Soal Perikanan Gunungkidul, Ini Kritikan Dewan

Jalu Rahman Dewantara
Jalu Rahman Dewantara Jum'at, 11 Mei 2018 18:20 WIB
Soal Perikanan Gunungkidul, Ini Kritikan Dewan

Nelayan melabuhkan kapalnya di Pantai Gesing, Girikarto, Panggang, Gunungkidul, DIY./Bisnis Indonesia-Rachman

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Gunungkidul mengkritisi bidang perikanan. Terbatasnya tenaga penyuluh di bidang perikanan menjadi salah satu perhatian, selain juga pemenuhan ikan untuk rumah makan seafood.

Anggota Komisi B DPRD Gunungkidul Tri Iwan Isbumaryani mengatakan perubahan sejumlah aturan status kepegawaian penyuluh menyebabkan menjadi PNS pusat sehingga daerah sulit untuk menambah tenaga penyuluh perikanan.

“Banyak penyuluh yang tua pensiun, sementara untuk pengangkatan lagi moratorium dari pusat lampu hijaunya dari sana. Salah satu solusinya mungkin dengan tenaga harian lepas (THL) namun terkadang juga terkendala, banyak bidang lain yang memerlukan, skala prioritas memang harus dilihat saksama,” katanya Jumat (11/5/2018).

Selain itu dia mengatakan untuk pemanfaatan potensi ikan yang ada sekarang masih kurang maksimal, karena saat ini untuk pemenuhan rumah makan seafood di Gunungkidul, masih mengambil dari luar daerah.

Dia mengatakan hal ini perlu perhatian dari Pemkab, karena kuliner menjadi salah satu pendukung wisata yang saat ini tengah gencar disosialisasikan ke masyarakat. “Pemenuhan ikan atau yang lainnya dari lautan perlu diperhatikan, sekarang wisata maju otomatis berpengaruh ke kulinernya. Seharusnya regenerasi nelayan diperhatikan, program pemerintah atau dinas terkait untuk mendukung nelayan harus ditingkatkan,” katanya.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, Gunungkidul Khairuddin mengatakan jumlah penyuluh yang ada saat ini menurutnya sudah cukup. “Saya rasa untuk jumlah penyuluh sudah memenuhi, selain itu kualitas SDM juga sudah cukup baik,” katanya.

Dengan 16 penyuluh diakuinya sudah cukup mampu mengemban beban tugas perikanan. Akan tetapi memang lebih baik jika dalam satu kecamatan ada satu penyuluh. Kondisi belum memenuhinya satu kecamatan satu penyuluh tersebut, dikarenakan masing-masing lokasi beda potensi ikannya.

Para penyuluh menurutnya Khairuddin juga mendapat pelatihan yang biasanya dilakukan di Tegal, Jawa Tengah, untuk peningkatan kualitas penyuluh sendiri. Sehingga nantinya para penyuluh dapat memberikan ilmunya dengan baik ke nelayan atau pembudidaya ikan.

Soal banyaknya rumah makan seafood di Gunungkidul yang sering kekurangan stok bahan ikan untuk masakannya, Khairuddin mengatakan hal tersebut dikarenakan banyaknya ikan tangkapan di Gunungkidul yang dibeli luar daerah.

“Kualitas ikan kami kan baik, jadi justru dijual keluar, nelayan atau pedagang ikan lebih untung. Biasanya dibeli di Jawa Timur, lalu diekspor. Memang sulit untuk mengatur itu, tetapi nanti coba kami komunikasikan agar bagaimana dapat memenuhi di Gunungkidul juga,” ucapnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Arief Junianto
Arief Junianto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online