Waspada Karhutla di Bantul, Warga Diminta Segera Lapor Titik Api

Kiki Luqman
Kiki Luqman Kamis, 30 Juli 2026 15:17 WIB
Waspada Karhutla di Bantul, Warga Diminta Segera Lapor Titik Api

Kebakaran hutan - Harian Jogja/dok

Harianjogja.com, BANTUL—BPBD Kabupaten Bantul terus memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau seiring meningkatnya potensi kebakaran pada tahun ini. Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun kebakaran agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

Untuk memudahkan pelaporan, masyarakat dapat menghubungi Nomor Darurat 112 atau BPBD Bantul melalui nomor 0274-6462100. BPBD Bantul menegaskan setiap laporan dari masyarakat memiliki peran penting dalam upaya penyelamatan lingkungan.

Langkah pencegahan dilakukan melalui edukasi kepada masyarakat, sosialisasi di berbagai wilayah, pemasangan spanduk larangan pembakaran lahan, hingga penyebaran imbauan agar warga lebih berhati-hati menggunakan api di ruang terbuka.

Kepala Pelaksana BPBD Bantul, Mujahid Amirudin, mengatakan langkah pencegahan menjadi prioritas karena potensi kebakaran pada tahun ini diperkirakan lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, pihaknya berharap kondisi tersebut tidak benar-benar terjadi apabila masyarakat ikut berperan menjaga lingkungan.

"Untuk mencegah karhutla, kami sudah adakan edukasi, sosialisasi, himbauan dan kami buatkan spanduk larangan pembakaran lahan. Kalau melihat prakiraan cuaca dari BMKG, potensi kebakaran tahun ini lebih banyak, tapi semoga tidak terjadi," kata Mujahid, Kamis (30/7).

Menurut dia, sebagian besar kebakaran lahan sebenarnya dapat dicegah apabila masyarakat tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu api, terutama saat cuaca panas dan angin bertiup kencang. Karena itu, BPBD Bantul mengampanyekan sejumlah langkah sederhana yang dapat diterapkan warga untuk mengurangi risiko terjadinya kebakaran.

Melalui materi sosialisasi yang disebarkan kepada masyarakat, BPBD mengingatkan warga agar tidak membakar sampah saat cuaca panas dan berangin. Aktivitas tersebut dinilai sangat berisiko karena bara api dapat dengan mudah terbawa angin dan menyulut rumput maupun semak kering di sekitarnya.

Masyarakat juga diminta menghindari penggunaan api di area hutan maupun lahan kering. Selain itu, setiap api yang digunakan untuk keperluan tertentu harus dipastikan benar-benar padam sebelum ditinggalkan.

BPBD turut mengimbau masyarakat mengawasi setiap aktivitas yang berpotensi menimbulkan percikan api. Kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan juga diminta dihentikan karena dapat menjadi pemicu kebakaran, terutama saat vegetasi dalam kondisi kering akibat musim kemarau.

Pesan penting tersebut juga dituangkan dalam materi kampanye pencegahan karhutla yang berbunyi, "Laporan Anda dapat menyelamatkan hutan, lingkungan, dan nyawa."

Mujahid berharap kesadaran masyarakat terus meningkat seiring memasuki puncak musim kemarau. Menurutnya, upaya pencegahan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

Sebelumnya, kebakaran lahan di Kabupaten Bantul terus meningkat selama musim kemarau 2026. Hingga 26 Juli 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul mencatat sebanyak 45 kejadian kebakaran lahan, dengan mayoritas dipicu aktivitas pembakaran sampah, daun kering, maupun sisa vegetasi yang tidak diawasi hingga api merambat ke area sekitar.

Peningkatan kejadian mulai terlihat sejak Juni dan semakin sering terjadi pada Juli 2026. Laporan kebakaran lahan hampir diterima setiap hari di sejumlah wilayah di Banguntapan, Sedayu, Kasihan, Sewon, Kretek, Pundong, Imogiri, Piyungan, Bambanglipuro, Srandakan, hingga Pleret.

Kepala Bidang Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) BPBD Bantul, Kristanto Kurniawan, mengatakan sebagian besar kebakaran bermula dari aktivitas warga yang membakar sampah atau membersihkan lahan. Kondisi lingkungan yang kering saat musim kemarau membuat api mudah membesar dan merambat ke area sekitar.

"Mayoritas kejadian masih disebabkan aktivitas membakar sampah, daun kering, maupun rumput yang tidak diawasi sehingga api merambat ke semak, rumpun bambu, lahan pertanian, hingga perkebunan," kata Kristanto, Rabu (29/7).

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online