Siswa SMAN 1 Sleman Pilih Streaming Film, Redakan Stres Usai Ujian
Menonton film dan serial digital menjadi cara siswa SMAN 1 Sleman mengurangi stres setelah ujian sekaligus memulihkan energi dari aktivitas belajar.
Seorang pengendara sedang melintasi area persawahan di Kalurahan Margodadi, Seyegan, Sleman, Rabu (24/6/2026). Harian Jogja/ Andreas Yuda Pramono
Harianjogja.com, SLEMAN—Ancaman musim kemarau panjang pada 2026 mulai diantisipasi serius oleh Pemerintah Kabupaten Sleman. Penurunan debit air yang diprediksi terjadi di berbagai wilayah dikhawatirkan berdampak langsung pada sektor pertanian, terutama risiko gagal panen.
Sebagai langkah mitigasi, Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman menyiapkan pembangunan 14 unit sumur bor untuk mendukung kebutuhan irigasi petani.
Kepala Divisi Tanaman Pangan DP3 Sleman, Siti Rochayah Dwi Mulyani, menjelaskan bahwa pembangunan sumur bor tersebut dibiayai melalui Anggaran Negara yang disalurkan langsung ke rekening kelompok tani penerima manfaat.
“Saat ini prosesnya masih dalam tahap penyaluran anggaran ke kelompok petani,” ujar Siti, Jumat (26/6/2026).
Menurutnya, masing-masing sumur bor akan memiliki kedalaman sekitar 30 meter dan dikerjakan secara mandiri oleh kelompok tani. DP3 Sleman tetap melakukan pengawasan agar pembangunan sesuai standar teknis.
Siti mengungkapkan bahwa puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026. Oleh karena itu, keberadaan sumur bor diharapkan mampu menjadi solusi utama dalam menjaga pasokan air irigasi.
Ia juga mengakui bahwa proyek ini sempat mengalami keterlambatan dari target awal yang direncanakan selesai pada Mei 2026. Hal tersebut disebabkan proses administrasi anggaran yang harus melalui mekanisme pusat.
“Pengajuan anggaran membutuhkan waktu cukup panjang karena melibatkan PPK di tingkat pusat,” jelasnya.
Meski demikian, sejumlah kelompok tani dilaporkan sudah mulai melakukan pengeboran sumur secara bertahap.
Selain pembangunan sumur bor, DP3 Sleman juga telah mengeluarkan surat edaran kepada petani untuk menggunakan varietas padi yang lebih tahan terhadap kondisi kering, serta mendorong diversifikasi tanaman sebagai langkah antisipasi gagal panen.
Upaya lain yang dilakukan adalah optimalisasi bantuan pompa air yang telah didistribusikan tahun lalu. Sekitar 100 unit pompa air telah disalurkan untuk membantu petani mengambil air dari sumber terdekat.
Siti mengimbau kelompok tani agar memastikan kondisi pompa tetap prima.
“Jika ada kerusakan, segera diperbaiki agar bisa digunakan saat puncak kemarau,” katanya.
Sementara itu, Kepala DP3 Sleman, Liem Astuti, menjelaskan bahwa musim kemarau 2026 di Sleman sudah mulai berlangsung sejak awal April di beberapa wilayah seperti Prambanan, serta sebagian Minggir dan Moyudan.
Adapun sebagian besar wilayah Sleman lainnya mulai memasuki musim kemarau sejak awal Mei, dengan durasi diperkirakan berlangsung hingga awal November.
Dengan berbagai langkah antisipasi tersebut, pemerintah daerah optimistis sektor pertanian di Sleman tetap mampu bertahan menghadapi tekanan musim kemarau panjang tahun ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Menonton film dan serial digital menjadi cara siswa SMAN 1 Sleman mengurangi stres setelah ujian sekaligus memulihkan energi dari aktivitas belajar.
SPMB SMP Gunungkidul 2026 buka jalur domisili 29 Juni. Dinas Pendidikan terapkan aturan cegah kecurangan KK tempel.
Korban gempa Venezuela bertambah jadi 589 tewas dan 2.980 luka. Bantuan internasional mulai berdatangan untuk evakuasi korban.
Uruguay wajib menang lawan Spanyol di Grup H Piala Dunia 2026. La Roja hanya butuh imbang untuk lolos sebagai juara grup.
Xiaomi 18 Pro bocor bawa kamera 200MP, baterai 7.000 mAh, dan chipset terbaru Snapdragon Gen 6.
Banpol Gunungkidul 2026 cair Rp1,1 miliar untuk 8 partai. PDIP jadi penerima terbesar berdasarkan suara Pemilu 2024.