Kasus Tiket Masuk Parangtritis Viral, Pengelola Perketat Layanan
Dugaan pungli di TPR Pantai Parangtritis masih didalami. Pengelola meminta wisatawan memeriksa kembali jumlah tiket sebelum meninggalkan loket.
Murid SMPN 1 Bantul mengembalikan ompreng seusai menyantap MBG di sekolah tersebut, Rabu (21/1/2026). Pemkab Bantul menyebut dari target 98 SPPG yang akan didirikan di wilayah ini sudah beroperasi sebanyak 82 SPPG. - Harian Jogja/Yosef Leon
Harianjogja.com, BANTUL—Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bantul masih berlangsung di sebagian besar wilayah. Namun hingga pekan kedua Juni 2026, sebanyak 18 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) masih menghentikan operasional dan menunggu proses verifikasi serta persetujuan dari Badan Gizi Nasional (BGN) sebelum kembali melayani penerima manfaat.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Bantul, Hermawan Setiaji, mengatakan dari total 135 SPPG yang terdaftar di Bantul, sebanyak 102 unit masih beroperasi normal.
Sementara itu, terdapat 15 SPPG yang belum mulai beroperasi dan 18 SPPG lainnya menghentikan sementara layanan karena berbagai kendala teknis maupun administratif.
Menurut Hermawan, penghentian operasional tersebut bersifat sementara dan bukan penutupan permanen.
“Masih menunggu verifikasi dan approval dari BGN,” ujarnya, Kamis (11/6/2026).
Tiga SPPG Terkait Kasus Keracunan
Dari 18 SPPG yang saat ini berhenti beroperasi, tiga unit di antaranya berkaitan dengan kasus keracunan makanan yang sempat menjadi perhatian publik.
Ketiga SPPG tersebut berada di Srihardono, Kapanewon Pundong, serta dua lokasi di Patalan, Kapanewon Jetis. Selain itu, tiga SPPG lainnya menghentikan operasional sementara karena sedang menjalani renovasi fasilitas. Lokasinya berada di Tirtonirmolo dan Tamantirto, Kapanewon Kasihan, serta Argorejo, Kapanewon Sedayu.
Terkendala IPAL dan Administrasi
Pemkab Bantul juga mencatat dua SPPG masih berstatus suspend terkait instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Kedua lokasi tersebut berada di Bangunharjo, Kapanewon Sewon, dan Tirtosari, Kapanewon Kretek. Adapun 10 SPPG lainnya masih menyelesaikan berbagai persyaratan administrasi sebelum kembali memperoleh izin operasional.
Lokasi SPPG tersebut tersebar di sejumlah kapanewon, antara lain Banguntapan, Pandak, Sanden, Kasihan, Piyungan, Sedayu, Jetis, dan Imogiri.
Hermawan menegaskan Pemkab Bantul terus memantau perkembangan seluruh SPPG yang belum maupun yang berhenti beroperasi. Evaluasi dilakukan untuk memastikan setiap unit memenuhi standar keamanan pangan, kelengkapan administrasi, serta kesiapan sarana pendukung sebelum kembali melayani program MBG.
“Evaluasi dilakukan agar layanan tetap memenuhi standar keamanan pangan dan persyaratan yang ditetapkan,” katanya.
Status SPPG Mangiran
Dalam perkembangan terbaru, SPPG Mangiran yang sebelumnya menjadi sorotan akibat persoalan limbah tidak termasuk dalam daftar 18 SPPG yang berhenti beroperasi. Menurut Hermawan, status suspend terhadap SPPG tersebut telah dicabut.
“Suspennya sudah dicabut,” ujarnya.
Meski demikian, SPPG Mangiran belum kembali menjalankan layanan MBG secara penuh karena masih melakukan sejumlah persiapan operasional.
“Jadi yang Mangiran itu baru persiapan untuk beroperasi lagi, sekarang sedang disiapkan semua,” kata Hermawan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dugaan pungli di TPR Pantai Parangtritis masih didalami. Pengelola meminta wisatawan memeriksa kembali jumlah tiket sebelum meninggalkan loket.
Kemenhut mendorong hilirisasi 10 komoditas perhutanan sosial melalui pembentukan klaster untuk memperkuat pasar hingga ekspor.
Sleman mengusulkan 87 formasi CPNS kesehatan ke KemenPAN-RB dan menyiapkan rekrutmen 92 pegawai BLUD untuk memenuhi kebutuhan layanan.
Komunitas Ojol Solusi Bantul membagikan paket sembako kepada driver ojol yang sudah tidak bekerja sebagai bentuk solidaritas dan kepedulian.
Foto Messi menggendong bayi Lamine Yamal pada 2007 kini berujung duel di final Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Spanyol.
Riset kolaboratif mengungkap budaya Toalean di Sulsel berkembang dari tradisi teknologi batu lokal yang telah bertahan selama 40.000 tahun.