Hujan Belum Pulihkan Sumber Air, 11 Sekolah di Sleman Masih Kekeringan

Catur Dwi Janati
Catur Dwi Janati Senin, 26 Oktober 2026 00:17 WIB
Hujan Belum Pulihkan Sumber Air, 11 Sekolah di Sleman Masih Kekeringan

Foto ilustrasi kekeringan. - Magnific

Harianjogja.com, SLEMAN—Hujan yang mulai turun belum mengakhiri krisis air bersih di Kabupaten Sleman. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman masih menyalurkan bantuan air ke 11 sekolah, satu puskesmas, dan sejumlah wilayah yang sumber airnya belum pulih.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman, Uun Mardiyanto, mengatakan permintaan bantuan belum banyak berubah karena hujan yang turun belum maksimal. Distribusi air bersih pun masih berlangsung hingga Minggu (25/10/2026).

"Masih sama [permintaannya], karena hujannya juga masih belum maksimal atau masih permulaan. Hari ini masih dropping juga," kata Uun Mardiyanto dihubungi pada Minggu (25/10/2026).

Sejumlah wilayah yang masih membutuhkan bantuan air bersih meliputi Bangunkerto, Merdikorejo, Margorejo, Margokaton, Sumberarum, dan Sidorejo.

"Itu [wilayah] yang saat ini masih masih dropping," tandasnya.

Sebelas Sekolah Masih Membutuhkan Air Bersih

Dari 12 sekolah yang sebelumnya mengalami kekeringan, baru satu sekolah yang tidak lagi membutuhkan bantuan air bersih. Kebutuhan air di sekolah tersebut kini ditangani melalui program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas).

Sementara itu, 11 sekolah lainnya masih menerima bantuan karena sumber airnya belum kembali mencukupi. Berdasarkan pemantauan BPBD, hujan yang turun pada hari sebelumnya dan Minggu belum menunjukkan peningkatan debit air.

"Kalau dari hujan yang kemarin dan hari ini kami pantau sepintas belum ada belum ada penambahan debit. Masih sama, masih membutuhkan dropping," tandasnya.

Bantuan juga masih disalurkan ke Puskesmas Ngaglik II yang mengalami kekeringan. Menurut Uun, pekan depan fasilitas kesehatan tersebut diperkirakan mulai memasuki proses pembangunan sumur bor.

"Masih tapi pekan depan kalau nggak salah sudah mulai proses untuk sumur bor," ujarnya.

Meski ada rencana pembangunan sumur bor, BPBD belum akan menghentikan distribusi air sebelum kebutuhan di lokasi tersebut terpenuhi.

"Tapi ya tetep, tetep prinsip sebelum ada air, kami tetap dropping. Pokoknya sampai kemudian ada kebutuhan air terpenuhi baru kami bisa berhenti dropping," lanjut Uun.

Distribusi Air Tembus 1 Juta Liter

Secara keseluruhan, BPBD Sleman telah menyalurkan 193,7 ritase bantuan air bersih selama periode April hingga Oktober 2026. Hingga Jumat (23/10/2026), volume air yang didistribusikan mencapai 1.024.000 liter atau lebih dari satu juta liter.

Bantuan tersebut menjangkau 10 kapanewon, yakni Turi, Moyudan, Tempel, Godean, Minggir, Seyegan, Pakem, Cangkringan, Sleman, dan Ngaglik.

Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Bambang Kuntoro, menjelaskan terdapat empat alternatif penanganan ketika sekolah mengalami kekeringan. Langkah pertama dapat berupa pembuatan atau pendalaman sumur bor.

Alternatif berikutnya adalah memanfaatkan pasokan air sementara dari warga sekitar atau menyambungkan jaringan air dari PDAM. Jika ketiga pilihan tersebut tidak dapat diterapkan, sekolah baru menerima bantuan melalui pengedropan air bersih.

Bambang mengatakan sekolah-sekolah penerima bantuan mengalami kekeringan karena sumur mereka mengering. Setiap tangki bantuan membawa 2.000 liter air.

Pasokan tersebut diperlukan untuk mendukung aktivitas warga sekolah, termasuk beribadah serta memenuhi kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK).

Menurut Bambang, kekeringan di lingkungan sekolah bukan kali pertama terjadi. Kondisi serupa juga melanda sejumlah sekolah di Sleman pada 2023.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online