Pembukaan Cupu Panjala, Muncul 34 Gambar, Ada Semar hingga Pulau Sulawesi
Sebanyak 34 gambaran muncul saat Cupu Panjala dibuka di Gunungkidul. Simak rincian gambar dan pesan lurah serta Bupati Gunungkidul.
Kondisi raskin yang tidak layak konsumsi di Desa Kepek Wonosari Gunungkidul (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja)
Warga Desa Tancep, Kecamatan Ngawen menolak jatah beras sejahtera (rastra) dari Bulog
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL- Warga Desa Tancep, Kecamatan Ngawen menolak jatah beras sejahtera (rastra) dari Bulog. Penolakan dikarenakan kualitas beras dinilai tidak layak konsumsi. Bahkan penolakan tersebut disertai dengan pernyataan resmi dari pihak desa yang diberikan kepada Perum Bulog Divre DIY.
Kepala Desa Tancep Sunardi mengatakan, penolakan terhadap jatah rastra merupakan puncak dari kekesalan warga. Pasalnya dalam dua bulan terakhir jatah beras yang diberikan dinilai tidak layak konsumsi.
“Kualitasnya sangat buruk karena warnanya kecoklat-coklatan, berbau apek hingga berkutu,” kata Sunardi saat dihubungi wartawan, Senin (7/8/2017).
Menurut dia, dengan temuan tersebut, Pemerintah Desa Tancep pun mengambil sikap tegas dengan menolak distribusi rastra untuk bulan ini. Pengalaman pengiriman di Juli lalu menjadi pelajaran berharga karena beras bantuan tidak dikonsumsi karena langsung diolah warga mejadi karak.
“Pengiriman Bulan Juli kualitasnya juga tidak baik, namun warga masih memberikan toleransi karena takut bantuan akan dihentikan. Namun pengiriman itu [rastra kulaitas buruk] diulang lagi di bulan ini sehingga kami putuskan untuk menolak bantuan tersebut,” ujarnya.
Menurut dia, beras bantuan dari pemerintah tersebut sudah dikembalikan ke gudang Bulog. Diharapkan dengan penolakan tersebut, kasus yang sama tidak terulang kembali. “Mudah-mudahan ada beras pengganti dengan kualitas yang lebih baik,” katanya.
Dia mengungkapkan, di Desa Tancep ada 940 Kepala Keluarga penerima rastra. Itu artinya dalam sekali pengiriman ada sekitar 14 ton beras yang didistribusikan ke warga kurang mampu di desa tersebut. “Semua kami tolak dan dikembalikan ke Bulog,” ujarnya.
Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Ngawen, Sri Suryani mengatakan, ada tiga desa di Ngawen yang mendapatkan kiriman beras tidak layak konsumsi. Tiga desa tersebut meliput Tancep, Sambirejo, Jurangjero. “Semua sudah dikembalikan dan Bulog berjanji mengganti dengan yang lebih baik,” katanya.
Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat, Sekretariat Daerah Gunungkidul Bambang Sukemi mengatakan, pengiriman rastra dengan kualitas kurang baik di Gunungkidul beberapa kali terjadi. Namun hal tersebut bukan kewenangan dari pemkab karena hal tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab Pemerintah Pusat. “Kita hanya melakukan koordinasi saja,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 34 gambaran muncul saat Cupu Panjala dibuka di Gunungkidul. Simak rincian gambar dan pesan lurah serta Bupati Gunungkidul.
Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto meminta polisi mengedepankan pendekatan humanis saat mengawal demo 28 Oktober 2026.
KAI Daop 6 mengimbau penumpang tiba lebih awal pada 28 Oktober 2026 untuk mengantisipasi kepadatan lalu lintas akibat aksi mahasiswa.
KPK memeriksa empat pegawai BNPB sebagai saksi kasus dugaan korupsi dana siap pakai. Penyidik sebelumnya menyita barang bukti senilai Rp5,47 miliar.
Antam mencatat penjualan emas 25.217 kg senilai Rp68,41 triliun hingga September 2026. Laba perusahaan tumbuh 46% menjadi Rp9,66 triliun.
Teddy Indra Wijaya menyebut 265 Sekolah Rakyat telah berdiri di 131 kabupaten/kota hingga Oktober 2026 untuk memperluas akses pendidikan.