balita berusia tiga tahun yang menjadi korban penyekapan di Kapanewon Pleret, kini dilaporkan dalam kondisi yang semakin membaik. Untuk sementara waktu, anak tersebut diasuh oleh keluarga besarnya guna memastikan proses pemulihan berjalan dalam lingkungan yang aman dan kondusif.

Pendampingan terhadap korban maupun ibunya masih terus dilakukan oleh berbagai pihak. Selain memastikan kondisi anak, perhatian juga diberikan pada pemulihan psikologis ibu korban yang diduga mengalami depresi berat saat peristiwa itu terjadi.

Ketua Satuan Tugas Perlindungan Perempuan dan Anak (Satgas PPA) Kabupaten Bantul, M. Zainul Zain, mengatakan timnya mulai melakukan pendampingan sejak malam ketika kasus tersebut terungkap pada Senin (1/6/2026).

Menurutnya, penanganan dilakukan secara terpadu dengan melibatkan kepolisian, pemerintah kalurahan, tenaga kesehatan, serta tim perlindungan perempuan dan anak.

“Kami mulai mendampingi sejak malam kejadian. Keesokan paginya saat ibunya pulang, kami berupaya menenangkan yang bersangkutan sekaligus menggali keterangan bersama tim dari Polsek, Bhabinkamtibmas, dan puskesmas,” ujar Zainul kepada Harian Jogja, Jumat (5/6/2026).

Dari hasil pendampingan awal, diketahui ibu korban berinisial TKS, 25, diduga mengalami depresi berat. Kondisi tersebut disebut menjadi salah satu faktor yang melatarbelakangi terjadinya peristiwa yang sempat menggemparkan warga setempat.

Karena itu, pendekatan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada perlindungan anak sebagai korban, tetapi juga pemulihan kondisi kejiwaan ibunya agar kejadian serupa tidak terulang pada masa mendatang.

Sehari setelah peristiwa tersebut terungkap, Satgas PPA bersama pihak terkait memfasilitasi mediasi di Polsek Pleret. Pertemuan tersebut dihadiri oleh keluarga dari kedua belah pihak untuk membahas langkah penanganan yang akan dilakukan.

Dalam mediasi itu, suami TKS sekaligus ayah korban memilih menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan setelah memahami kondisi psikologis yang dialami istrinya.

“Pada saat mediasi, pihak suami memahami bahwa kejadian ini dipicu kondisi kejiwaan pelaku. Ada kesepakatan dan pernyataan dari kedua belah pihak yang disaksikan kepolisian, tenaga kesehatan, dan tim pendamping,” kata Zainul.

Pendampingan kemudian berlanjut dengan membawa TKS ke Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) untuk mendapatkan layanan psikologis dan penanganan lanjutan.

Zainul menyebut perkembangan kondisi keluarga tersebut menunjukkan arah yang positif. Ia berharap proses pemulihan dapat berjalan optimal sehingga seluruh pihak dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.

“Alhamdulillah, saat ini semuanya sudah berjalan baik. Ini bukan tindakan yang dilakukan dengan kesengajaan, tetapi dipengaruhi kondisi depresi berat yang dialami pelaku. Karena itu yang perlu dilihat juga adalah latar belakang penyebab terjadinya peristiwa tersebut,” ucapnya.

Meski demikian, perlindungan terhadap korban tetap menjadi prioritas utama. Saat ini balita tersebut masih berada dalam pengasuhan keluarga besar sambil menjalani proses pendampingan yang diperlukan.

“Anak sementara berada dalam pengasuhan keluarganya. Yang terpenting sekarang adalah memastikan kondisi anak maupun ibunya sama-sama mendapatkan penanganan yang tepat,” katanya.

Kasus ini sebelumnya menjadi perhatian publik setelah balita tersebut ditemukan dalam kondisi memprihatinkan di sebuah rumah kontrakan di wilayah Pleret. Polisi dan warga yang melakukan pengecekan menemukan korban dalam keadaan lemas dengan tangan dan kaki terikat serta mulut tertutup lakban.

Kasi Humas Polres Bantul, Iptu Rita Hidayanto, menjelaskan kejadian itu diketahui sekitar pukul 20.50 WIB setelah warga curiga karena tidak mendapat respons saat memanggil penghuni rumah.

“Korban ditemukan dalam kondisi lemas, mulut tertutup lakban, tangan dan kaki terikat,” jelas Rita.

Dari keterangan saksi, ibu korban sempat terlihat keluar rumah seorang diri sekitar pukul 17.00 WIB sebelum kembali sekitar satu jam kemudian. Hingga kini, proses pendampingan terhadap korban dan keluarganya masih terus dilakukan untuk memastikan pemulihan berlangsung secara menyeluruh.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online