PETERNAKAN GUNUNGKIDUL : Waspadai Ternak yang Mati Mendadak

David Kurniawan
David Kurniawan Kamis, 19 Januari 2017 14:20 WIB
PETERNAKAN GUNUNGKIDUL : Waspadai Ternak yang Mati Mendadak

Salah seorang petani di Desa Dadapayu, Kecamatan Semanu sedang membajak ladang dengan menggunakan sapi. (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja)

Peternakan Gunungkidul mendapat perhatian menyusul ditemukannya kasus dugaan antraks di Kulonprogo

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul meminta masyarakat untuk mewaspadai hewan ternak yang mati secara misterius. Imbauan ini bertujuan untuk mencegah penyebaran penyakit antrax, seperti yang terjadi di Kecamatan Girimulyo, Kulonprogo.

Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Suseno Budi mengatakan, penyebaran antrax harus benar-benar diwaspadai. Pasalnya penyakit yang menyerang hewan ternak seperti sapi dan kambing ini bisa menular ke manusia.

Untuk itu, ia meminta kepada masyarakat terus waspada, meksi di wilayah Gunungkidul belum pernah terjadi kasus tersebut.

“Harus terus waspada, apalagi di Kulonprogo sudah ada indikasi penyebaran penyakit itu,” kata Seno kepada wartawan, Rabu (18/1/2017).

Dia menjelaskan, untuk pencegahan bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan di sekitar kandang. Selain itu, Seno juga meminta kepada masyarakat untuk melaporkan kejadian hewan mati secara misterius. Ini lantaran, peristiwa tersebut bisa menjadi satu indikasi serangan penyakit pada hewan.

“Harus diteliti terlebih dahulu guna memastikan penyebab kematian. Selain itu, kami juga tidak menyarankan mengkonsumsi hewan yang mati mendadak dan lebih baik dikuburkan saja demi keselamatan,” ujarnya.

Menurut dia, larangan untuk konsumsi hewan yang mati mendadak tidak lepas dari bahaya penyakit yang ditimbulkan. Terlebih lagi, kata Seno, proses penyembelihan sebelum dikonsumsi tidak menjamin bebas dari penyakit. Pasalnya pemotongan yang dilakukan malah bisa menjadi media penyebaran penyakit, khususnya antrax.

“Bakteri yang ada dalam darah hewan akan keluar saat disembelih dan bisa menyebar melalui tanah atau pun udara. Jadi kami sarankan, jika ada hewan yang mati lebih baik dikubur saja,” ungkapnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online