Bocah 8 Tahun Terseret Ombak di Pantai Goa Cemara Bantul, Masih Dicari
Bocah 8 tahun terseret ombak di Pantai Goa Cemara Bantul, tim SAR gabungan masih melakukan pencarian hingga Minggu sore.
Ilustrasi, beberapa murid di Bantul diantar sekolah oleh orangtuanya pada Senin (13/7). Kiki Luqman
Harianjogja.com, BANTUL—Ribuan pelajar di Kabupaten Bantul kembali menerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bersamaan dengan dimulainya tahun ajaran baru 2026/2027 pada Senin (13/7/2026). Sekitar 100 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah kembali beroperasi sehingga distribusi makanan bergizi kepada siswa dapat kembali berlangsung sejak hari pertama sekolah.
Dari total 135 SPPG yang direncanakan di Kabupaten Bantul, sekitar 35 dapur belum melayani penerima manfaat. Kondisi tersebut terjadi karena sebagian masih menjalani tahapan uji laboratorium, sementara lainnya merupakan dapur baru yang belum memperoleh jadwal operasional dari Badan Gizi Nasional (BGN).
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Bantul, Hermawan Setiaji, mengatakan dapur yang telah beroperasi pada hari pertama sekolah merupakan SPPG yang sebelumnya sudah melayani Program MBG sebelum masa libur sekolah.
"Sekitar 100-an sudah beroperasi," kata Hermawan saat dikonfirmasi, Senin.
Ia menjelaskan sekitar 35 SPPG masih belum melayani penerima manfaat. Namun, kondisi tersebut tidak seluruhnya disebabkan kendala teknis, melainkan juga karena adanya tahapan yang memang harus diselesaikan sebelum dapur dapat mulai beroperasi.
Menurut Hermawan, sebagian kecil SPPG masih menjalani pemeriksaan kualitas lingkungan dan keamanan pangan melalui uji laboratorium sehingga belum memperoleh izin operasional.
"Yang SLHS masih proses uji, Mas," ujarnya.
Ia memperkirakan jumlah dapur yang masih menunggu penyelesaian proses Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) berkisar antara 10 hingga 13 unit.
"Masih dicermati, kurang lebih 10 sampai 13 yang soal SLHS," katanya.
Sementara itu, sebagian besar dapur yang belum beroperasi merupakan SPPG baru yang sebelumnya memang belum pernah melayani Program MBG. Dapur-dapur tersebut masih berada dalam tahap persiapan sehingga belum mendapatkan jadwal operasional dari Badan Gizi Nasional.
Hermawan menegaskan belum beroperasinya dapur tersebut bukan berarti layanan dihentikan, melainkan proses pembukaan fasilitas baru yang masih berlangsung.
"Kemungkinan karena tidak ada penambahan SPPG baru. Yang kemarin masih persiapan," ucap Hermawan.
Ia menambahkan, dari sekitar 35 dapur yang belum beroperasi, sebanyak 22 unit merupakan SPPG yang sejak awal memang belum pernah menjalankan layanan MBG sehingga masih menunggu arahan operasional dari BGN.
"Yang kemarin belum pernah operasional kita masih nunggu info BGN, jadi yang hari ini operasional itu yang sebelumnya sudah operasional," jelasnya.
Saat ditanya kembali mengenai jumlah SPPG yang belum pernah beroperasi, Hermawan memastikan jumlahnya sekitar 22 unit.
Pemerintah Kabupaten Bantul saat ini terus berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional untuk memantau kesiapan seluruh SPPG. Koordinasi tersebut dilakukan agar dapur yang masih berada dalam tahap persiapan maupun penyelesaian persyaratan dapat segera beroperasi sehingga cakupan Program Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Bantul dapat terus bertambah seiring berjalannya tahun ajaran baru.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Bocah 8 tahun terseret ombak di Pantai Goa Cemara Bantul, tim SAR gabungan masih melakukan pencarian hingga Minggu sore.
Hasto Wardoyo meminta sekolah tidak menjadikan seragam sebagai beban orang tua dan memberi toleransi bagi siswa yang belum mampu membeli seragam.
Jelang Muktamar NU ke-35, Majlis Musyawarah Taswirul Afkar membahas arah NU 100 tahun ke depan dan penguatan kemandirian jamiyah.
Polsek Semin mengingatkan bahaya pembakaran lahan saat musim kemarau karena dapat memicu kebakaran dan mengganggu habitat monyet di Gunungkidul.
Libur sekolah membawa lebih dari 200 ribu wisatawan ke Bantul. PAD dari retribusi wisata mencapai Rp2,76 miliar dan okupansi hotel naik menjadi 70 persen.
Hasto Wardoyo meminta MPLS di Kota Jogja menjadi ruang menghilangkan kecemasan siswa baru, bukan ajang bullying maupun perpeloncoan.