SDN Pingit Sebut MBG Bantu Siswa yang Berangkat Tanpa Sarapan

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Selasa, 14 Juli 2026 16:17 WIB
SDN Pingit Sebut MBG Bantu Siswa yang Berangkat Tanpa Sarapan

-Faris Audha (kiri), siswa kelas V SDN Pingit, menyantap makan siang dalam rantang MBG di ruang kelasnya pada Selasa (14/7/2026). Stefani Yulindriani

Harianjogja.com, JOGJA—Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai memberikan manfaat nyata bagi siswa SDN Pingit, Kapanewon Tegalrejo, Kota Jogja. Selain membantu memenuhi kebutuhan gizi anak-anak dari keluarga prasejahtera, pelaksanaan program selama hampir satu tahun juga berlangsung tanpa kasus keracunan makanan.

Sebanyak 64 siswa bersama 13 guru dan tenaga kependidikan kini menerima makanan bergizi setiap hari. Pihak sekolah menyebut distribusi berjalan lancar dan menu yang disajikan berganti setiap hari sehingga dapat memenuhi kebutuhan gizi para penerima manfaat.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SDN Pingit, Sri Puji Haryanti, mengatakan seluruh warga sekolah memperoleh manfaat dari program tersebut.

"Semua dapat. Siswa dapat, guru juga dapat," ujarnya di SDN Pingit, Selasa (14/7/2026).

Menurut Sri Puji, keberadaan MBG sangat membantu karena sebagian besar siswa berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah. Bahkan, masih ada peserta didik yang berangkat ke sekolah tanpa sempat sarapan.

"Kalau di sekolah kami banyak anak-anak dari keluarga menengah ke bawah yang mungkin paginya juga tidak sarapan. Jadi MBG ini memang sangat bermanfaat," katanya.

SDN Pingit berada dalam layanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sama dengan SMP Gotong Royong. Selama ini koordinasi antara sekolah dan SPPG berjalan baik, termasuk ketika sekolah menggelar kegiatan di luar kelas. Jadwal distribusi makanan dapat disesuaikan agar siswa tetap memperoleh MBG sebelum berangkat atau membawanya sebagai bekal.

"Kalau ada kegiatan pagi, kami bisa koordinasi supaya makanan dikirim lebih awal. Bahkan sebelum pukul 07.00 makanan sudah sampai di sekolah," ujarnya.

Selama hampir satu tahun pelaksanaan MBG, pihak sekolah mengaku belum pernah menerima laporan mengenai kasus keracunan makanan.

"Alhamdulillah selama hampir satu tahun ini aman, belum pernah ada kasus keracunan," katanya.

Meski demikian, Sri Puji berharap ke depan program MBG dapat lebih diprioritaskan bagi sekolah yang mayoritas siswanya berasal dari keluarga kurang mampu sehingga manfaatnya semakin tepat sasaran.

"Kalau melihat kondisi sekolah kami, memang anak-anak sangat membutuhkan. Mungkin bisa diprioritaskan bagi yang benar-benar membutuhkan," ujarnya.

Kantin Sekolah Mulai Beradaptasi

Sebelum MBG berjalan, sebagian siswa membawa bekal dari rumah, sementara yang lain mengandalkan uang saku dari orang tua yang mayoritas bekerja sebagai buruh. Untuk memenuhi kebutuhan makan siang, sekolah mengelola kantin sederhana yang menjual makanan dengan harga terjangkau, seperti nasi kucing, soto, dan menu lain sekitar Rp3.000 per porsi.

Setelah program MBG diterapkan, aktivitas kantin sempat menurun karena kebutuhan makan siang siswa telah dipenuhi. Namun, sekolah melihat siswa masih membeli makanan ringan saat jam istirahat sehingga kantin akan kembali diaktifkan dengan menyediakan jajanan yang tetap terjangkau.

"Setelah ada MBG, kantin memang agak surut. Tapi ternyata anak-anak masih tetap jajan. Akhirnya kami berencana mengaktifkan lagi kantin sekolah dengan makanan yang harganya tetap terjangkau," katanya.

Untuk menjaga keamanan siswa, sekolah menutup akses keluar gerbang selama jam istirahat sehingga peserta didik hanya diperbolehkan membeli makanan di lingkungan sekolah.

Salah seorang siswa kelas V SDN Pingit, Faris Audha, mengaku menyukai menu ayam bakar, ayam goreng, dan tahu yang disajikan dalam program MBG. Sebelum program tersebut berjalan, ia biasa membawa bekal nasi dan telur dari rumah, serta sesekali membeli makanan di kantin dengan uang saku Rp5.000 per hari. Meski kini memperoleh makan siang gratis, Faris mengaku masih membeli camilan seperti bakwan saat jam istirahat.

"Yang paling suka ayam bakar," ujarnya.

Anak pertama dari pasangan penjual es degan dan pecel itu mengaku lebih senang mengikuti kegiatan belajar sejak adanya program MBG.

"Saya senang ada MBG," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online