Hanya Peroleh 11 Murid Baru, SDN Pingit Andalkan Gotong Royong

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Selasa, 14 Juli 2026 13:37 WIB
Hanya Peroleh 11 Murid Baru, SDN Pingit Andalkan Gotong Royong

Harian Jogja/Stefani YulindrianiSiswa baru SDN Pingit menunjukkan gambar yang telah diwarnai di ruang kelas setelah mengikuti rangkaian MPLS hari kedua pada Selasa (14/7/2026).

Harianjogja.com, JOGJA—Jumlah peserta didik baru di SDN Pingit, Kemantren Tegalrejo, Kota Jogja, memang bertambah pada tahun ajaran 2026/2027. Namun, sekolah tersebut masih menghadapi tantangan memenuhi jumlah siswa ideal karena hanya menerima 11 murid kelas I, jauh di bawah target rombongan belajar yang ditetapkan pemerintah.

Meski demikian, capaian tersebut lebih baik dibandingkan tahun ajaran sebelumnya yang hanya memperoleh tujuh siswa baru. Kondisi ini membuat sekolah terus mencari strategi agar tetap diminati masyarakat sekaligus menjaga kualitas layanan pendidikan di tengah keterbatasan jumlah peserta didik dan anggaran operasional.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SDN Pingit, Sri Puji Haryanti, mengatakan peningkatan jumlah murid baru menjadi kabar positif meski belum mampu mengatasi persoalan utama yang dihadapi sekolah.

"Alhamdulillah tahun kemarin dapat tujuh siswa, tahun ini menjadi 11. Memang belum signifikan, tetapi ada peningkatan," ujarnya saat ditemui di sela pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SDN Pingit pada Selasa (14/7/2026).

Saat ini SDN Pingit memiliki total 64 siswa dari kelas I hingga kelas VI. Setiap jenjang hanya terdiri atas satu rombongan belajar sehingga jumlah peserta didik yang terbatas turut memengaruhi besaran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang diterima.

Sri Puji mengakui berkurangnya jumlah siswa di sekolah negeri menjadi tantangan yang semakin terasa dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, banyak orang tua kini lebih memilih menyekolahkan anak ke sekolah swasta berbasis agama meskipun sekolah negeri tidak memungut biaya pendidikan. Kondisi tersebut mendorong sekolah untuk memperkuat identitas dan keunggulan agar lebih dikenal masyarakat.

"Kami juga prihatin. Akhirnya saya berpikir, sekolah ini harus menjual apa supaya masyarakat tertarik. Branding sekolah itu harus seperti apa," katanya.

Sebagai upaya meningkatkan minat masyarakat, SDN Pingit menjalin kerja sama dengan ketua RT, RW, serta berbagai instansi di sekitar sekolah. Kolaborasi tersebut juga diwujudkan dalam berbagai program penguatan karakter yang melibatkan Polsek Tegalrejo, Koramil, Kantor Urusan Agama (KUA), Puskesmas, hingga orang tua siswa.

Pada pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), peserta didik dikenalkan dengan lingkungan sekitar yang berada di kawasan sejumlah instansi pemerintah, seperti KUA, Puskesmas, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), kemantren, hingga Korem. Kepolisian juga memberikan materi mengenai keamanan anak dan bahaya penyalahgunaan narkoba.

"Kami mengenalkan anak-anak pada lingkungan sekitar sekaligus berbagai profesi agar mereka mengetahui fasilitas dan pelayanan publik yang ada di sekitarnya," ujarnya.

Keterbatasan jumlah siswa turut berdampak pada kemampuan sekolah mengelola anggaran. Dana BOS yang diterima harus digunakan secara cermat, terutama untuk memenuhi kebutuhan buku paket dan operasional pembelajaran.

Apabila terdapat kegiatan yang belum dapat dibiayai melalui BOS, para guru memilih bergotong royong dengan mengumpulkan dana secara sukarela agar program sekolah tetap berjalan.

"Kalau ada kegiatan yang tidak terkover BOS, ya kami urunan. Semangat gotong royong teman-teman guru yang membuat kami tetap bertahan walaupun murid sedikit," katanya.

Selain mengoptimalkan anggaran, sekolah juga memperluas kolaborasi dengan berbagai pihak. Salah satunya bekerja sama dengan KUA untuk menghadirkan kegiatan Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) di lingkungan sekolah tanpa membebani anggaran operasional.

SDN Pingit juga menggandeng Puskesmas dan psikolog untuk memberikan pendampingan kepada peserta didik, termasuk seorang murid baru yang diduga memiliki kebutuhan khusus. Siswa tersebut dijadwalkan menjalani asesmen oleh Unit Layanan Disabilitas (ULD) pada Agustus mendatang agar memperoleh layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Sri Puji berharap pemerintah mengevaluasi ketentuan jumlah minimal peserta didik dalam setiap rombongan belajar. Menurutnya, target 28 siswa per kelas sulit dipenuhi oleh sejumlah sekolah negeri yang berada di kawasan dengan jumlah anak usia sekolah yang terus menurun.

"Kalau bisa targetnya diturunkan menjadi 20 siswa per kelas saja. Untuk mencapai 20 saja kami sudah berat," ujarnya.

Ia berharap dukungan pemerintah terhadap sekolah dengan jumlah murid terbatas terus diperkuat agar layanan pendidikan tetap terjaga. Menurutnya, sekolah akan terus berupaya mempertahankan kualitas pembelajaran melalui berbagai inovasi dan kolaborasi sehingga seluruh peserta didik tetap memperoleh layanan pendidikan yang optimal. "Kami akan terus berusaha dengan segala cara. Yang penting sekolah tetap hidup dan anak-anak mendapatkan layanan pendidikan yang terbaik," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online