Harga Bahan Baku Pigura di Sleman Melonjak, Penjualan Turun

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Sabtu, 04 Juli 2026 12:07 WIB
Harga Bahan Baku Pigura di Sleman Melonjak, Penjualan Turun

Sejumlah karyawan pigura sedang memotong dan merangkai pigura di Kalurahan Caturtunggal, Depok, Sleman, Jumat (3/7/2026)/ Harian Jogja-Andreas Yuda Pramono

Harianjogja.com, SLEMAN—Pelaku usaha pigura di Kapanewon Depok, Sleman, menghadapi tekanan usaha sepanjang 2026 akibat kenaikan harga sejumlah bahan baku utama. Harga kaca, kayu damar, hingga kayu jati Belanda mengalami kenaikan cukup signifikan, sementara permintaan dari konsumen justru cenderung melemah.

Kondisi tersebut membuat pelaku usaha berada dalam posisi sulit. Di satu sisi biaya produksi terus meningkat, tetapi di sisi lain mereka belum berani menaikkan harga jual karena ketatnya persaingan dan melemahnya daya beli masyarakat.

Karyawan Ganta Figura, Anwar, mengatakan kenaikan harga paling terasa terjadi pada bahan kaca yang menjadi komponen utama pembuatan pigura. Untuk ukuran 80 x 122 sentimeter, harga kaca kini mencapai Rp63.000 hingga Rp65.000 per lembar, naik dari sebelumnya sekitar Rp53.000 per lembar.

Selain kaca, harga kayu damar yang digunakan sebagai bahan rangka juga mengalami kenaikan. Jika sebelumnya berada di kisaran Rp25.000 per papan, kini harganya mencapai sekitar Rp35.000 per papan.

"Kalau kaca naik dari Rp53.000 sekarang menjadi sekitar Rp63.000 sampai Rp65.000 per lembar. Kayu damar juga naik, dari sekitar Rp25.000 menjadi Rp35.000 per papan," ujar Anwar saat ditemui di tokonya di kawasan Sagan, Caturtunggal, Depok, Jumat (3/7/2026).

Menurut dia, bahan lain seperti kayu jati Belanda juga mengalami kenaikan harga. Material yang sebelumnya dibeli sekitar Rp120.000 kini mencapai Rp135.000.

Anwar menjelaskan seluruh kenaikan harga tersebut mulai dirasakan sepanjang tahun ini. Meski demikian, pihaknya belum melakukan penyesuaian harga jual kepada konsumen.

Ia menilai kenaikan harga berisiko membuat pelanggan beralih ke toko lain karena selisih harga antarpenjual pigura relatif tipis. Persaingan usaha yang cukup ketat membuat pelaku usaha harus berhitung cermat sebelum menaikkan harga.

"Kalau harga dinaikkan, pelanggan bisa pindah ke tempat lain. Selisih harga antarpenjual juga tipis, jadi sulit menaikkan harga," katanya.

Kondisi serupa juga dialami AB Pigura. Karyawan AB Pigura, Slamet, mengungkapkan harga kayu damar yang dipasok dari Jawa Timur mengalami lonjakan cukup tinggi sepanjang tahun ini.

Menurutnya, harga kayu yang sebelumnya sekitar Rp30.000 per batang kini telah mencapai Rp50.000 per batang atau naik lebih dari 40 persen.

Kenaikan tersebut berdampak langsung terhadap biaya produksi yang harus ditanggung pelaku usaha. Meski demikian, mereka tetap berupaya mempertahankan usaha karena menjadi sumber penghasilan utama.

"Kalau kehidupannya dari usaha pigura, ya naik tidak naik harus tetap dijalani," ujar Slamet.

Tekanan akibat kenaikan biaya produksi diperparah oleh penurunan permintaan. Anwar mengaku penjualan pada semester pertama 2026 lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Menurutnya, masyarakat saat ini lebih memprioritaskan kebutuhan pokok yang harganya juga mengalami kenaikan. Akibatnya, pembelian produk nonprimer seperti pigura dan jasa pembingkaian foto menjadi berkurang.

Slamet juga merasakan kondisi yang sama. Ia memperkirakan omzet usahanya turun hingga sekitar 50 persen dibandingkan tahun lalu.

Penurunan tersebut menunjukkan bahwa pelaku usaha kecil di sektor kreatif dan kerajinan turut merasakan dampak perlambatan daya beli masyarakat. Di tengah kenaikan biaya bahan baku, mereka dituntut tetap menjaga harga agar tidak kehilangan pelanggan.

Situasi ini membuat banyak pelaku usaha berharap kondisi ekonomi segera membaik sehingga permintaan kembali meningkat dan usaha yang telah dijalankan bertahun-tahun dapat terus bertahan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online