Dapur MBG di Banguntapan Ditolak, Warga Khawatir Polusi hingga Kekeringan
Pembangunan SPPG di Karangbendo Banguntapan belum jelas. Warga menyoroti lokasi dekat permukiman dan khawatir polusi hingga kekeringan air.
Desa Wisata Wukirsari, Bantul. - Google Maps
Harianjogja.com, BANTUL — Tren pariwisata berkelanjutan mulai mengubah cara pandang pengelolaan desa wisata. Tidak lagi sekadar mengejar lonjakan jumlah kunjungan, pengelola kini dituntut menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan budaya lokal agar destinasi mampu bertahan dalam jangka panjang.
Pesan ini mengemuka dalam talkshow bertajuk “Desa Wisata Berkelanjutan: Perkembangan Desa Wisata Menuju Pariwisata Hijau Berkelas Dunia” yang digelar di Desa Wisata Krebet, Kapanewon Pajangan, Bantul, Sabtu (27/6/2026) malam. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 65 peserta dari kalangan akademisi, pelaku desa wisata, hingga mahasiswa.
Forum ini juga dirangkai dengan penyerahan penghargaan lomba fotografi desa wisata, sebagai upaya memperkuat promosi destinasi berbasis visual yang semakin diminati di era digital.
Dalam diskusi, para narasumber sepakat bahwa paradigma pengembangan desa wisata harus bergeser. Orientasi yang sebelumnya berfokus pada angka kunjungan dinilai tidak lagi relevan jika mengabaikan dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat.
Ketua Program Studi Magister Pariwisata STIPRAM Yogyakarta, Amin Kiswantoro, menegaskan bahwa penerapan konsep pariwisata hijau bisa dimulai dari langkah sederhana. Pengurangan sampah plastik hingga penggunaan bahan ramah lingkungan menjadi bagian penting dari upaya menjaga keberlanjutan destinasi.
“Hal kecil seperti tidak menggunakan botol plastik dan mengurangi penggunaan tisu sudah menjadi langkah awal dalam menjaga lingkungan. Tisu berasal dari pohon, sehingga penggunaannya juga perlu dikendalikan,” ujarnya.
Ia menekankan, tanggung jawab menjaga keberlanjutan tidak hanya berada di tangan pengelola, tetapi juga wisatawan. Kesadaran bersama menjadi kunci agar desa wisata dapat berkembang tanpa merusak sumber daya alam yang dimiliki.
Sementara itu, dosen pariwisata Nur Widiyanto menjelaskan bahwa desa wisata berkelanjutan harus dibangun di atas tiga pilar utama atau triple bottom line, yakni aspek lingkungan, sosial budaya, dan ekonomi. Ketiganya harus berjalan seimbang dan tidak bisa dipisahkan.
Menurutnya, desa wisata belum bisa disebut berkelanjutan jika hanya berorientasi pada peningkatan pendapatan tanpa memperhatikan dampak sosial maupun lingkungan.
Pandangan serupa disampaikan pengelola Desa Wisata Pentingsari, Ir. Ciptaningtyas. Ia menilai setiap destinasi harus memahami batas kapasitas kunjungan atau carrying capacity agar tidak terjadi tekanan berlebih terhadap lingkungan maupun masyarakat lokal.
“Tidak semua kunjungan harus diterima. Pembatasan jumlah wisatawan justru penting untuk menjaga kualitas destinasi dan mencegah overtourism,” katanya.
Ia mengingatkan, fenomena overtourism telah menjadi persoalan di berbagai destinasi dunia. Karena itu, desa wisata di Indonesia perlu mengantisipasi sejak dini dengan pengelolaan yang terencana dan berkelanjutan.
Selain itu, pemanfaatan teknologi digital juga dinilai menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing desa wisata. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk promosi, pengelolaan informasi, hingga peningkatan kualitas layanan wisata tanpa menghilangkan karakter budaya lokal.
Melalui forum ini, para pelaku desa wisata diharapkan mampu mengadopsi pendekatan baru dalam pengelolaan destinasi. Tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan keberlanjutan lingkungan dan pelestarian budaya sebagai fondasi utama pariwisata masa depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pembangunan SPPG di Karangbendo Banguntapan belum jelas. Warga menyoroti lokasi dekat permukiman dan khawatir polusi hingga kekeringan air.
Alwi Farhan mengalahkan Chou Tien-Chen di perempat final Asian Games 2026 dan menyebut kontrol emosi sebagai kunci kemenangan.
Kakek asal Ngawi, Raden Mas Sri Parwasto, 68, meninggal setelah tertabrak kereta di Km 233+4 Kutorejo, Sragen.
Jonatan Christie tersingkir di perempat final Asian Games Aichi-Nagoya 2026 setelah kalah dari Loh Kean Yew karena stamina terkuras.
KPK menyita uang rupiah, dolar AS, dolar Singapura dan perhiasan saat menggeledah Kanwil BPN Jatim dalam kasus mafia tanah dugaan korupsi ATR/BPN.
Kemensos mendorong transformasi Puskesos Sleman menjadi pusat layanan dan pemberdayaan sosial. Sumberejo dipilih sebagai lokasi percontohan.