Raperda RTRW Gunungkidul Disepakati, Investasi Bakal Lebih Terarah
Raperda RTRW Gunungkidul disepakati DPRD dan bupati untuk ditetapkan menjadi perda. Regulasi baru diharapkan mendorong investasi yang taat aturan.
Aktivitas lalu lintas di depan outlate pertashop yang tutup di ruas jalan Karangmojo-Wonosari di Kalurahan Wiladeg, Kamis (11/6/2026) Harian Jogja/David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax mulai berdampak signifikan terhadap usaha Pertashop di wilayah Gunungkidul. Para pelaku usaha mengeluhkan penurunan penjualan yang cukup tajam, bahkan mencapai hingga 60 persen hanya dalam hitungan hari sejak harga baru diberlakukan.
Pemilik Pertashop di Kalurahan Hargomulyo, Gedangsari, Suharjo, mengungkapkan bahwa lonjakan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter langsung memukul omzet harian. Sebelum kenaikan, penjualan di tempatnya bisa mencapai 800 hingga 1.000 liter per hari. Namun kini, volume penjualan merosot drastis menjadi sekitar 200 liter per hari.
“Penurunannya sangat terasa sejak harga naik. Pembeli langsung berkurang,” ujarnya, Kamis (11/6/2026).
Menurut Suharjo, kondisi ini tidak hanya terjadi di satu lokasi. Ia menyebut hampir seluruh pengusaha Pertashop di DIY mengalami hal serupa. Hal tersebut juga tercermin dari data pemesanan atau delivery order (DO) Pertamax di tingkat daerah.
Sebelum kenaikan harga, total pemesanan Pertamax di wilayah DIY bisa mencapai 90.000 hingga 110.000 liter per hari. Namun, pasca penyesuaian harga, angka tersebut anjlok menjadi sekitar 38.000 liter per hari.
“Dari angka itu saja sudah terlihat penurunannya sangat signifikan,” katanya.
Meski memahami kebijakan penyesuaian harga BBM, para pelaku usaha berharap pemerintah dan Pertamina dapat mempertimbangkan kembali selisih harga antara BBM subsidi dan nonsubsidi. Pasalnya, perbedaan harga yang terlalu lebar dinilai menjadi faktor utama turunnya daya beli masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan.
Suharjo menilai selisih harga idealnya tidak terlalu jauh agar konsumen tetap memiliki pilihan. “Kalau selisihnya sekitar Rp2.000 per liter masih bisa diterima. Tapi kalau sudah lebih dari Rp6.000, jelas berat bagi masyarakat,” ujarnya.
Keluhan serupa juga disampaikan Mahmud, pemilik Pertashop di Kalurahan Jetis, Saptosari. Ia menyebut sebelum kenaikan harga, penjualan di tempatnya bisa mencapai 2.000 liter per hari. Namun kini hanya berkisar 700 liter per hari.
“Turunnya kurang lebih 60 persen. Sangat terasa dampaknya,” kata Mahmud.
Meski demikian, ia mengakui masih ada konsumen yang tetap membeli Pertamax, terutama karena lokasi usahanya berada di jalur wisata dan belum tersedia SPBU di sekitar wilayah tersebut.
Namun, secara umum, kondisi saat ini dinilai cukup menekan keberlangsungan usaha Pertashop. Para pelaku usaha berharap ada kebijakan yang lebih seimbang agar usaha mereka tetap bertahan sekaligus masyarakat tidak terbebani harga BBM yang terlalu tinggi.
Pointer
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Raperda RTRW Gunungkidul disepakati DPRD dan bupati untuk ditetapkan menjadi perda. Regulasi baru diharapkan mendorong investasi yang taat aturan.
Eks Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan hubungan dua arah antara cuaca dan bencana alam, termasuk dampak erupsi terhadap cuaca.
Daftar sesar aktif di Pulau Jawa mencapai 25 sesar. Simak nama sesar dan aplikasi yang bisa membantu memantau gempa.
Port of Jumanah hasil kolaborasi Agate dan Red Dunes Games resmi meluncur global. Gim ini terinspirasi tradisi penyelaman mutiara.
HUT ke-270 Jogja mengusung konsep Autentik Konkret, termasuk lewat kuliner khas untuk mengenalkan identitas Jogja kepada wisatawan.
Jadwal SIM Keliling Ditlantas Polda DIY Kamis 10 September 2026 di Q Homemart Ringroad Timur. Cek jam buka dan rincian biayanya di sini.