Harga Ayam dan Telur Naik Seusai MBG Kembali Berjalan

Sunartono
Sunartono Sabtu, 18 Juli 2026 16:57 WIB
Harga Ayam dan Telur Naik Seusai MBG Kembali Berjalan

Foto ilustrasi telur. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kembali berjalan setelah masa libur sekolah mulai berdampak pada pasar komoditas peternakan. Harga ayam broiler dan telur ayam ras di tingkat peternak menunjukkan tren kenaikan dalam sepekan terakhir setelah sebelumnya sempat tertekan akibat kelebihan pasokan.

Selain dipengaruhi kembali bergulirnya Program MBG, meningkatnya harga juga bertepatan dengan berakhirnya bulan Suro dalam kalender Jawa. Berakhirnya periode yang identik dengan minimnya kegiatan hajatan tersebut turut mendorong kenaikan permintaan pangan di masyarakat.

Harga Ayam Broiler Naik 4,11 Persen

Data Badan Pusat Statistik (BPS) per 14 Juli 2026 menunjukkan harga ayam broiler naik 4,11 persen dibandingkan sepekan sebelumnya menjadi Rp21.736 per kilogram. Sementara itu, harga telur ayam ras meningkat 0,66 persen menjadi Rp22.644 per kilogram.

Kenaikan tersebut menjadi sinyal pemulihan setelah harga ayam broiler sempat merosot hingga Rp14.000 per kilogram pada awal Juli 2026 akibat kondisi oversupply.

Permintaan Meningkat Picu Demand Shock

Dosen Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dinda Aslam Nurul Hida, S.P., M.Si., menilai kenaikan harga dipengaruhi lonjakan permintaan atau demand shock yang datang bersamaan dari konsumsi masyarakat dan Program MBG.

Menurut Dinda, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan sektor hulu, khususnya peternak, masih belum cukup fleksibel untuk merespons perubahan permintaan dalam waktu singkat.

"Karena itu, diperlukan penguatan buffer stock agar perubahan permintaan dalam skala besar dapat diredam secara lebih bertahap,” ujar Dinda, Sabtu (18/7/2026).

Ia menjelaskan, Program MBG memiliki skala yang sangat besar dengan dukungan anggaran Rp70,2 triliun untuk melayani 61,96 juta penerima manfaat. Besarnya kebutuhan pangan dari program tersebut turut mendorong inflasi kelompok volatile food hingga mencapai 6,44 persen.

Pemerintah Diminta Jaga Keadilan Rantai Pasok

Meski harga mulai membaik, Dinda mengingatkan pemerintah agar memastikan kenaikan tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi peternak.

Menurutnya, evaluasi terhadap transmisi harga dari tingkat konsumen hingga produsen perlu diperkuat agar keuntungan tidak berhenti di tingkat perantara.

"Efisiensi yang berkeadilan dalam rantai pasok sama pentingnya dengan peningkatan volume produksi,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mengaitkan kenaikan harga pangan dengan Program MBG. Menurutnya, inflasi pangan saat ini dipengaruhi berbagai faktor lain, termasuk kenaikan biaya operasional nelayan yang memengaruhi harga ikan segar dan persoalan tata niaga impor bawang putih yang menyebabkan kenaikan harga di 269 kabupaten/kota pada pekan kedua Juli 2026.

Harga Berpotensi Tetap Tinggi

Dinda memperkirakan kenaikan harga ayam dan telur cenderung bersifat jangka pendek karena kedua komoditas tersebut memiliki siklus produksi yang relatif cepat.

Namun, ia mengingatkan kondisi berbeda dapat terjadi pada komoditas seperti beras apabila target Program MBG dipercepat hingga menjangkau 82 juta penerima manfaat pada akhir tahun tanpa diimbangi peningkatan kapasitas produksi.

"Jika target Program Makan Bergizi Gratis dipercepat hingga mencapai 82 juta penerima manfaat pada akhir tahun, harga pangan berpotensi tetap tinggi apabila peningkatan permintaan tidak diimbangi dengan ekspansi kapasitas produksi di sektor hulu,” tegas Dinda.

Pemerintah sendiri telah menetapkan Harga Acuan Pembelian (HAP) sejak 6 Juli 2026 sebesar Rp19.500 per kilogram untuk ayam hidup (livebird) dan Rp24.000 per kilogram untuk telur ayam ras.

Meski demikian, Dinda menilai kebijakan tersebut belum sepenuhnya melindungi peternak mandiri apabila pengawasan pelaksanaannya di lapangan belum berjalan optimal.

“Harga acuan jangan hanya menjadi referensi moral, tetapi harus benar-benar dijadikan rujukan utama dalam kontrak pengadaan," pungkasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online