Kemarau Mulai Datang, Budidaya Ikan Bantul Masih Aman

Kiki Luqman
Kiki Luqman Selasa, 14 Juli 2026 11:27 WIB
Kemarau Mulai Datang, Budidaya Ikan Bantul Masih Aman

Budi daya ikan air tawar. - Freepik

Harianjogja.com, BANTUL—Musim kemarau yang mulai berlangsung di Kabupaten Bantul belum memberikan tekanan berarti bagi para pelaku usaha perikanan. Hingga pertengahan Juli 2026, aktivitas budidaya ikan masih berjalan normal karena pasokan air di berbagai sentra budidaya dinilai masih mencukupi kebutuhan produksi.

Kondisi tersebut membuat pembudidaya belum menghadapi kendala serius sebagaimana yang kerap terjadi saat kemarau panjang. Meski demikian, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Bantul tetap meningkatkan pemantauan untuk mengantisipasi kemungkinan perubahan kondisi cuaca dalam beberapa bulan ke depan.

Kepala DKP Bantul, Istriyani, mengatakan hingga saat ini pihaknya belum menerima laporan dari pembudidaya terkait gangguan produksi akibat musim kemarau.

"Sampai sekarang sebenarnya belum ada keluhan terkait dampak musim kemarau terhadap budidaya ikan. Karena ini masih awal Juli dan baru memasuki musim kemarau," ujar Istriyani, Selasa (14/7/2026).

Menurutnya, ketersediaan air untuk kolam budidaya di berbagai wilayah Bantul masih berada dalam kondisi aman. Situasi tersebut membuat kegiatan pembesaran ikan konsumsi tetap berjalan tanpa hambatan berarti.

Namun, berbeda dengan sektor budidaya pembesaran, bidang pembenihan memerlukan perhatian lebih besar. Perubahan suhu udara yang lazim terjadi saat pergantian musim dapat memengaruhi tingkat keberhasilan penetasan telur maupun kelangsungan hidup benih ikan.

Karena itu, DKP mendorong para pembenih memanfaatkan teknologi yang mampu menjaga kestabilan suhu selama proses produksi berlangsung. Salah satu metode yang dinilai efektif adalah sistem pembenihan dalam ruangan atau indoor.

"Kalau pembenihan, kami memanfaatkan teknologi indoor. Saat musim bediding para pengelola benih ikan sudah paham menyalakan lampu sebagai penghangat," kata Istriyani.

Pemanfaatan teknologi tersebut dinilai mampu menciptakan lingkungan yang lebih stabil sehingga benih ikan tetap berkembang secara optimal meski terjadi perubahan cuaca di luar ruangan.

Istriyani menilai para pelaku pembenihan di Bantul sebenarnya sudah cukup berpengalaman dalam menghadapi perubahan musim. Tantangan utamanya saat ini adalah konsistensi dalam menerapkan teknologi yang telah tersedia.

"Teknologi pembenihan sudah ada. Tinggal para pembenih ikan mau mengikuti teknologi itu atau tidak," ujarnya.

Data DKP Bantul menunjukkan saat ini terdapat sekitar 40 Unit Pembenihan Rakyat (UPR) yang tersebar di seluruh kapanewon. Seluruh unit tersebut masih aktif berproduksi untuk memenuhi kebutuhan benih ikan di dalam maupun luar daerah.

Sebagian besar UPR di Bantul memproduksi benih ikan lele karena permintaan pasar yang relatif stabil dan tinggi sepanjang tahun. Sementara itu, produksi ikan air tawar bersisik seperti nila dan tawes lebih banyak dilakukan oleh unit pembenihan milik pemerintah daerah.

"UPR itu sebagian besar melakukan pembenihan lele. Kalau ikan bersisik lebih banyak diproduksi di UPTD kami, seperti nila dan tawes," jelasnya.

Prospek usaha pembenihan di Bantul juga dinilai masih cukup menjanjikan. Selain mampu memenuhi kebutuhan lokal, hasil produksi benih ikan dari daerah ini telah dipasarkan ke sejumlah wilayah luar DIY.

Bahkan, menurut DKP, sebagian pembudidaya mampu menjangkau pasar hingga Kalimantan. Capaian tersebut menunjukkan sektor pembenihan masih menjadi salah satu usaha perikanan yang memiliki peluang ekonomi besar.

"Kalau pembenihan ikan pasarnya bisa lokal di Kabupaten Bantul dan juga keluar daerah. Bahkan ada yang sampai ke Kalimantan," ungkap Istriyani.

Meski kondisi saat ini masih terkendali, DKP Bantul memastikan akan terus memantau perkembangan musim kemarau. Pengawasan dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan penurunan debit air maupun cuaca ekstrem yang dapat memengaruhi produktivitas sektor perikanan.

Dengan langkah antisipatif tersebut, pemerintah berharap produksi budidaya maupun pembenihan ikan di Bantul tetap terjaga sehingga mampu memenuhi kebutuhan pasar sekaligus menjaga keberlangsungan usaha para pelaku perikanan di daerah.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online