Dinkes Bantul Catat 11.883 Kasus ISPA Tertinggi pada April

Yosef Leon
Yosef Leon Kamis, 08 Oktober 2026 08:17 WIB
Dinkes Bantul Catat 11.883 Kasus ISPA Tertinggi pada April

Ilustrasi ISPA - FReepik

Harianjogja.com, BANTUL—Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kabupaten Bantul masih tercatat tinggi sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul, jumlah kasus sempat mencapai titik tertinggi pada April sebelum mengalami penurunan pada Juli dan Agustus.

Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Dinkes Bantul, Samsu Aryanto mengatakan kasus ISPA pada Januari tercatat sebanyak 11.506 kasus. Jumlah tersebut meningkat pada Februari menjadi 11.824 kasus.

Pada Maret, kasus ISPA turun sedikit menjadi 11.622 kasus. Namun, jumlahnya kembali meningkat pada April hingga mencapai 11.883 kasus, sekaligus menjadi angka tertinggi selama periode Januari hingga Agustus 2026.

Kasus ISPA Bantul menurun sejak Mei

Setelah mencapai angka tertinggi pada April, kasus ISPA di Bantul menunjukkan kecenderungan menurun dalam beberapa bulan berikutnya.

“Mei tercatat 11.147 kasus, Juni 10.466 kasus, Juli 8.382 kasus, dan Agustus 9.465 kasus,” kata Samsu, Rabu (7/10/2026).

Data tersebut menunjukkan jumlah kasus pada Juli menjadi yang terendah selama periode Januari hingga Agustus. Meski kembali meningkat pada Agustus, angkanya masih berada di bawah kasus pada sebagian besar bulan awal tahun.

Dinkes Bantul tetap melakukan berbagai upaya penanggulangan untuk menekan penularan ISPA. Pemantauan kasus dilakukan melalui fasilitas pelayanan kesehatan, disertai penguatan edukasi kepada masyarakat mengenai perilaku hidup bersih dan sehat.

Masyarakat juga didorong segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala ISPA, khususnya ketika keluhan tidak kunjung membaik.

Warga diminta jaga daya tahan tubuh

Samsu mengingatkan masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh dengan menerapkan pola hidup sehat. Asupan makanan bergizi dan waktu istirahat yang cukup juga menjadi bagian dari upaya menjaga kondisi tubuh.

"Masyarakat juga kami minta menjaga daya tahan tubuh dengan menerapkan pola hidup sehat, mengonsumsi makanan bergizi dan cukup istirahat. Kebersihan lingkungan serta sirkulasi udara di dalam rumah juga perlu diperhatikan," katanya.

Masyarakat juga diminta menghindari paparan asap rokok, debu, dan polusi udara. Penggunaan masker dapat dilakukan ketika berada di lingkungan berdebu atau saat kondisi udara kurang baik, terutama pada musim kemarau seperti sekarang.

Samsu meminta masyarakat tidak mengabaikan sejumlah gejala ISPA, seperti batuk, pilek, sakit tenggorokan, demam, maupun sesak napas.

Apabila gejala semakin berat, masyarakat dianjurkan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Upaya tersebut diharapkan dapat membantu menekan penambahan kasus sekaligus mencegah penularan ISPA.

Pencegahan terutama penting bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, dan orang dengan daya tahan tubuh rendah.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online