BMKG Prediksi Musim Hujan di Jogja Mundur hingga Tiga Dasarian, Kekeringan Level Awas

Sunartono
Sunartono Sabtu, 10 Oktober 2026 14:47 WIB
BMKG Prediksi Musim Hujan di Jogja Mundur hingga Tiga Dasarian, Kekeringan Level Awas

Foto ilustrasi kekeringan. - Magnific

Harianjogja.com, JOGJA—Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi kekeringan meteorologis di seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Dasarian II Oktober 2026. Di sisi lain, awal musim hujan 2026/2027 diprediksi mundur hingga lebih dari tiga dasarian dibandingkan rata-rata normal periode 1991–2020.

Pembaruan iklim yang dikeluarkan Stasiun Klimatologi Kelas II D.I. Yogyakarta per 10 Oktober 2026 menunjukkan kondisi atmosfer dan laut masih memengaruhi pola hujan di wilayah tersebut.

Kepala Stasiun Klimatologi D.I. Yogyakarta, Mamenun mengatakan wilayah selatan ekuator saat ini dipengaruhi Monsun Australia yang aktif. Selain itu, fenomena El Nino Southern Oscillation (ENSO) dan Dipole Mode Index (DMI) positif berpeluang bertahan hingga awal 2027.

Kondisi tersebut berdampak pada mundurnya perkiraan awal musim hujan di seluruh wilayah DIY. Masyarakat pun diminta tetap waspada terhadap potensi kekeringan selama hujan belum merata.

"Seluruh wilayah D.I. Yogyakarta diprediksi mengalami awal musim hujan yang mundur hingga tiga dasarian dari normalnya. Selain itu, status Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis pada Dasarian II Oktober 2026 berada dalam status Awas di seluruh wilayah DIY," ujar Mamenun melalui siaran pers resmi, Sabtu (10/10/2026).

Curah Hujan Diprediksi Rendah hingga Awal November

BMKG memprediksi curah hujan pada Dasarian II dan III Oktober serta Dasarian I November 2026 berada dalam kategori rendah. Sifat hujan pada periode tersebut juga diperkirakan berada pada kategori bawah normal.

Kondisi ini menunjukkan masyarakat masih perlu mengantisipasi terbatasnya curah hujan dalam beberapa dasarian mendatang. Terlebih, status peringatan dini kekeringan meteorologis di seluruh wilayah DIY telah berada pada level awas untuk Dasarian II Oktober 2026.

BMKG juga memperkirakan durasi musim hujan 2026/2027 lebih pendek, yakni berkisar 13 hingga 18 dasarian. Sementara itu, puncak musim hujan di DIY diprediksi baru terjadi pada Februari hingga Maret 2027.

Perkiraan tersebut menjadi perhatian bagi pemerintah daerah dan masyarakat dalam menyiapkan langkah antisipasi terhadap dampak perubahan kondisi cuaca. Kewaspadaan diperlukan untuk menghadapi potensi kekeringan sekaligus risiko cuaca ekstrem selama masa peralihan musim.

Warga Diminta Waspada Kekeringan dan Cuaca Ekstrem

Selain kekeringan, masyarakat juga diminta mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan serta cuaca ekstrem pada masa peralihan musim.

Langkah mitigasi yang dapat dilakukan antara lain membersihkan saluran air agar tidak tersumbat, memangkas dahan pohon yang berisiko tumbang, serta memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari sumber resmi secara berkala.

Pemerintah daerah juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak kondisi iklim tersebut. Upaya antisipasi diharapkan dapat membantu mengurangi risiko yang mungkin timbul selama periode kekeringan dan peralihan menuju musim hujan.

Dengan awal musim hujan yang diprediksi mundur dan status kekeringan meteorologis berada pada level awas, masyarakat DIY diimbau tidak mengabaikan perkembangan informasi cuaca. Pemantauan berkala dan kesiapan melakukan mitigasi menjadi langkah penting dalam menghadapi kondisi iklim beberapa bulan ke depan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online