Irwandi Jadi Dosen Pertama ISI Jogja Raih Guru Besar Lewat Jalur Karya Seni

Yosef Leon
Yosef Leon Senin, 05 Oktober 2026 22:47 WIB
Irwandi Jadi Dosen Pertama ISI Jogja Raih Guru Besar Lewat Jalur Karya Seni

Rektor ISI Jogja, Irwandi saat menyampaikan pidatonya dalam pengukuhan Guru Besar di kampus ISI Jogja, Senin (5/10/2026)./Harian Jogja-Yosef Leon

Harianjogja.com, BANTUL—Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja, Prof. Dr. Irwandi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam kepakaran Ilmu Fotografi, Senin (5/10/2026). Pengukuhan tersebut menjadi catatan tersendiri karena Irwandi merupakan dosen pertama di ISI Jogja yang menapaki jabatan akademik Guru Besar melalui jalur karya seni.

Pengukuhan Irwandi berlangsung dalam Sidang Senat Terbuka di Concert Hall ISI Jogja. Pengangkatannya sebagai profesor berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Nomor 18309/M/KPT.KP/2026, terhitung sejak 1 Agustus 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Irwandi menyampaikan pidato pengukuhan berjudul “Praktik Sintesis Fotografi: Cyanogram sebagai Dialek dan Modus Retoris untuk Kritik Kemanusiaan”.

Perjalanan akademik sekaligus artistik Irwandi banyak bertumpu pada eksplorasi fotografi cetak tua. Sejak 2003, ketika fotografi analog mulai berhadapan dengan percepatan perkembangan teknologi digital, ia justru mempelajari kembali berbagai proses fotografi yang berkembang pada abad ke-19.

Beberapa teknik yang dipelajarinya antara lain cyanotype, salt print, Van Dyke brown print, albumen print, printing-out paper, dan gum bichromate.

Fotografi Cetak Tua Jadi Bagian Pendidikan

Pengetahuan mengenai berbagai teknik fotografi cetak tua tersebut kemudian turut mendorong bidang tersebut masuk sebagai mata kuliah wajib di Jurusan Fotografi ISI Jogja.

Selain melalui lingkungan akademik, Irwandi juga memperkenalkan fotografi cetak tua kepada publik. Upaya tersebut dilakukan melalui tulisan di media massa serta berbagai pameran yang digelar di tingkat nasional maupun internasional.

Perkembangan praktik artistiknya kemudian berlanjut pada pengembangan cyanogram. Irwandi mulai mengembangkan cyanogram pada 2016 sebagai istilah untuk menyebut sintesis cyanotype dan photogram.

"Kemudian pada 2016, saya mengembangkan cyanogram, istilah yang digunakan untuk menyebut sintesis cyanotype dan photogram. Dalam praktik tersebut, tubuh manusia, pose, benda, warna, material, hingga proses cetak tidak hanya digunakan untuk menghasilkan efek visual, tetapi juga membangun makna," jelasnya.

Sejumlah karya menjadi bagian dari perjalanan artistik tersebut. Di antaranya Selfitasi (2016), Our Final Pose (2019), hingga Bleeding Mind: Cost of Automation yang ditampilkan dalam Rome International Art Fair 2025 di Italia.

Melalui cyanogram, Irwandi tidak hanya menempatkan fotografi sebagai teknik untuk menghasilkan gambar. Praktik tersebut digunakan untuk membangun bahasa visual yang dapat menyampaikan gagasan dan argumen.

"Melalui cyanogram, saya menempatkan fotografi sebagai bahasa visual yang dapat digunakan untuk menyusun gagasan dan argumen. Teknik tidak lagi ditempatkan sebagai tujuan akhir, tetapi sebagai sumber daya visual untuk membangun makna," ungkapnya.

Fotografi dan Kritik di Era Kecerdasan Artifisial

Salah satu karya yang menunjukkan pendekatan tersebut adalah Bleeding Mind: Cost of Automation. Karya itu menghadirkan figur manusia dengan kepala dan leher yang diberi penanda luka berwarna merah.

Karya tersebut digunakan untuk membicarakan ancaman terhadap kemampuan berpikir ketika manusia menyerahkan terlalu banyak fungsi kepada otomasi kecerdasan artifisial.

Melalui pendekatan tersebut, perjalanan Irwandi dalam fotografi tidak berhenti pada eksplorasi perkembangan teknik cetak. Fotografi juga menjadi medium untuk membawa berbagai persoalan ke dalam perbincangan yang lebih luas.

Persoalan tersebut mencakup tubuh, kesadaran, teknologi, agensi, hingga tanggung jawab manusia di tengah perkembangan era kecerdasan artifisial.

Pengukuhan sebagai Guru Besar dalam kepakaran Ilmu Fotografi sekaligus menjadi bagian dari perjalanan akademik dan artistik Irwandi di ISI Jogja. Jalur karya seni yang ditempuhnya menandai pencapaian tersendiri karena ia menjadi dosen pertama di kampus tersebut yang menapaki jabatan akademik Guru Besar melalui jalur karya seni.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online