Perjalanan Ganis Naluri Putri Menjadi Dalang Perempuan di Jogja

Yosef Leon
Yosef Leon Sabtu, 25 Juli 2026 12:57 WIB
Perjalanan Ganis Naluri Putri Menjadi Dalang Perempuan di Jogja

Seniman dalang perempuan asal Bantul, Ganis Naluri Putri saat tampil di salah satu acara wayang beberapa waktu lalu. Ganis jadi satu dari sedikit perempuan yang terjun ke dunia pedalangan. Dokumentasi Istimewa

Harianjogja.com, BANTUL—Di tengah masih sedikitnya dalang perempuan di Jogja, nama Ganis Naluri Putri menjadi salah satu sosok yang konsisten menjaga tradisi pedalangan. Berawal dari rasa penasaran saat masih duduk di bangku sekolah dasar, perempuan asal Bantul itu kini terus aktif tampil di berbagai panggung sekaligus mengupayakan lahirnya generasi baru pecinta wayang.

Perjalanan Ganis memasuki dunia pedalangan bukan berawal dari cita-cita menjadi dalang. Ia justru pertama kali mengenal seni tersebut ketika mengikuti kegiatan ekstrakurikuler karawitan saat masih duduk di kelas V sekolah dasar.

Berawal dari Ajakan Guru Karawitan

Momentum yang mengubah arah perjalanannya datang ketika guru karawitan yang merupakan putra dalang kondang menawarkan kesempatan belajar wayang di rumahnya.

“Ini ada tidak yang mau belajar wayang di rumah saya?”

Ajakan itu membuat Ganis mendatangi sanggar milik keluarga Ki Timbul Hadiprayitno, salah satu tokoh besar dunia pedalangan. Awalnya, ia hanya ingin melihat secara langsung bagaimana wayang dimainkan.

Ketertarikan itu muncul setelah menyaksikan gerakan wayang yang menurutnya begitu cepat dan rumit.

“Terus suka. Gerakannya kok cepat, kok bisa begitu,” ujar Ganis mengenang awal mula ketertarikannya terhadap dunia pedalangan.

Sekitar 2013–2014, Ganis mulai tampil di atas panggung. Kala itu, ia belum membawakan satu lakon penuh, melainkan hanya memainkan cuplikan adegan perang yang kemudian menjadi awal perjalanan panjangnya sebagai dalang.

Prestasi Menguatkan Langkah Menjadi Dalang

Keseriusan Ganis mulai terlihat pada 2014 ketika mengikuti lomba dalang tingkat Kabupaten Bantul. Dalam ajang tersebut, ia berhasil meraih juara II.

Prestasi itu mendorongnya terus mengikuti berbagai perlombaan selama menempuh pendidikan di SMP Negeri 1 Bambanglipuro.

Pada 2017, Ganis mengikuti Festival Dalang Cilik di Universitas Negeri Jogja dan meraih juara harapan I.

Minatnya terhadap pedalangan kemudian membawanya melanjutkan pendidikan ke SMK Negeri 1 Kasihan (SMKI Jogja) dengan memilih jurusan pedalangan. Di sekolah tersebut, ia mulai mempelajari dunia pedalangan secara lebih mendalam, mulai dari teknik memainkan wayang hingga teori dan pakem yang menjadi dasar seorang dalang.

“Awal-awal agak kesulitan juga. Karena di sekolah ada patokannya, ada bukunya,” katanya.

Salah satu rujukan yang dipelajari adalah buku Habirandha, panduan resmi pedalangan gaya Jogja.

Setelah lulus dari SMKI Jogja, Ganis melanjutkan studi di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja dengan tetap memilih jurusan pedalangan. Pendidikan tinggi itu berhasil diselesaikannya pada 2025.

Meski telah menekuni dunia wayang sejak kecil, Ganis mengaku proses belajar tidak pernah benar-benar selesai.

“Di kampus juga tetap ada patokannya. Teorinya juga banyak,” ujarnya.

Dalang Harus Menguasai Lebih dari Sekadar Menggerakkan Wayang

Menurut Ganis, menjadi dalang tidak cukup hanya piawai memainkan wayang di balik kelir.

Seorang dalang harus memahami berbagai unsur penting, mulai dari tata cara keluarnya wayang, penempatan wayang di kelir, dodogan, keprakan, suluk, janturan, hingga pergantian pathet dalam sebuah pementasan.

Ia menegaskan terdapat aturan yang harus dipatuhi saat memainkan wayang.

“Wayang itu tidak boleh terbang,” katanya.

Dalam pertunjukan wayang, perubahan pathet juga menjadi bagian penting yang menggambarkan perjalanan waktu. Pementasan biasanya dimulai dengan pathet nem, dilanjutkan pathet sanga, hingga ditutup pada pathet manyura.

Selain itu, dalang juga wajib memahami suluk yang diiringi instrumen gender serta janturan yang menggambarkan situasi, tokoh, tempat, dan peristiwa dalam cerita.

“Banyak yang dipelajari,” kata Ganis.

Kerumitan tersebut membuatnya merasa masih terus belajar hingga sekarang.

Beberapa penonton bahkan menilai gaya permainan keprak yang dimilikinya berbeda dibandingkan dalang lain.

“Katanya keprakannya beda,” ujarnya.

Saat memilih lakon, Ganis mengaku tidak memiliki cerita favorit tertentu. Namun, ia selalu menikmati bagian peperangan dalam sebuah pementasan.

“Yang penting ada perangnya. Saya senang membawa perang,” katanya.

Terus Membuka Ruang bagi Dalang Perempuan

Kini di usia 24 tahun, Ganis masih aktif menerima undangan pentas di berbagai daerah, termasuk Karanganyar.

Selain menjadi dalang, ia juga rutin mengikuti kegiatan karawitan bersama kelompok di Keloran, Sidomulyo, Bambanglipuro setiap pekan.

Meski demikian, Ganis melihat tantangan yang dihadapi dalang perempuan masih cukup besar. Selain jumlahnya yang belum banyak, dalang yang tidak berasal dari keluarga seniman atau belum memiliki nama besar juga harus berjuang lebih keras untuk memperoleh kesempatan tampil.

“Kadang kesulitannya kalah dengan yang punya trah atau yang sudah dikenal,” katanya.

Karena itu, Ganis menyambut positif kehadiran Festival Suar Dalang Perempuan yang memberikan ruang bagi dalang perempuan untuk tampil sekaligus saling mengenal.

Menurutnya, kegiatan seperti itu penting agar semakin banyak masyarakat mengenal keberadaan dalang perempuan.

“Supaya dalang-dalang perempuan juga dikenal kalangan banyak,” ujarnya.

Regenerasi Masih Menjadi Tantangan

Di tengah kesibukannya, Ganis juga aktif mengajar karawitan setiap Minggu.

Ia melihat minat anak-anak terhadap gamelan masih cukup baik. Namun, untuk dunia pedalangan, menemukan generasi muda yang benar-benar ingin menjadi dalang masih menjadi tantangan tersendiri.

Harapannya, semakin banyak ruang apresiasi dan pembinaan yang dibuka sehingga tradisi pedalangan tetap hidup, termasuk melalui kehadiran dalang perempuan yang terus berkarya di berbagai panggung.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online