UGM Gandeng Foodbank of Indonesia, Ajak Pemuda Berinovasi soal Pangan

Newswire
Newswire Jum'at, 30 Oktober 2026 21:27 WIB
UGM Gandeng Foodbank of Indonesia, Ajak Pemuda Berinovasi soal Pangan

Para narasumber dalam kegiatan Rembug Pangan Orang Muda (RPOM) Summit 2026 di Fakultas Teknologi Pertanian (FPT) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Jumat (30/10/2026)./Antara-Hery Sidik\r\n

Harianjogja.com, JOGJA—Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Foodbank of Indonesia (FOI) mengumpulkan 47 pemuda dari berbagai daerah di Indonesia dalam forum Rembug Pangan Orang Muda (RPOM) Summit 2026. Kegiatan yang berlangsung pada 30 Oktober hingga 1 November 2026 tersebut bertujuan mendorong generasi muda menciptakan inovasi untuk menjaga ketersediaan pangan dan mengembangkan potensi pangan lokal.

Para peserta berasal dari sejumlah wilayah, mulai dari Nusa Tenggara Timur (NTT), Pulau Rote, Sulawesi, Sumatera, hingga daerah lainnya di Indonesia. Mereka akan mengikuti pembekalan, berdialog dengan pakar, serta terjun langsung melihat aktivitas pertanian dan pengolahan pangan lokal.

Founder Foodbank of Indonesia (FOI), Muhammad Hendro Utomo, mengatakan RPOM Summit 2026 menjadi pertemuan puncak para pemimpin muda dari berbagai daerah. Penyelenggaraannya sengaja bertepatan dengan momentum Sumpah Pemuda untuk memperkuat semangat persatuan generasi muda dalam mewujudkan Indonesia tanpa kelaparan.

"Dan ini sengaja diambil bertepatan momentum Sumpah Pemuda, karena untuk menyimpulkan bahwa orang muda bersatu untuk memerdekakan Indonesia dalam arti tidak ada kelaparan, jadi merdeka 100 persen," kata dia usai membuka forum.

47 Pemuda Diajak Belajar Langsung ke Kawasan Pertanian Gunungkidul
Selama kegiatan berlangsung, para peserta tidak hanya mendapatkan materi pembekalan dan berdiskusi di dalam forum. Mereka juga dijadwalkan mengunjungi kawasan pertanian di Semanu, Gunungkidul, untuk melihat secara langsung aktivitas petani dan persoalan yang dihadapi dalam pengelolaan pangan.

Hendro menjelaskan peserta akan tinggal di rumah petani dan mengikuti kegiatan di ladang. Setelah itu, mereka berdialog untuk mengidentifikasi berbagai persoalan pertanian sekaligus merumuskan solusi yang dapat diterapkan oleh generasi muda.

"Rencana ke daerah pertanian Semanu Gunungkidul, mereka tinggal di rumah petani, kemudian ke ladang, setelah itu kita dialog lagi, merumuskan apa persoalannya dan bagaimana solusi-solusinya yang tepat bagi anak muda," katanya.

Pendekatan tersebut diharapkan memberikan pengalaman langsung kepada peserta mengenai tantangan pengembangan pangan di daerah. Mereka juga dapat bertukar pengetahuan dan pengalaman dengan peserta lain yang berasal dari latar belakang wilayah berbeda.

Peserta Ditantang Mengembangkan Bisnis Pangan Lokal
Tidak berhenti pada diskusi dan kunjungan lapangan, RPOM Summit 2026 juga akan diisi simulasi bisnis. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mengembangkan strategi penjualan produk pangan lokal.

Dalam simulasi tersebut, setiap kelompok akan menghadapi tantangan menjual produk pangan lokal sebanyak mungkin dengan biaya yang efisien. Kelompok yang mampu mencapai hasil penjualan paling banyak dengan efisiensi biaya akan dinilai memiliki inovasi dan kreativitas paling unggul.

"Dan harapannya setelah kembali ke daerah masing-masing mereka punya inovasi, punya kreativitas, punya pertukaran pengalaman. Dan pertukaran masalah, serta bagaimana solusinya, kira-kira itu harapannya," katanya.

Hendro berharap pengalaman selama mengikuti forum dapat dibawa pulang dan dikembangkan di daerah masing-masing. Dengan begitu, pertemuan pemuda dari berbagai wilayah tersebut tidak hanya menghasilkan gagasan, tetapi juga membuka peluang pertukaran inovasi dan solusi persoalan pangan.

UGM Dorong Pemuda Tingkatkan Nilai Tambah Pangan Lokal
Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Eni Harmayani, menekankan pentingnya perubahan peran generasi muda dalam pengembangan pangan lokal. Menurutnya, anak muda tidak cukup hanya menjadi konsumen, tetapi perlu mengambil peran sebagai pencipta nilai tambah produk pangan.

Dia juga mendorong generasi muda menjadi community builder atau penggerak komunitas yang mampu mengintegrasikan potensi pangan lokal. Upaya tersebut diharapkan dapat berkontribusi terhadap kebangkitan pangan nasional.

"Jadi dari konsumen menjadi pencipta peningkatan nilai tambah untuk pangan lokal. Kemudian juga bisa sebagai 'community builder' untuk mengintegrasikan pangan lokal ini menjadi kebangkitan pangan nasional," katanya.

Eni menjelaskan pengembangan pangan lokal perlu dilihat lebih luas melalui pendekatan gastronomi Indonesia. Dalam perspektif tersebut, makanan bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan juga memiliki nilai budaya, sejarah, filosofi, serta menjadi identitas suatu daerah maupun bangsa.

"Oleh karena itu, dengan mengintegrasikan gastronomi itu bisa mengintegrasikan pertanian, pangan, kesehatan, budaya, nilai ekonomi atau kreativitas dan inovasi, serta identitas," katanya.

Gastronomi Jadi Peluang Pengembangan Ekonomi Pangan
Menurut Eni, pendekatan gastronomi dapat menjadi salah satu cara untuk mendorong lahirnya inovasi pangan yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Generasi muda diharapkan tidak hanya berfokus pada kegiatan produksi, tetapi juga mampu mengembangkan produk melalui ekosistem gastronomi yang terintegrasi.

Dengan pendekatan tersebut, potensi pangan lokal dapat dikembangkan dengan memperhatikan berbagai aspek, mulai dari pertanian, kesehatan, budaya, hingga kreativitas dan inovasi.

"Karena tentunya itu mempunyai nilai tambah yang lebih tinggi, dibandingkan hanya produksi sebagai komoditas saja," katanya.

Melalui RPOM Summit 2026, UGM dan Foodbank of Indonesia berharap generasi muda dari berbagai daerah mampu mengambil peran lebih besar dalam pengembangan pangan lokal. Pertukaran pengalaman, pembelajaran langsung bersama petani, serta simulasi bisnis menjadi bagian dari upaya membangun inovasi pangan yang dapat dikembangkan setelah peserta kembali ke daerah masing-masing.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online