Banyak Siswa Tak Sarapan, MBG Jadi Andalan di SMP Gotong Royong

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Selasa, 14 Juli 2026 15:07 WIB
Banyak Siswa Tak Sarapan, MBG Jadi Andalan di SMP Gotong Royong

-Siswa SMP Gotong Royong Jogja menerima paket Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah tersebut, Senin (13/7/2026). (Stefani Yulindriani)

Harianjogja.com, JOGJA—Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai memberikan dampak bagi siswa SMP Gotong Royong Jogja yang mayoritas berasal dari keluarga prasejahtera dan rentan putus sekolah. Pihak sekolah menilai program tersebut tepat sasaran karena membantu memenuhi kebutuhan gizi peserta didik yang selama ini kerap berangkat ke sekolah tanpa sarapan atau hanya membeli jajanan seadanya saat istirahat.

Distribusi MBG di SMP Gotong Royong Jogja dimulai pada 13 Juli 2026. Sebanyak 52 penerima manfaat yang terdiri atas 23 siswa SMP, 29 siswa SMA, serta para guru kini menerima makanan bergizi setiap hari sebagai bagian dari pelaksanaan program tersebut.

Kepala SMP Gotong Royong Jogja, Amelita Tarigan, mengatakan para siswa menyambut program tersebut dengan antusias karena manfaatnya langsung dirasakan dalam kegiatan belajar sehari-hari.

"Anak-anak menerima dengan senang hati. Kalau tidak datang justru mereka merasa kehilangan karena benar-benar merasakan manfaatnya," katanya, Selasa (14/7/2026).

Menurut Amelita, hampir seluruh siswa di SMP maupun SMA Gotong Royong berasal dari keluarga kurang mampu. Seluruh peserta didik telah menerima Program Indonesia Pintar (PIP) atau sedang diupayakan memperoleh bantuan pendidikan apabila belum terdaftar sebagai penerima.

Sebelum MBG berjalan, banyak siswa datang ke sekolah tanpa sarapan. Saat jam istirahat, mereka umumnya hanya membeli jajanan sederhana karena keterbatasan ekonomi. Untuk membantu memenuhi kebutuhan makan siswa, sekolah selama ini rutin mencari donatur melalui program Jumat Berkah.

"Sekarang anak-anak sangat antusias. Bahkan mereka sudah mengetahui menu yang akan disajikan setiap hari karena jadwalnya dibagikan sebelumnya," ujarnya.

Program MBG juga memperkenalkan berbagai jenis buah kepada para siswa. Sejumlah buah seperti leci, anggur merah, anggur hijau, kelengkeng, hingga jeruk sunkist menjadi menu yang sebelumnya jarang mereka nikmati.

"Anak-anak bilang belum pernah makan buah-buahan seperti itu. Jadi mereka benar-benar senang," katanya.

Amelita berharap pelaksanaan MBG ke depan semakin efektif dengan pendataan penerima manfaat berdasarkan kondisi di masing-masing sekolah. Menurutnya, pendekatan tersebut akan membuat bantuan lebih tepat sasaran sehingga diprioritaskan bagi siswa yang benar-benar membutuhkan.

"Kalau menurut saya, sekolah bisa mendata berapa siswa yang membutuhkan. Jadi programnya lebih tepat sasaran dan tidak menimbulkan penolakan di sekolah yang siswanya memang sudah tercukupi," ujarnya.

Selain memberikan layanan pendidikan, SMP Gotong Royong Jogja juga menjadi sekolah alternatif bagi anak-anak yang terancam putus sekolah. Setiap tahun sekolah ini menerima siswa yang terlambat mendaftar, terkendala biaya pendidikan, hingga harus berpindah dari sekolah lain akibat persoalan administrasi.

"Ada anak yang seharusnya sudah kelas VIII, tetapi sempat menganggur setahun karena terlambat mendaftar sekolah. Ada juga yang datang ke sini setelah tidak diterima di sekolah negeri atau diminta pindah karena kendala administrasi," katanya.

Meski tidak memungut biaya pendidikan, operasional sekolah tetap berjalan melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Program Indonesia Pintar (PIP), serta dukungan para donatur. Bantuan tersebut juga menjadi penopang berbagai kegiatan di luar pembelajaran, seperti kunjungan ke museum dan kegiatan kokurikuler lainnya.

"Kalau ada kegiatan, saya mencari donatur satu per satu. Alhamdulillah selama ini selalu ada yang membantu sehingga anak-anak tetap bisa mengikuti berbagai kegiatan pembelajaran," ujarnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online