Kisah Petani Kulonprogo Antar Anak Disabilitas ke Job Fair

Khairul Ma'arif
Khairul Ma'arif Selasa, 23 Juni 2026 23:17 WIB
Kisah Petani Kulonprogo Antar Anak Disabilitas ke Job Fair

Samikan warga Bumirejo, Lendah (kanan) mengantarkan anaknya yang merupakan penyandang disabilitas tuna rungu, Bekti Hilda Aristi (kiri) ke job fair untuk melamar dan mendapatkan pekerjaan, Selasa (23/6/2026). Harian Jogja/Khairul Ma'arif.

Harianjogja.com, KULONPROGO—Pelaksanaan job fair yang digelar Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Kulonprogo di Exhibition Hall Taman Budaya Kulonprogo (TBK) pada Selasa (23/6/2026) hingga Rabu (24/6/2026) tidak hanya dipadati pencari kerja muda, tetapi juga menghadirkan kisah haru seorang petani yang mengantarkan anaknya yang berkebutuhan khusus untuk mencari pekerjaan.

Kegiatan bursa kerja tersebut menjadi ruang pertemuan antara pencari kerja dan 26 perusahaan dari berbagai sektor, mulai dari elektronik, jasa, manufaktur, hingga perbankan, dengan total 2.055 formasi lowongan yang disediakan bagi angkatan kerja di Kulonprogo.

Di tengah keramaian tersebut, perhatian publik tertuju pada sosok Samikan, warga Kalurahan Bumirejo, Lendah, Kulonprogo, yang datang bersama putrinya yang baru lulus sekolah menengah luar biasa (SMBLB) sederajat untuk mengikuti job fair tersebut.

Samikan yang sehari-hari bekerja sebagai petani mengaku sengaja mengantar anaknya yang menyandang disabilitas tuna rungu sejak lahir agar memiliki kesempatan memperoleh pekerjaan yang sesuai dan dapat hidup mandiri.

“Kedatangan ini untuk kebutuhan anak mencari kerja yang baru lulus SMA luar biasa tahun ini,” ujar Samikan saat ditemui di Exhibition Hall TBK, Selasa (23/6/2026).

Putrinya, Bekti Hilda Aristi, kini berusia 19 tahun, diketahui telah mengalami tuna rungu sejak lahir. Di balik keterbatasannya, ia tetap berusaha mempersiapkan diri dengan mengikuti berbagai pelatihan dan mengantongi sejumlah sertifikat keahlian sebagai bekal memasuki dunia kerja.

Samikan juga diketahui merupakan orang tua tunggal setelah istrinya meninggal dunia ketika Bekti masih berusia tiga tahun. Kondisi tersebut membuatnya semakin bertekad mendampingi anaknya dalam mencari masa depan yang lebih mandiri.

“Untuk mengantarkan dan menemani anak semoga dapat kerjaan atau hidup mandiri, yang penting halal,” ucapnya.

Selain memiliki bekal pelatihan, Hilda juga pernah meraih prestasi di bidang nonakademik seperti juara dalam lomba merangkai bunga dan lompat jauh saat masih duduk di bangku sekolah, yang menjadi nilai tambah dalam portofolio kemampuannya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja Kulonprogo, Bambang Sutrisna, menjelaskan bahwa job fair tersebut dirancang untuk memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat dengan melibatkan puluhan perusahaan dari berbagai sektor industri.

Dinas Tenaga Kerja Kulonprogo menyebutkan bahwa dari total 2.055 lowongan yang tersedia, pihaknya menargetkan lebih dari 50 persen dapat diisi oleh warga lokal Kulonprogo guna menekan angka pengangguran di daerah tersebut.

“Harapan kami dengan adanya job fair ini warga Kulonprogo khususnya dan masyarakat umumnya dapat mengisi, kalau bisa 50 persen ke atas yang terisi dari warga Kulonprogo sehingga penurunan pengangguran turun drastis,” ungkap Bambang.

Ia juga menegaskan bahwa pemerintah daerah memberikan perhatian khusus terhadap penyandang disabilitas dalam akses kerja, termasuk dengan membuka peluang di beberapa perusahaan peserta job fair yang menyediakan kuota khusus bagi tenaga kerja disabilitas.

Menurutnya, minat dan kemampuan kerja penyandang disabilitas dapat diarahkan sesuai kebutuhan industri dengan dukungan pelatihan yang tepat dari pemerintah.

“Pelatihan kerja sekarang pun ada untuk disabilitas dan dibuka seluas-luasnya, bahkan akan ada job fair khusus disabilitas,” jelasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online