Hari Anak Nasional, Penumpang Cilik KA Bandara Dapat Merchandise
KAI Bandara YIA membagikan merchandise kepada penumpang anak dalam peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Stasiun Yogyakarta dan Stasiun YIA.
Ilustrasi vaksinasi - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja menargetkan sebanyak 3.146 anak menerima imunisasi Human Papillomavirus (HPV) dalam Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) yang berlangsung sepanjang Agustus 2026. Tahun ini menjadi kali pertama imunisasi HPV di Kota Jogja juga diberikan kepada anak laki-laki kelas 5 SD sebagai bagian dari perluasan program imunisasi nasional.
Program tersebut dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan perlindungan terhadap infeksi virus HPV yang dapat menyebabkan berbagai jenis kanker. Selain menyasar anak laki-laki kelas 5 SD, imunisasi juga diberikan kepada anak perempuan kelas 5 SD serta anak perempuan kelas 6 SD yang belum pernah memperoleh vaksin HPV.
Kepala Seksi Pencegahan, Pengendalian Penyakit Menular, dan Imunisasi Dinkes Kota Jogja, dr. Endang Sri Rahayu, mengatakan tantangan terbesar dalam pelaksanaan program saat ini bukan lagi ketersediaan vaksin, melainkan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya imunisasi sebagai langkah pencegahan penyakit.
"Yang paling penting adalah edukasi. Edukasi itu tidak cukup sekali atau dua kali. Harus terus-menerus dilakukan supaya masyarakat memahami bahwa imunisasi diberikan kepada anak yang sehat untuk mencegah penyakit," ujarnya, Kamis (30/7/2026).
Menurut Endang, masih banyak masyarakat yang menganggap imunisasi hanya diberikan ketika terjadi wabah penyakit. Padahal, vaksin HPV diberikan kepada anak-anak yang sehat untuk melindungi mereka dari infeksi virus HPV yang berisiko menyebabkan kanker serviks maupun sejumlah jenis kanker lainnya.
Ia menjelaskan Indonesia merupakan negara dengan jumlah kasus kanker serviks tertinggi di kawasan Asia Tenggara. Secara global, kanker serviks juga menjadi salah satu kanker dengan angka kejadian tertinggi pada perempuan setelah kanker payudara.
"Vaksin ini bertujuan membentengi masyarakat agar tidak terjadi penyakit di kemudian hari. Cakupan imunisasi yang tinggi akan membentuk kekebalan komunitas," katanya.
Pelaksanaan imunisasi HPV akan dilakukan di sekolah dasar (SD), madrasah ibtidaiyah (MI), pondok pesantren, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), hingga Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA). Jadwal imunisasi disusun berdasarkan koordinasi antara puskesmas dan masing-masing satuan pendidikan.
Bagi anak yang belum dapat mengikuti imunisasi pada Agustus karena sakit atau berada di luar kota, Dinkes Kota Jogja akan melaksanakan penyisiran (sweeping) hingga September 2026.
"Kalau Agustus masih ada yang belum mendapatkan imunisasi karena sakit atau alasan lain, nanti akan disusulkan sampai September," jelasnya.
Endang menegaskan vaksin HPV diberikan tanpa dipungut biaya kepada seluruh kelompok sasaran karena pembiayaannya ditanggung pemerintah.
"Ini bukan gratis dalam arti tidak ada biaya, tetapi biayanya ditanggung pemerintah untuk sasaran yang telah ditetapkan," katanya.
Ia mengungkapkan harga vaksin HPV di fasilitas kesehatan swasta berkisar Rp900.000 hingga Rp1 juta per dosis. Karena itu, program imunisasi pemerintah dinilai sangat membantu masyarakat memperoleh perlindungan terhadap penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui vaksinasi.
Untuk mendukung kelancaran pelaksanaan BIAS, Dinkes menggandeng sekolah dan puskesmas melakukan sosialisasi kepada orang tua sebelum pelaksanaan imunisasi. Sekolah juga akan menyampaikan jadwal penyuntikan serta mengimbau siswa sarapan dan membawa air minum sebelum menerima vaksin.
Menurut Endang, komunikasi dengan orang tua menjadi bagian penting agar cakupan imunisasi meningkat sekaligus meminimalkan penolakan terhadap program tersebut.
"Kami menggandeng sekolah dan puskesmas untuk melakukan sosialisasi sebelum Agustus sehingga orang tua memahami manfaat vaksin HPV," ujarnya.
Ia juga meluruskan berbagai informasi keliru yang masih beredar di masyarakat, termasuk anggapan bahwa vaksin HPV dapat menyebabkan kemandulan. Menurutnya, berbagai penelitian telah membuktikan vaksin HPV aman dan tidak berkaitan dengan infertilitas maupun penyakit autoimun.
"Justru mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. Biaya pengobatan kanker serviks sangat besar, apalagi jika baru diketahui pada stadium lanjut," katanya.
Endang berharap dukungan orang tua, sekolah, tenaga kesehatan, dan masyarakat dapat meningkatkan cakupan imunisasi HPV sehingga risiko penyakit akibat infeksi virus HPV dapat ditekan pada masa mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
KAI Bandara YIA membagikan merchandise kepada penumpang anak dalam peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Stasiun Yogyakarta dan Stasiun YIA.
BPBD DIY memprediksi puncak kekeringan terjadi pada Agustus 2026. Bantul dan Gunungkidul menjadi wilayah paling kritis akibat krisis air bersih.
Dinkes Kota Jogja menargetkan 3.146 anak menerima vaksin HPV pada BIAS 2026. Tahun ini, imunisasi juga menyasar anak laki-laki kelas 5 SD.
DPUPRKP Gunungkidul mencopot bando Selamat Datang Wonosari di Logandeng, Playen karena dinilai membahayakan setelah berusia lebih dari 10 tahun.
Pemprov DIY menetapkan empat kalurahan sebagai percontohan revitalisasi Lumbung Mataraman untuk memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi.
Jadwal KRL Solo-Jogja Jumat 31 Juli 2026 tersedia 12 perjalanan. Tarif tetap Rp8.000 dengan layanan dari Palur hingga Yogyakarta.