Pedagang Pasar Jogja Tertekan, Disdag Siapkan Sejumlah Strategi

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Rabu, 30 September 2026 19:57 WIB
Pedagang Pasar Jogja Tertekan, Disdag Siapkan Sejumlah Strategi

Pedagang beraktivitas di Pasar Beringharjo, Kamis (12/10/2023). Harga beras yang tak kunjung menurun membuat pedagang mengeluh lantaran untung dan pembeli yang berkurang. - Harian Jogja/Yosef Leon

Harianjogja.com, JOGJA— Pedagang pasar tradisional di Kota Jogja menghadapi tantangan dari melemahnya daya beli masyarakat hingga semakin beragamnya pilihan tempat berbelanja. Persaingan juga datang dari aktivitas perdagangan di luar pasar, termasuk pedagang ayam di pinggir jalan dan pedagang keliling yang menawarkan dagangan langsung ke permukiman warga.

Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Jogja Veronica Ambar mengatakan kondisi daya beli masyarakat memang menjadi salah satu persoalan yang memengaruhi aktivitas perdagangan di pasar.

“Kalau orang bicara daya beli masyarakat, iya pasti daya belinya memang agak turun,” katanya, Rabu (30/9/2026).

Menurut Veronica, aktivitas perdagangan di luar pasar juga memberikan dampak terhadap pedagang yang selama ini mengandalkan pasar sebagai lokasi berjualan. Salah satunya adalah pedagang ayam yang berjualan di pinggir jalan serta pedagang menggunakan sepeda motor yang berkeliling menawarkan dagangan hingga ke kampung-kampung.

“Beberapa hal juga memberikan dampak, misalnya pedagang ayam di pinggir jalan, kemudian pedagang yang pakai motor yang keliling di kampung kota. Itu juga berdampak pada pasar,” ujarnya.

Disdag Cari Pola Lindungi Pedagang Pasar

Veronica mengatakan hingga kini belum ada regulasi khusus yang mengatur aktivitas perdagangan tersebut. Karena itu, Disdag masih mempertimbangkan pembahasan bersama pihak terkait untuk mencari pola yang dapat memberikan perlindungan kepada pedagang pasar.

“Kami ingin juga mendiskusikan beberapa seperti ini untuk kemudian memberikan perlindungan kepada pedagang yang ada di pasar. Tetapi memang kita masih menunggu regulasi yang tepat untuk bagaimana cara mengendalikan ini,” katanya.

Tekanan terhadap aktivitas perdagangan juga terlihat dari kondisi sejumlah pasar yang belum seluruhnya ramai. Dari 29 pasar yang dikelola Pemkot Jogja, tingkat aktivitas perdagangan di setiap pasar tidak sama.

Salah satunya Pasar Sentul yang masih menghadapi tantangan untuk menarik pelaku usaha kuliner maupun konsumen. Sejumlah lapak bahkan mulai ditinggalkan karena tingkat penjualan dinilai belum sesuai harapan.

Disdag telah melakukan berbagai upaya untuk menghidupkan kembali aktivitas perdagangan di pasar. Langkah tersebut antara lain menggelar event, menggandeng komunitas, hingga membuka kesempatan bagi pelaku usaha kuliner untuk masuk dan berjualan di pasar.

Namun, Veronica menilai promosi saja belum cukup untuk mengatasi persoalan tersebut. Pedagang juga perlu melakukan inovasi agar produk yang dijual mampu menarik minat konsumen.

“Jualan itu bukan hanya dari promosi, tetapi juga produknya. Apakah produknya mereka menjual atau tidak? Produknya menarik atau tidak? Ini juga menjadi PR,” ujarnya.

Event hingga Keringanan Retribusi

Berbagai kegiatan di kawasan pasar terus didorong untuk menciptakan keramaian. Disdag berharap peningkatan jumlah pengunjung tersebut dapat berlanjut menjadi transaksi bagi pedagang.

Sejumlah event telah digelar di beberapa pasar, di antaranya Pasar Terban, Pasar Ngasem hingga Pasar Sentul.

“Semoga dengan crowd ini bisa mendorong masyarakat untuk berbelanja ke pasar,” katanya.

Selain kegiatan untuk menarik pengunjung, Disdag memberikan keringanan retribusi sebagai salah satu upaya mendorong pelaku UMKM mengisi lapak yang masih kosong. Kebijakan tersebut antara lain diterapkan di Pasar Sentul dan Pasar Terban.

Disdag juga melakukan kurasi untuk mencari pelaku usaha yang bersedia masuk ke pasar. Dalam kurasi tahap kedua di Pasar Terban, sebanyak enam pelaku usaha akhirnya masuk, meskipun jumlah tersebut masih berada di bawah target.

Veronica mengatakan pemerintah tidak dapat menjamin pelaku usaha yang masuk ke pasar akan langsung memperoleh omzet tinggi. Namun, pemerintah berupaya menyediakan tempat sekaligus memberikan kemudahan agar pelaku usaha memiliki kesempatan untuk mengembangkan usahanya.

Hampir 12.500 Pedagang Berjualan di Pasar Jogja

Di tengah berbagai tantangan tersebut, jumlah pedagang di seluruh pasar Kota Jogja saat ini tercatat hampir 12.500 orang. Jumlah itu relatif stabil karena pedagang yang keluar masih diimbangi dengan adanya permohonan dari pelaku usaha baru.

Ke depan, Disdag juga membuka kemungkinan menyediakan ruang untuk kegiatan live selling di pasar. Wacana tersebut masih dalam tahap pembahasan karena adanya keterbatasan ruang.

Meski demikian, live selling dinilai dapat menjadi salah satu alternatif bagi pedagang untuk memperluas pemasaran dan menjangkau konsumen melalui kanal digital.

Di tengah tekanan terhadap aktivitas perdagangan, Disdag menyatakan upaya menghidupkan pasar akan dilakukan secara bertahap. Strategi tersebut mencakup promosi, penyelenggaraan event, kemudahan retribusi, kurasi pelaku usaha, serta pengembangan inovasi pemasaran.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online