DPRD Jogja Dorong Cagar Budaya Jadi Penggerak Ekonomi Kemantren

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Selasa, 01 September 2026 21:17 WIB
DPRD Jogja Dorong Cagar Budaya Jadi Penggerak Ekonomi Kemantren

Ilustrasi cagar budaya./Harian Jogja

Harianjogja.com, JOGJA— Ruang publik di tingkat kemantren didorong tidak berhenti sebagai tempat berkumpul dan berkegiatan warga. DPRD Kota Jogja melihat kawasan berbasis cagar budaya memiliki peluang dikembangkan menjadi ruang publik terpadu yang sekaligus mampu menggerakkan ekonomi lokal.

Salah satu contoh yang tengah didorong adalah Museum Monumen Pangeran Diponegoro di Kemantren Tegalrejo melalui program Latar Rejo. Kegiatan tersebut melibatkan 65 pelaku usaha sekaligus menghadirkan beragam kuliner tradisional khas Jogja.

Kuliner yang ditawarkan antara lain gudeg, bakmi Jawa, kudapan angkringan, jajanan pasar hingga minuman berbahan rempah. Kehadiran pelaku usaha tersebut menunjukkan bahwa kawasan museum dapat menjadi ruang pertemuan antara aktivitas budaya, edukasi sejarah, dan kegiatan ekonomi masyarakat.

Anggota Komisi B DPRD Kota Jogja Oleg Yohan mengatakan konsep seperti itu layak dikembangkan di kemantren lain dengan menyesuaikan potensi masing-masing wilayah.

“Selaku dewan, tentu saja kami mendorong kegiatan-kegiatan seperti ini ada di kemantren-kemantren, yang kemudian bisa menjadi daya ungkit nilai ekonomi,” ujar Oleg, Selasa (1/9/2026).

Cagar Budaya dan Ekonomi Kreatif

Menurut Oleg, Museum Monumen Pangeran Diponegoro tidak harus dipandang hanya sebagai lokasi untuk mengenal sejarah. Kawasan tersebut juga dapat dimanfaatkan sebagai ruang publik terpadu yang memberikan manfaat ekonomi secara langsung bagi masyarakat sekitar.

Konsep itu memungkinkan kegiatan pelestarian sejarah dan budaya berjalan beriringan dengan pengembangan UMKM serta ekonomi kreatif. Ruang publik pun dapat memiliki fungsi yang lebih luas karena menjadi tempat warga berkegiatan sekaligus lokasi pelaku usaha menawarkan produk mereka.

Oleg menilai pola serupa dapat diterapkan di wilayah lain. Setiap kemantren dapat mengembangkan ruang publik dengan mengangkat karakter, potensi, dan kekhasan masing-masing.

Dengan pendekatan tersebut, ruang publik tidak hanya menjadi tempat berkumpul warga, tetapi juga dapat menjadi wadah pertumbuhan pelaku UMKM dan ekonomi kreatif. Aktivitas yang muncul di dalamnya diharapkan mampu menciptakan perputaran ekonomi di lingkungan sekitar.

Latar Rejo Didorong Masuk Kalender Tahunan

Komisi B DPRD Kota Jogja, kata Oleg, akan terus mendorong munculnya ruang-ruang kreatif yang dapat mempertemukan kepentingan pelestarian budaya dengan penguatan ekonomi kerakyatan.

Komisi B sendiri membidangi sektor pariwisata, kebudayaan, UMKM, dan perdagangan. Karena itu, pengembangan ruang publik yang memiliki nilai budaya sekaligus potensi ekonomi menjadi bagian yang mendapat perhatian.

Namun, pengembangan ruang publik tersebut membutuhkan sinergi antara legislatif dan organisasi perangkat daerah. Oleg menyebut Dinas Perindustrian, Koperasi dan UKM serta Dinas Pariwisata Kota Jogja sebagai pihak yang perlu terlibat dalam pengembangan konsep tersebut.

“Kami sangat berharap kegiatan seperti Latar Rejo ini menjadi salah satu event kalender tahunan,” tegas politikus Partai Nasdem tersebut.

Keberlanjutan kegiatan seperti Latar Rejo dinilai penting agar ruang publik berbasis potensi lokal tidak hanya ramai pada pelaksanaan kegiatan tertentu. Jika dikembangkan secara berkelanjutan, setiap kemantren dapat memiliki pusat aktivitas yang menjadi ciri khas wilayahnya.

Oleg berharap pengembangan ruang publik serupa nantinya mampu menciptakan lebih banyak pusat aktivitas ekonomi di tingkat kemantren. Setiap wilayah dapat memiliki daya tarik masing-masing yang berpotensi menarik wisatawan sekaligus menggerakkan perekonomian warga.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online