Gogoh Iwak Ceria 2026 Jadi Cara Alihkan Anak dari Kecanduan Gawai
Gogoh Iwak Ceria 2026 di Dadap Sumilir, Kulonprogo, mengajak anak menjauh dari gawai melalui permainan menangkap ikan di alam terbuka.
Ilustrasi./Istimewa
Harianjogja.com, KULONPROGO—Kabupaten Kulonprogo bersiap menjadi pusat perhatian pecinta olahraga arus deras dari berbagai daerah melalui penyelenggaraan Arung Progo Festival 2026. Agenda nasional yang dijadwalkan berlangsung pada 27-30 Agustus 2026 itu diproyeksikan tidak hanya menghadirkan kompetisi arung jeram tingkat nasional, tetapi juga menjadi motor penggerak sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat di kawasan Perbukitan Menoreh.
Pusat kegiatan festival akan berlangsung di kawasan Gerbang Samudra Raksa, Kalibawang. Lokasi tersebut dipilih karena berada di jalur strategis Sungai Progo yang selama ini dikenal memiliki karakter jeram menantang dan menjadi salah satu destinasi wisata minat khusus di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kepala Dinas Pariwisata Kulonprogo, Sutarman, mengatakan penyelenggaraan Arung Progo Festival merupakan bagian dari strategi pengembangan sport tourism yang terus didorong pemerintah daerah. Menurutnya, kegiatan tersebut dirancang untuk menarik wisatawan sekaligus memperkuat citra Kulonprogo sebagai destinasi wisata berkualitas.
"Ini juga terkait dengan bagaimana wilayah di Perbukitan Menoreh ini bisa menjadi tempat wisata yang sifatnya quality tourism, yaitu wisata yang berkualitas. Melalui kejuaraan ini, kami ingin memperkuat daya tarik Kulonprogo di peta pariwisata nasional," ujar Sutarman.
Konsep yang diusung tidak hanya berfokus pada kompetisi atlet profesional. Selama festival berlangsung, masyarakat umum juga dapat merasakan pengalaman menyusuri Sungai Progo melalui paket wisata arung jeram yang telah disiapkan panitia.
Langkah tersebut diharapkan mampu memperluas manfaat penyelenggaraan acara hingga ke sektor usaha masyarakat. Kehadiran peserta, ofisial, dan wisatawan dari berbagai daerah diperkirakan akan meningkatkan aktivitas ekonomi lokal, mulai dari kuliner, transportasi, hingga jasa penginapan.
Sutarman menjelaskan seluruh peserta dari luar daerah nantinya akan diarahkan menggunakan homestay milik warga di sekitar lokasi kegiatan. Kawasan Kalurahan Banjaroyo dan wilayah Kalibawang menjadi daerah yang diproyeksikan memperoleh manfaat ekonomi paling besar dari penyelenggaraan festival tersebut.
"Kegiatan ini akan bisa menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar, terutama di Kalurahan Banjaroyo dan Kalibawang pada umumnya. Karena nanti peserta juga akan menginap di homestay di sekitar lokasi kegiatan. Kami berharap ajang ini menjadi media branding efektif yang berkelanjutan," katanya.
Penyelenggaraan Arung Progo Festival 2026 sendiri mendapatkan dukungan pendanaan dari Dana Keistimewaan DIY. Melalui dukungan tersebut, pemerintah daerah berharap event ini mampu menjadi agenda tahunan yang memiliki dampak jangka panjang terhadap perkembangan sektor pariwisata Kulonprogo.
Di sisi lain, panitia juga memiliki target lebih besar terhadap masa depan Sungai Progo. Ketua Panitia Arung Progo Festival 2026, Mulhendra, mengatakan sungai tersebut sedang diarahkan menjadi river destination berkelas dunia yang mampu mengakomodasi kebutuhan olahraga, pariwisata, hingga konservasi lingkungan.
Menurutnya, upaya menuju target tersebut dilakukan secara bertahap dan terukur setiap tahun. Potensi Sungai Progo dinilai sangat besar karena memiliki tingkat kesulitan jeram yang masuk kategori kelas dunia dan disebut sebagai salah satu yang terbesar di Pulau Jawa.
"Menuju tugas itu memang tidak bisa instan, tapi selalu terukur. Tiap tahun selalu ada progres untuk mewujudkan hal tersebut. Sungai Progo memiliki grade atau tingkat kesulitan kelas dunia, dan jeramnya bisa dikatakan terbesar di Pulau Jawa. Artinya memang sudah layak," ujar Mulhendra.
Optimisme tersebut bukan tanpa dasar. Pada akhir tahun lalu, tim penilai dari Federasi Arung Jeram Internasional asal Kanada telah melakukan asesmen langsung di lokasi. Hasil penilaian menunjukkan Sungai Progo memenuhi berbagai aspek pendukung untuk menggelar kejuaraan internasional, mulai dari kondisi lintasan sungai hingga akses menuju hotel, Bandara YIA, kawasan Dam Ancol, dan Dermaga Samudra Raksa.
Meski peluang menjadi tuan rumah kejuaraan dunia belum terwujud dalam waktu dekat karena persaingan dengan negara lain, panitia tetap menargetkan Indonesia, khususnya Kulonprogo, dapat menjadi penyelenggara pada 2028 mendatang.
"Kita ada kendala untuk tahun ini sudah keburu diambil sama negara Cina. Untuk proses bidding-nya memang agak susah melawan mereka yang anggarannya luar biasa. Jadi kami masih berupaya agar kejuaraan dunianya mundur di tahun 2028," ungkap Mulhendra.
Dengan kombinasi antara olahraga, wisata, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, Arung Progo Festival 2026 diharapkan menjadi momentum penting untuk memperkuat posisi Kulonprogo sebagai destinasi unggulan sport tourism nasional sekaligus membuka jalan menuju panggung internasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gogoh Iwak Ceria 2026 di Dadap Sumilir, Kulonprogo, mengajak anak menjauh dari gawai melalui permainan menangkap ikan di alam terbuka.
Perpanjang SIM A dan C di Kulonprogo lebih mudah melalui SIM Keliling. Jadwal lengkap dan lokasi.
Ketahanan keluarga bukan sekadar masalah kokohnya fisik bangunan rumah (house), tetapi lebih pada soal kenyamanan dan interaksi hangat di dalamnya (home)
Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polresta Sleman kembali membuka layanan SIM Keliling.
Polres Gunungkidul kembali membuka layanan SIM Keliling pada hari ini.
Saparan Bekakak, rekayasa lalu lintas, Jalan Wates, Gamping, Polresta Sleman, jalan alternatif, Bandara YIA, macet Gamping, kirab Saparan Bek