Ekspor Wig Kulonprogo Melonjak 57 Persen di Tengah Gejolak Global

Khairul Ma\'arif
Khairul Ma\'arif Rabu, 15 Juli 2026 14:37 WIB
Ekspor Wig Kulonprogo Melonjak 57 Persen di Tengah Gejolak Global

Ilustrasi ekspor impor (Freepik)

Harianjogja.com, KULONPROGO—Kinerja ekspor Kabupaten Kulonprogo menunjukkan tren positif sepanjang semester pertama 2026 meski pasar global masih dibayangi ketidakpastian akibat konflik Timur Tengah dan kebijakan perdagangan internasional yang semakin ketat.

Dinas Perdagangan (Disdag) Kulonprogo mencatat sejumlah komoditas unggulan daerah mengalami peningkatan permintaan, terutama produk wig atau rambut palsu dan gula kelapa yang selama ini menjadi andalan ekspor Bumi Binangun.

Kepala Bidang Usaha Perdagangan Disdag Kulonprogo, Rina Martini, mengatakan capaian ekspor pada paruh pertama tahun ini lebih baik dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Salah satu penyumbang pertumbuhan terbesar berasal dari komoditas wig yang pasar utamanya masih berada di Amerika Serikat.

Meski kondisi pasar Amerika Serikat belum sepenuhnya stabil akibat berbagai dinamika ekonomi global, volume ekspor produk tersebut justru meningkat signifikan.

“Volume ekspor rambut palsu tercatat mengalami kenaikan 57 persen dibanding periode yang sama tahun lalu,” kata Rina saat dikonfirmasi, Rabu (15/7/2026).

Menurutnya, peningkatan tersebut menjadi sinyal positif bagi sektor industri ekspor Kulonprogo yang selama beberapa tahun terakhir terus berupaya memperluas pasar dan meningkatkan daya saing produk.

Gula Semut Tetap Jadi Primadona

Selain wig, komoditas gula kelapa atau yang lebih dikenal sebagai gula semut juga menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.

Produk khas Kulonprogo tersebut masih menjadi salah satu komoditas yang paling diminati pasar luar negeri.

Rina menjelaskan peningkatan permintaan terjadi karena kebutuhan pasar internasional pada tahun sebelumnya belum seluruhnya terpenuhi sehingga mendorong peningkatan produksi pada 2026.

Menurut dia, permintaan terhadap gula semut terus meningkat dari berbagai negara sehingga perusahaan eksportir harus memperluas jaringan pemasok bahan baku.

“Permintaan selalu meningkat sehingga perusahaan eksportir di Kulonprogo harus membina petani gula hingga ke beberapa kabupaten sekitar untuk memenuhi permintaan seperti Purworejo, Kebumen, Banyumas, dan Cilacap,” ujarnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa industri gula semut tidak hanya memberikan dampak ekonomi bagi petani di Kulonprogo, tetapi juga bagi wilayah penyangga di sekitarnya.

Kerajinan Anyaman Mulai Pulih

Komoditas kerajinan anyaman serat alam juga mulai menunjukkan perbaikan setelah sempat mengalami perlambatan pada awal tahun.

Disdag mencatat permintaan produk kerajinan sempat melemah pada triwulan pertama 2026.

Namun memasuki triwulan kedua, permintaan kembali meningkat seiring membaiknya aktivitas perdagangan di sejumlah pasar ekspor.

Perkembangan tersebut memberikan optimisme bahwa sektor industri kreatif berbasis kerajinan masih memiliki peluang besar untuk berkembang di pasar internasional.

Buyer Makin Ketat Tekan Harga

Meski tren ekspor menunjukkan pertumbuhan, pelaku usaha tetap menghadapi sejumlah tantangan.

Rina mengungkapkan perubahan kebijakan perdagangan luar negeri Amerika Serikat membuat pembeli atau buyer menjadi lebih selektif dalam melakukan transaksi.

Tekanan tersebut dirasakan langsung oleh pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) eksportir di Kulonprogo.

Menurutnya, banyak buyer yang menekan harga pembelian lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya sehingga margin keuntungan pelaku usaha ikut terpengaruh.

“Kebijakan perdagangan luar negeri Amerika beberapa saat yang lalu menjadikan buyer semakin ketat dalam melakukan pembelian. Hal ini dirasakan oleh para IKM eksportir di mana harga penawaran yang diberikan oleh buyer lebih ditekan daripada kondisi tahun lalu,” katanya.

Target Ekspor Rp272 Miliar Optimistis Tercapai

Hingga pertengahan tahun, Disdag Kulonprogo belum merilis nilai ekspor secara rinci karena proses pendataan masih berlangsung.

Namun berdasarkan perkembangan selama semester pertama, pemerintah daerah optimistis target ekspor tahun ini dapat tercapai.

Pada 2026, Pemkab Kulonprogo menargetkan nilai ekspor mencapai Rp272 miliar.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan realisasi ekspor tahun 2025 yang mencapai Rp259 miliar.

Rina menilai tren pertumbuhan yang terjadi pada sejumlah komoditas unggulan menjadi modal kuat untuk mencapai target tersebut.

“Melihat kondisi semester pertama ini kami yakin target realisasi ekspor tahun 2026 akan tercapai,” ujarnya.

Pertumbuhan ekspor wig, gula semut, dan kerajinan anyaman menjadi bukti bahwa produk-produk unggulan Kulonprogo masih memiliki daya saing di pasar global. Di tengah tekanan ekonomi internasional dan ketidakpastian geopolitik, sektor ekspor daerah justru menunjukkan ketahanan yang memberikan optimisme bagi pertumbuhan ekonomi lokal sepanjang 2026.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online