Aliran PDAM Macet Bertahun-tahun, Warga Panggang Beli Air hingga 17 Tangki

David Kurniawan
David Kurniawan Minggu, 27 September 2026 14:37 WIB
Aliran PDAM Macet Bertahun-tahun, Warga Panggang Beli Air hingga 17 Tangki

Proses penyaluran air bersih yang diberikan oleh Alumni FEB Angkatan 80 A, UPN Veteran Yogyakarta di Padukuhan Padem, Girikarto, Panggang, Minggu (27/9). Harian Jogja/David Kurniawan.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— Warga Padukuhan Padem, Kalurahan Girikarto, Kapanewon Panggang, terpaksa memutus instalasi PDAM karena aliran air tidak mengalir selama bertahun-tahun. Kondisi tersebut membuat warga harus membeli air bersih secara mandiri setiap kali musim kemarau.

Selain membeli air, warga juga mengandalkan bantuan dari berbagai pihak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Aliran PDAM tidak mengalir lebih dari lima tahun. Makanya warga memilih memutus intalasi untuk berlangganan,” kata Dukuh Padem, Sugiato kepada wartawan, Minggu (27/9/2026).

Sugiato menjelaskan instalasi PDAM pertama kali masuk ke wilayah Padem pada 2016. Saat itu, keberadaan jaringan tersebut menjadi harapan warga untuk mendapatkan akses air bersih.

Namun, seiring bertambahnya jumlah pelanggan, aliran air PDAM justru tidak lagi berjalan lancar.

“Di awal-awal bisa mengalir, tapi setelah pelanggan banyak alirannya jadi terganggu,” katanya.

Warga Beli Air Saat Kemarau

Sugiato berharap pelayanan PDAM dapat diperbaiki karena air merupakan kebutuhan utama masyarakat. Terlebih, wilayah tersebut kerap menghadapi persoalan ketersediaan air saat musim kemarau.

Sejak 2024, menurut dia, sudah ada wacana pembangunan bak penampungan air. Namun, hingga sekarang rencana tersebut belum juga direalisasikan.

“Kalau musim hujan tidak ada masalah karena bisa tercukupi dari air hujan. Tapi, kalau kemarau harus membeli. Hingga sekarang, saya sudah membeli sebanyak 17 tangki sejak krisis air bersih melanda,” katanya.

Secara keseluruhan, terdapat sekitar 160 kepala keluarga di Padukuhan Padem. Mereka tersebar dalam tujuh Rukun Tetangga (RT).

Memasuki musim kemarau, warga di wilayah tersebut mengalami persoalan serupa, yakni kekurangan air bersih karena tidak memiliki sumber air yang mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari.

“Sudah ada upaya membangun sumur bor di empat titik. Tapi, airnya juga tidak keluar,” katanya.

Selain membeli air secara swadaya, warga Padem juga telah menerima bantuan air bersih dari sejumlah pihak.

Salah satunya berasal dari Alumni FEB Angkatan 80 A, UPN Veteran Yogyakarta. Bantuan tersebut dinilai sangat membantu warga dalam memenuhi kebutuhan air.

“Bantuan ini sangat berarti karena tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan harian, tapi juga dipergunakan mengurusi ternak yang dimiliki warga,” katanya.

Alumni Salurkan 60 Tangki Air

Koordinator Alumni FEB Angkatan 80 A, UPN Veteran Yogyakarta, Ilham Nur mengatakan pihaknya menyalurkan sebanyak 60 tangki air bersih kepada warga Padem, Kalurahan Girikarto.

Bantuan tersebut berasal dari iuran para alumni dan disalurkan kepada warga yang membutuhkan.

“Ini musim kemarau dan dipilih penyaluran air bersih di Padukuhan Padem,” katanya.

Ilham berharap bantuan air bersih tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Menurut dia, kemarau panjang membuat warga mengalami krisis air bersih sehingga bantuan diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

“Dampak kemarau panjang membuat warga mengalami krisis air bersih, makanya kami memberikan bantuan kepada yang membutuhkan,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online