ISPA di DIY Naik Jadi 13.677 Kasus, Warga Diminta Waspadai Cuaca Panas

Anisatul Umah
Anisatul Umah Rabu, 07 Oktober 2026 16:37 WIB
ISPA di DIY Naik Jadi 13.677 Kasus, Warga Diminta Waspadai Cuaca Panas

Ilustrasi, Dokter memeriksa anak yang mengalami gejala ISPA di Puskesmas Sukarami, Palembang, Sumatra Selatan, Selasa (15/9/2026)./Antara-Nova Wahyudi/kye

Harianjogja.com, JOGJA— Cuaca panas dan kering mulai berdampak pada kesehatan masyarakat di DIY. Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY mencatat kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) mencapai 13.677 kasus pada minggu ke-38, atau bertambah 1.059 kasus dibandingkan pekan sebelumnya.

Kepala Dinkes DIY, Gregorius Anung Trihadi, mengatakan peningkatan kasus ISPA tersebut perlu menjadi perhatian masyarakat. Selain penyakit saluran pernapasan, penyakit saluran pencernaan juga perlu diwaspadai ketika cuaca panas dan kering.

“Iya, terjadi peningkatan kasus ISPA di DIY,” ujarnya, Rabu (7/10/2026).

Menurut Anung, masyarakat juga perlu memastikan kebutuhan cairan tubuh tetap terpenuhi selama kondisi cuaca panas. Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah ISPA yakni menggunakan masker ketika berada di tempat umum.

Masyarakat juga diminta menjaga jarak dari orang yang sedang mengalami flu atau batuk serta menghindari paparan asap dan debu secara langsung.

“Perbanyak asupan vitamin C untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan perbanyak minum air putih agar tidak dehidrasi,” paparnya.

Heatstroke Belum Ditemukan, Pekerja Lapangan Berisiko

Di tengah kondisi panas tersebut, Dinkes DIY juga mengantisipasi potensi heatstroke atau sengatan panas. Anung mengatakan hingga saat ini belum ada laporan kasus heatstroke di DIY.

Meski demikian, upaya pencegahan tetap perlu dilakukan, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan. Warga disarankan tidak terlalu lama berada di bawah sinar matahari langsung, memperbanyak minum air agar tetap terhidrasi, serta mengenakan pakaian longgar dan berwarna terang.

Jika mulai merasa pusing atau lemas, masyarakat diminta segera mencari tempat yang lebih sejuk.

Anung mengatakan beberapa gejala heatstroke yang perlu dikenali antara lain kulit terasa panas, pusing, mual hingga kehilangan kesadaran.

“Belum ada kasus [heatstroke], namun kelompok pekerja yang terkena langsung paparan sinar matahari dalam waktu yang lama berisiko tinggi terkena heatstroke, misalnya pekerja bangunan (perumahan, jalan), petani, dan lainnya,” ujarnya.

Dinkes Perkuat Kesiapan Fasilitas Kesehatan

Dinkes DIY melakukan sejumlah langkah untuk mengantisipasi potensi peningkatan penyakit selama musim kemarau. Upaya tersebut antara lain memberikan edukasi kepada masyarakat agar tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

Masyarakat juga diimbau menggunakan masker dan alat pelindung panas ketika bepergian, mengonsumsi makanan bergizi, mencukupi kebutuhan air putih, serta segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan.

“Meningkatkan kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan dalam mengantisipasi kenaikan kasus ISPA,” jelasnya.

Kekeringan DIY Berlanjut hingga November

Peningkatan risiko kesehatan tersebut terjadi ketika DIY masih menghadapi kondisi kekeringan. Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY memperpanjang status siaga darurat kekeringan hingga akhir November 2026.

Kepala Pelaksana BPBD DIY, Agustinus Ruruh Haryata, mengingatkan masyarakat agar turut mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan selama kondisi kering masih berlangsung.

Menurutnya, kebakaran dapat dipicu hal-hal kecil seperti membuang puntung rokok, membakar sampah, membakar lahan, maupun membakar daun kering tanpa pengawasan.

Sejumlah wilayah juga masih rawan mengalami kekeringan. Di Kabupaten Gunungkidul, wilayah yang disebut rawan antara lain Tepus, Rongkop, dan terbaru Gedang Sari. Sementara di Kabupaten Bantul terdapat Geger Pundong, sedangkan di Kulonprogo terdapat Girimulyo.

Terkait potensi hujan, Ruruh mengatakan beberapa wilayah diperkirakan mulai mendapatkan hujan pada pertengahan November, meski intensitasnya masih sedikit. Hujan lainnya diperkirakan muncul pada akhir November hingga awal Desember.

“[prakiraan hujan] ada yang di pertengahan November, tapi itu masih sedikit-sedikit. Ada yang di akhir akhir November, ada yang di awal Desember. Jadi itu kira-kira di akhir November sama Desember awal itu mungkin,” jelasnya. 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online