Kasus Diare Sleman Naik, DPRD Minta Dinkes Uji Kualitas Air

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Kamis, 08 Oktober 2026 15:37 WIB
Kasus Diare Sleman Naik, DPRD Minta Dinkes Uji Kualitas Air

Gedung DPRD Sleman./Youtube

Harianjogja.com, SLEMAN—DPRD Sleman meminta Dinas Kesehatan (Dinkes) menelusuri penyebab kenaikan kasus diare yang mencapai 1.337 kasus pada September 2026. Pengujian kualitas air di wilayah yang terdampak kekeringan dinilai perlu dilakukan untuk mengetahui kemungkinan kaitannya dengan peningkatan kasus tersebut.

Ketua Komisi D DPRD Sleman, M. Arif Priyosusanto, mengatakan investigasi diperlukan agar penyebab kenaikan kasus diare tidak hanya diduga, tetapi dapat diketahui berdasarkan pemeriksaan di lapangan.

Menurut dia, kekeringan yang terjadi saat ini membuat ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah Sleman berkurang. Kondisi tersebut perlu diperhatikan karena kualitas dan ketersediaan air berkaitan dengan penerapan pola hidup bersih dan sehat.

“Untuk peningkatan kasus diare, perlu investigasi dari Dinkes, penyebabnya, karena dampak kekeringan saat ini menimbulkan penurunan jumlah air bersih di seluruh Kabupaten Sleman,” kata Arif kepada Harianjogja.com, Kamis (8/10/2026).

Arif meminta pemeriksaan tidak hanya dilakukan berdasarkan data kasus dari fasilitas pelayanan kesehatan. Dinkes, menurut dia, juga perlu mengecek kondisi sumber air yang digunakan masyarakat.

Ia mengusulkan pengujian kualitas air dilakukan di masing-masing wilayah melalui puskesmas. Hasil pemeriksaan tersebut dapat menjadi dasar untuk melihat apakah terdapat persoalan pada sumber air yang digunakan warga.

“Maka perlu dilakukan uji air bersih di masing-masing wilayah melalui puskesmas,” ujarnya.

Jangan Hanya Fokus pada Air

Arif mengatakan upaya pencegahan diare juga perlu dibarengi dengan peningkatan kesadaran masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

Dia menilai diare tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan atau kualitas air. Kondisi lingkungan dan kebiasaan masyarakat dalam menjaga kebersihan juga perlu diperhatikan.

“Untuk peningkatan kesadaran masyarakat untuk hidup bersih dan sehat juga menjadi penting, karena diare juga bisa disebabkan lingkungan yang kurang bersih,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Sleman, Raditya Kusuma Tejamurti, mengatakan pihaknya mencatat 1.337 kasus diare pada September 2026.

Jumlah tersebut meningkat 167 kasus atau sekitar 14,3% dibandingkan dengan 1.170 kasus pada Agustus 2026.

Raditya sebelumnya mengatakan kasus diare cenderung meningkat pada musim kemarau. Salah satu hal yang perlu diwaspadai adalah berkurangnya ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah.

Kemarau juga berpotensi memengaruhi kualitas sumber air. Namun, hubungan antara kenaikan kasus diare dan kondisi air perlu dilihat berdasarkan pemeriksaan lebih lanjut.

Di sejumlah wilayah Sleman, dampak kekeringan memang telah membuat warga mengalami keterbatasan air. PMI Sleman, misalnya, pada 30 September 2026 menyalurkan 20.000 liter air bersih ke sejumlah titik di Moyudan dan Seyegan.

Dengan kondisi tersebut, usulan DPRD untuk melakukan uji kualitas air dapat menjadi salah satu langkah untuk memastikan apakah persoalan sumber air turut berkaitan dengan peningkatan kasus diare pada September.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online